LOS ANGELES, AKURATNEWS.co – Keputusan Video Assistant Reffere (VAR) yang menganulir gol Iran saat melawan Belgia di fase grup C Piala Dunia 2026, Senin (22/6) memang menjadi salah satu momen paling diperdebatkan hingga hari ini.

Namun, berdasarkan tayangan dan penjelasan yang beredar, belum ada bukti kuat bahwa keputusan VAR tersebut merupakan kesalahan fatal.

Kontroversinya lebih banyak muncul karena keputusan itu sangat tipis dan mengubah jalannya pertandingan.

Dalam laga Iran vs Belgia yang berakhir 0-0 ini, Iran sempat mencetak gol melalui Mehdi Taremi pada menit ke-25. Gol itu akhirnya dianulir setelah VAR melakukan pemeriksaan dan menyatakan ada posisi offside dalam proses serangan.

Lalu kenapa keputusan itu dianggap aneh oleh sebagian penonton laga ini?

Pertama, offside yang sangat tipis. Banyak penonton merasa posisi pemain Iran hanya berbeda sangat sedikit dari garis pertahanan Belgia.

Dalam situasi seperti ini, VAR memang sering menuai kritik karena menggunakan teknologi garis yang sangat presisi, tetapi secara visual bagi penonton terlihat “masih sejajar”.

VAR tidak hanya melihat pencetak gol
Dalam aturan offside, bukan hanya pemain yang menyentuh bola yang diperiksa.

Pemain lain yang terlibat aktif dalam fase serangan juga bisa membuat gol dibatalkan jika berada dalam posisi offside dan memengaruhi permainan.

Kedua, ada dugaan pelanggaran lain dalam skema tendangan bebas. Banyak analis melihat kemungkinan adanya pelanggaran saat Iran menjalankan skema bola mati, seperti pemain yang terlalu dekat atau mengganggu tembok pertahanan Belgia. Namun alasan resmi yang paling banyak diberitakan terkait pembatalan gol adalah offside.

Lalu, apakah Belgia diuntungkan keputusan VAR ini? Secara hasil, iya. Belgia lolos dari situasi berbahaya karena jika gol itu sah, Iran bisa unggul 1-0 dan pertandingan serta klasmen grup C berubah total.

Tetapi dari sisi aturan, keputusan VAR tersebut masih berada dalam koridor hukum permainan karena VAR memang bertugas memeriksa fase sebelum gol terjadi.

Yang membuat publik merasa janggal adalah standar VAR yang sangat ketat untuk situasi milimeter.

Banyak penggemar sepakbola merasa keputusan seperti ini menghilangkan unsur “keuntungan bagi penyerang” karena perbedaan posisi yang nyaris tidak terlihat mata manusia.

Jadi kesimpulannya, keputusannya memang kontroversial, tetapi belum dapat disebut keputusan VAR yang salah.

Lebih tepatnya disebut sebagai contoh bagaimana teknologi VAR menciptakan perdebatan baru. Apakah sepakbola harus mengejar akurasi absolut yang harus presisi atau tetap memberi ruang pada interpretasi manusia.

Menariknya, laga itu sendiri tetap berakhir 0-0 karena Iran bertahan sangat disiplin dan kiper Alireza Beiranvand tampil luar biasa dengan sejumlah penyelamatan penting.

Iran sendiri akan menjalani laga ketiganya sekaligus laga penentuan apakah lolos dari fase grup melawan Mesir di Seattle pada 27 Juni 2026.

Kita tunggu geliat dan hasil pertandingan Iran vs Mesir ini. Siapa yang bakal lolos dari grup C ini. (NVR)

By editor2