NEW YORK, AKURATNEWS.co –Usai terpilih dalam pemilu 2025, politikus muda Partai Demokrat, Zohran Mamdani resmi dilantik sebagai Walikota New York, Amerika Serikat ((AS) pada 1 Januari 2026.

Pelantiikan ini menandai babak baru dalam sejarah politik kota terbesar di AS itu. Mamdani mencatatkan rekor sebagai walikota pertama New York yang mengucapkan sumpah jabatan menggunakan Al-Qur’an, sebuah simbol kuat atas keberagaman dan pluralisme kota tersebut.

Tim kampanye Mamdani, seperti dilaporkan Fox News, mengonfirmasi bahwa politisi berusia 34 tahun itu sengaja memilih menggunakan kitab suci umat Islam sebagai bagian dari prosesi pelantikannya. Langkah tersebut disebut sebagai keputusan personal sekaligus pesan politik tentang inklusivitas dan kebebasan beragama.

Upacara pelantikan diawali dengan prosesi tertutup pada tengah malam di Stasiun Balai Kota Lama, sebuah stasiun kereta bawah tanah bersejarah yang sudah tidak beroperasi. Prosesi ini dipimpin Jaksa Agung Negara Bagian New York, Letitia James.

Sementara itu, pelantikan terbuka untuk publik digelar di tangga Balai Kota New York pada Kamis siang dan dipimpin Senator Bernie Sanders, tokoh progresif yang selama ini dikenal dekat dengan agenda politik Mamdani.

Dalam prosesi sumpah jabatan, Mamdani menggunakan tiga mushaf Al-Qur’an, dua di antaranya merupakan milik keluarganya. Satu Al-Qur’an lainnya berasal dari koleksi Arturo Schomburg, penulis dan aktivis keturunan Puerto Rico yang dikenal sebagai tokoh penting dalam pendirian Schomburg Center for Research in Black Culture di Harlem.

Para sejarawan menilai penggunaan Al-Qur’an milik Schomburg mencerminkan hubungan historis antara Islam, komunitas kulit hitam, dan perjuangan hak-hak sipil di Amerika Serikat. Meski tidak ada catatan pasti bagaimana Schomburg memperoleh Al-Qur’an tersebut, artefak itu diyakini merepresentasikan minatnya pada sejarah global Afrika dan diaspora.

Menurut laporan TRT World, mushaf Al-Qur’an yang digunakan Mamdani memiliki desain sederhana, bersampul merah tua, dengan ornamen minimal dan tulisan tinta hitam-merah. Kesederhanaan ini dinilai menegaskan bahwa kitab tersebut dibuat untuk penggunaan sehari-hari, bukan sekadar simbol seremonial.

Usai pelantikan, Al-Qur’an tersebut dijadwalkan dipamerkan kepada publik di Perpustakaan Umum New York (New York Public Library).

Terpilihnya Mamdani tidak lepas dari kontroversi. Selama masa kampanye hingga jelang pelantikan, ia menghadapi gelombang retorika Islamofobia yang menguat di ruang publik. Beberapa tokoh konservatif mengkritik keputusannya menggunakan Al-Qur’an untuk sumpah jabatan.

Senator AS Tommy Tuberville dari Alabama, misalnya, menulis di media sosial, “Musuh ada di dalam gerbang,” merespons pemberitaan soal pelantikan Mamdani. Kritik semacam ini mengingatkan publik pada peristiwa tahun 2006, ketika Keith Ellison, muslim pertama di Kongres AS, juga mendapat kecaman serupa saat menggunakan Al-Qur’an untuk sumpah jabatan.

Namun, secara hukum, tidak ada aturan di AS yang mewajibkan penggunaan kitab suci tertentu dalam pengucapan sumpah. Bahkan sejumlah presiden AS, termasuk Theodore Roosevelt dan Donald Trump, diketahui tidak meletakkan tangan di atas Alkitab saat pelantikan.

Menanggapi kritik tersebut, Mamdani menegaskan tidak akan menyembunyikan identitas maupun keyakinannya.

“Saya tidak akan mengubah siapa saya atau keyakinan yang dengan bangga saya miliki. Saya akan menemukan diri saya dalam terang,” ujarnya dalam pidato emosional menjelang pemilihan.

Di luar simbolisme pelantikan, perhatian kini tertuju pada arah kebijakan Mamdani sebagai Wali Kota New York. Selama kampanye, ia dikenal sebagai tokoh progresif yang vokal dalam isu keadilan sosial, perumahan terjangkau, transportasi publik, serta penanggulangan diskriminasi dan Islamofobia.

Mamdani juga disebut akan meninjau ulang sejumlah kebijakan luar negeri simbolik kota New York, termasuk pendekatan pemerintah kota terhadap isu Palestina-Israel, serta memperkuat posisi New York sebagai kota suaka bagi imigran dan minoritas.

Dalam bidang ekonomi perkotaan, Mamdani diperkirakan mendorong:

  • Pengendalian biaya hidup, terutama sewa perumahan yang terus melonjak.
  • Investasi layanan publik, termasuk transportasi dan kesehatan komunitas.
  • Reformasi ketenagakerjaan kota, dengan fokus pada pekerja informal dan sektor jasa.
  • Pendekatan fiskal progresif, termasuk pajak yang lebih adil bagi kelompok berpenghasilan tinggi.

Pengamat menilai, tantangan terbesar Mamdani adalah menyeimbangkan agenda progresif tersebut dengan realitas fiskal New York yang kompleks, sekaligus menghadapi polarisasi politik di tingkat nasional.

Pelantikan Zohran Mamdani bukan sekadar pergantian kepemimpinan di Balaikota New York, melainkan juga penanda perubahan lanskap politik kota, di mana identitas, keyakinan, dan agenda progresif kini tampil lebih terbuka di pusat kekuasaan urban AS. (NVR)

By editor2