JAKARTA, AKURATNEWS.co – Tak banyak perwira Polri yang rekam jejaknya bergerak seluas dirinya.
Ya..Brigjen Pol Yulius Audie Sonny Latuheru punya jejak memburu pelaku kejahatan kelas kakap di lorong-lorong gelap kejahatan, hingga menembus langit sebagai pilot dan penerjun payung,
Audie pun menjadi adalah potret polisi dengan spektrum kemampuan yang jarang ditemui.
Sejak 20 September 2024, lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1996 ini dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Pendidikan dan Pelatihan Khusus Jatanras (Kadiklatsus Jatanras) di Lemdiklat Polri.
Jabatan ini menempatkannya di jantung pembentukan penyidik elite Polri, posisi strategis yang menuntut pengalaman lapangan sekaligus visi pendidikan.
Audie satu angkatan dengan sejumlah perwira tinggi Polri yang kini menduduki posisi kunci, seperti Irjen Pol Jhonny Edison Isir yang kini menjabat Kadiv Humas Polri serta Irjen Pol Ribut Hari Wibowo, Kapolda Jawa Tengah.
Namun, jalan karier Audie memiliki corak tersendiri, keras di lapangan, lentur di diplomasi, dan berani di udara.
Lahir di Merauke, Papua, pada 24 Januari 1972, Audie memulai karier kepolisian dari dunia reserse. Naluri investigatifnya terasah sejak awal, membawanya menapaki berbagai unit strategis, termasuk Jatanras dan Reskrim di Polda Metro Jaya, wilayah dengan kompleksitas kasus tertinggi di Indonesia.
Sebelum menjabat Kadiklatsus Jatanras, Audie mengemban tugas sebagai Kabag Jatanras Interpol Divisi Hubungan Internasional (Hubinter) Polri.
Di sinilah namanya menguat di level global. Ia terlibat langsung dalam penanganan kejahatan lintas negara dan perburuan buronan internasional.
Beberapa operasi besar yang mencuat ke publik antara lain penangkapan Alice Guo, mantan Walikota Bamban, Filipina, serta keberhasilan memimpin tim penangkapan Chaowalit Thongduang, buronan nomor satu Thailand di Bali pada 25 Mei 2024.
Atas keberhasilan tersebut, Audie mewakili Polri menerima penghargaan langsung dari Pemerintah Thailand.
Ia juga berperan membawa pulang Christoper Steffanus Budianto, buronan kasus penggelapan mobil yang melibatkan publik figur Jessica Iskandar, dari Thailand ke Indonesia.
Kasus-kasus itu menegaskan kapasitas Audie sebagai penghubung efektif antara penegakan hukum nasional dan jaringan internasional.
Di dalam negeri, kariernya banyak ditempa di Polda Metro Jaya. Ia pernah menjabat Kanit III Subdit Jatanras Ditreskrimum (2010), terlibat dalam penanganan kasus pembunuhan Direktur BUMN Nasrudin yang menyeret nama mantan Ketua KPK Antasari Azhar.
Ia kemudian dipercaya sebagai Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus (2012), Kasubdit Ranmor Ditreskrimum (2013), Kapolsek Metro Setiabudi (2014), hingga Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan (2015).
Pada 2019, Audie dipercaya memimpin Polres Metro Jakarta Barat, setelah sebelumnya menjabat Kapolres Ogan Komering Ulu (OKU) Timur pada 2016.
Namun sosok Audie tak berhenti di balik meja atau ruang penyidikan. Ia dikenal sebagai perwira Polri dengan kemampuan nonkonvensional: pilot aktif pesawat ringan dan atlet terjun payung.
Salah satu kisah yang kerap dikenang terjadi pada 30 Juli 2016, saat pesawat Cessna 152 yang ia terbangkan mengalami kecelakaan dan menabrak gunung jelang mendarat di Banding Agung, OKU Selatan, Sumatera Selatan.
Audie selamat tanpa cedera serius. Bahkan, tak lama setelah insiden itu, ia tetap menjalani rutinitas olahraga sore di lingkungan Mapolres OKU Timur, sebuah potret ketahanan fisik dan mental yang mencerminkan karakternya.
Di dunia olahraga udara, Audie aktif sebagai pengurus Terjun Payung Nasional Indonesia. Ia kerap memimpin kontingen Merah Putih dalam kejuaraan internasional di Dubai, Malaysia, dan negara lainnya.
Namanya juga dikenal sebagai penerjun yang membawa bendera Merah Putih dalam peringatan HUT RI, serta tampil dalam berbagai acara kenegaraan di hadapan Presiden RI, dari era Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo.
Di luar semua itu, sisi humanis Audie kerap muncul di momen-momen krusial. Ia pernah memimpin Satgas Kemanusiaan Polri saat gempa bumi dahsyat di Turki pada 2023.
Saat menjabat Kapolsek Setiabudi, ia juga terlibat langsung menyelamatkan seorang warga yang hendak mengakhiri hidupnya di JPO Semanggi, Jakarta.
Audie juga dikenal memiliki kedekatan emosional dengan mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan di Jakarta dan sekitarnya serta aktif menjalin komunikasi dan pembinaan sebagai bagian dari pendekatan sosial dan kebangsaan.
Kini, dari ruang pendidikan Jatanras hingga langit tempat ia biasa menguji nyali, Brigjen Pol Yulius Audie Latuheru tetap bergerak dalam satu garis: pengabdian.
Bagi Audie, menjadi polisi bukan hanya soal jabatan, melainkan keberanian untuk hadir, di darat maupun di udara, saat negara membutuhkan. (NVR)
