JAKARTA, AKURATNEWS.co – Malam itu, langit Jakarta Barat dihiasi cahaya obor yang berderet seperti untaian doa.
Di kawasan Pondok Pesantren Assidiqiyah, ratusan orang, mulai santri, kader muda, hingga tokoh masyarakat berkumpul dalam keheningan yang khidmat.
Mereka bukan sekadar merayakan pergantian tahun dalam kalender Islam, tetapi menyalakan harapan baru dalam Pawai Obor Kemanusiaan 1 Muharram 1447 H.
Di tengah arus zaman yang serba cepat dan dunia yang kerap dipenuhi konflik, GP Ansor hadir dengan pesan yang sederhana namun kuat: muhasabah dan solidaritas.
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum H. Addin Jauharudin, GP Ansor mengajak umat untuk menjadikan Tahun Baru Islam bukan sekadar seremoni, tetapi momentum spiritual yang menggugah empati global.
“Tahun baru Islam adalah momen refleksi. Bukan hanya tentang apa yang telah kita capai, tetapi apa yang bisa kita perbaiki, untuk diri sendiri, dan untuk sesama manusia di mana pun berada,” ujar Addin saat berjalan bersama peserta pawai yang mencapai lebih dari 700 orang. Obor yang menyala di tangannya, menjadi simbol cahaya harapan.
Ia tak lupa menyerukan dukungan bagi perjuangan rakyat Palestina, yang hingga kini masih hidup dalam ketidakpastian dan penjajahan.
“Solidaritas kemanusiaan tidak boleh padam. Kita berdiri bersama Palestina, karena Islam adalah agama pembela keadilan,” tegas Addin disambut takbir dari para peserta.
Rangkaian acara yang digelar kolaboratif oleh PP MDS Rijalul Ansor dan komunitas sosial Teman Searah ini dimulai sejak sore hari.
Setelah doa akhir tahun dan dzikir bersama, para peserta larut dalam mujahadah, sebuah bentuk renungan batin yang kini terasa sangat relevan di tengah tantangan zaman yang makin kompleks.
“Pawai obor ini bukan sekadar simbolik. Ini adalah ekspresi dari kesadaran spiritual dan sosial yang perlu terus kita hidupkan,” tutur Gus Mahrus Iskandar, Ketua PP MDS Rijalul Ansor.
“Nilai-nilai ukhuwah, kepedulian, dan harapan harus kita bawa memasuki tahun baru ini—untuk Indonesia, dan dunia.” lanjutnya.
Salah satu momen paling menyentuh datang saat penyanyi dan aktivis sosial Inara Rusli naik ke atas panggung dan membacakan puisi karyanya yang berjudul “Untuk Kedamaian dan Kemerdekaan Palestina.”
Suaranya gemetar namun tegas, menyuarakan kepedihan dan harapan dalam satu tarikan napas.
“Di tanah yang jauh, darah jadi puisi, air mata jadi senjata sunyi.
Kami di sini tak bisa berperang, tapi kami bisa menyuarakan hak kalian.
Kami bisa menyalakan obor agar dunia tak lupa:
bahwa kemerdekaan bukan sekadar mimpi—ia adalah hak yang abadi…”
Peserta pawai terdiam sejenak sebelum akhirnya tepuk tangan pecah, mengiringi mata yang berkaca-kaca. Pesan itu mengena, diucapkan tidak dengan amarah, tapi kasih sayang dan harapan.
Jelang akhir acara, Addin kembali mengambil mikrofon. Kali ini, ia berbicara tentang semangat hijrah dalam Islam, bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah sikap dan semangat menuju kehidupan yang lebih beradab.
“Hijrah bukan hanya milik Nabi. Ia adalah ajakan bagi setiap kita untuk berubah meninggalkan kebencian, kemalasan, dan ketidakpedulian. Menjadi pribadi yang lebih bermakna bagi orang lain,” ujarnya.
Ia pun berharap obor yang dibawa malam itu tak hanya menyala di jalanan Pondok Pesantren Assidiqiyah, tetapi juga dalam hati setiap umat Muslim dan warga dunia. (NVR)
