Oleh:
Neyla Julieta Manurung,
Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Adhyaksa
PERAYAAN Natal selalu menghadirkan ruang kontemplasi yang mendalam. Ia tidak semata menjadi peristiwa keagamaan, melainkan juga momentum reflektif atas panggilan hidup, tanggung jawab moral, serta arah pengabdian manusia di tengah masyarakat.
Bagi kami di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Adhyaksa, Natal 2025 memiliki makna yang lebih khusus karena dirayakan di tengah dinamika dunia hukum yang kian kompleks dan sarat tantangan etis.
Perayaan Natal STIH Adhyaksa 2025 yang diselenggarakan pada 19 Januari 2026 di Auditorium Zamrud Khatulistiwa bukanlah sekadar agenda rutin tahunan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara iman, intelektualitas, dan nurani.
Tema besar ‘Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga’ mengajak seluruh sivitas akademika untuk kembali menengok akar pembentukan karakter manusia, yakni keluarga, tempat pertama nilai kasih, kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab ditanamkan.
Sub tema ‘Menghidupi Nilai Kasih dan Keadilan Kristiani dalam Pembentukan Insan Hukum yang Berintegritas dan Berkeadaban’ kami rumuskan secara sadar sebagai jembatan antara iman Kristiani dan dunia akademik hukum.
Dalam pandangan saya, hukum tidak pernah berdiri di ruang hampa nilai. Ia selalu lahir, tumbuh, dan dijalankan oleh manusia dengan latar belakang moral, kepentingan, dan nurani yang beragam.
Sebagai mahasiswa hukum, saya kerap diliputi kegelisahan ketika menyaksikan bagaimana hukum hadir dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Hukum sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang kaku, prosedural, bahkan terasa jauh dari rasa keadilan yang hidup di tengah masyarakat.
Di momen Natal ini, saya diajak berhenti sejenak untuk merenung: sesungguhnya, untuk siapa hukum ditegakkan, dan nilai apa yang seharusnya menjadi napas dalam setiap proses penegakan hukum?
Pertanyaan itu terasa sangat dekat bagi saya sebagai bagian dari STIH Adhyaksa. Kampus hukum tidak hanya bertugas mengajarkan pasal, yurisprudensi, atau teori hukum.
Pendidikan hukum yang sejati seharusnya menyentuh sisi terdalam manusia yang membentuk kepekaan nurani, keberanian moral untuk bersikap benar, serta komitmen pada keadilan yang tidak berhenti pada teks, tetapi hadir nyata dalam realitas sosial.
Natal memberi saya pemahaman tentang pentingnya keseimbangan nilai. Keadilan tanpa kasih berpotensi berubah menjadi alat penindasan yang dingin dan tanpa empati. Sebaliknya, kasih tanpa keadilan dapat kehilangan arah dan ketegasan.
Keseimbangan keduanya adalah fondasi penting bagi lahirnya insan hukum yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkeadaban secara moral.
Perayaan Natal STIH Adhyaksa 2025 saya rasakan sebagai pengalaman yang hangat dan bermakna. Suasana khidmat berpadu dengan sukacita, menghadirkan rasa kebersamaan yang jarang ditemui dalam rutinitas akademik sehari-hari.
Kehadiran pimpinan institusi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta para tamu undangan menegaskan bahwa kampus ini bukan hanya ruang belajar, tetapi juga komunitas nilai dan harapan.
Kesan mendalam juga saya rasakan dari kehadiran siswa-siswi Kristiani SMAN 32 Jakarta dan SMAN 34 Jakarta yang mempersembahkan puji-pujian.
Di sana saya melihat semangat iman dan karakter yang mulai dibentuk sejak dini. Hal ini menjadi pengingat bahwa pembentukan insan berintegritas adalah perjalanan panjang yakni apa yang ditanam sejak sekolah akan terus bertumbuh hingga kelak mereka memasuki dunia profesional, termasuk dunia hukum.
Salah satu momen yang paling membekas bagi saya adalah penampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Silat.
Sekilas mungkin tampak sebagai pertunjukan bela diri, tetapi di baliknya tersimpan makna yang dalam. Gerakan yang terukur, fokus, dan ketenangan para penampil merefleksikan disiplin dan pengendalian diri, nilai yang sangat relevan bagi insan hukum.
Di tengah godaan kekuasaan dan tekanan kepentingan, penegak hukum dituntut mampu menjaga integritas, bersikap tegas tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.
Dari sana saya semakin menyadari bahwa pembentukan karakter tidak hanya terjadi melalui buku dan ruang kuliah.
Aktivitas kemahasiswaan menjadi ruang pembelajaran nyata tentang tanggung jawab, kedewasaan sikap, dan kerja sama. Pendidikan hukum sejatinya membentuk bukan hanya cara berpikir, tetapi juga cara bersikap.
Sebagai Ketua Panitia Natal STIH Adhyaksa 2025, saya merasakan langsung bahwa perayaan ini adalah perjalanan kolektif yang penuh pembelajaran.
Dari proses persiapan hingga pelaksanaan, saya belajar tentang kerja sama, pengorbanan, dan tanggung jawab yang tidak bisa dijalankan secara individual.
Nilai kasih saya saksikan hidup dalam hal-hal sederhana: saling membantu, saling menguatkan saat lelah, dan berbagi peran tanpa pamrih.
Pada akhirnya, saya memaknai Perayaan Natal STIH Adhyaksa 2025 bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai titik tolak.
Natal menjadi pengingat bahwa nilai kasih dan keadilan Kristiani harus terus dihidupi dalam keseharian akademik dan pengabdian kepada masyarakat.
Dunia hukum Indonesia membutuhkan lebih banyak insan hukum yang berani berpihak pada kebenaran, meski tidak selalu populer atau menguntungkan secara pribadi.
Saya berharap STIH Adhyaksa terus menjadi ruang pembentukan insan hukum yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga teguh secara moral dan berkeadaban dalam bertindak.
Bagi saya, semangat Natal tahun ini adalah cahaya kecil yang menuntun langkah kami untuk membangun kehidupan hukum dan sosial yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih bermartabat. (*)
