JAKARTA, AKURATNEWS.co – Segera hadir di bioskop tanah air, film ‘Pemikat Jiwa’ coba menyuguhkan visual yang membangun suasana via penggunaan palet warna redup dengan didominasi cokelat tua, hijau pudar, dan hitam pekat serta pencahayaan yang minim.
Saat presscreening film ini digelar Selasa (30/6), tergambar visualisasi film yang coba menciptakan ruang yang terasa suram dan penuh tekanan. Gerakan kamera yang lambat dan sudut pengambilan yang sempit mencoba membuat penonton turut merasakan rasa terkurung yang dialami tokoh utama.
Ditambah iringan musik bernuansa tradisional Jawa yang mendayu dan desain suara yang lembut, tercipta nuansa mistis yang meresap ke dalam pikiran, bukan sekadar mengejutkan indra.
Namun, di balik kelebihan itu, ada sisi yang perlu diperhatikan. Beberapa adegan terasa berulang dengan sudut pandang yang tidak banyak berubah, sehingga bagian tengah cerita sempat terasa melambat.
Selain itu, penampilan unsur gaib lebih banyak mengandalkan bayangan dan isyarat, sehingga bagi penonton yang menginginkan visual yang lebih jelas dan terperinci, hal ini bisa terasa kurang memuaskan.
Keunggulan ‘Pemikat Jiwa’ sendiri ada pada pendekatan penceritaannya. Film ini tidak menjadikan kekuatan gaib sebagai bintang utama, melainkan menjadikannya cerminan dari kegelapan hati manusia.
Alur yang berfokus pada gejolak batin Jay berhasil menyampaikan pesan yang tajam yakni cinta sejati tidak bisa dipaksa, dikendalikan, atau dibeli dengan jalan pintas. Segala sesuatu yang didapatkan dengan cara salah pasti menyimpan harga yang sangat mahal.
Meski memiliki dasar cerita yang kuat, eksekusinya masih menyisakan celah. Salah satunya soal latar belakang asal-usul Nyai Sasigeni, aturan ajian, dan dampak jangka panjangnya tak dijelaskan dengan seksama sehingga menimbulkan kebingungan dalam logika mitosnya.
Belum lagi penyelesaian di bagian akhir yang terasa terburu-buru, tak utuh dan tak nyambung serta tak sepadan dengan ketegangan yang dibangun sejak awal.
Dari segi akting, film ini didukung akting yang cukup meyakinkan. Fajar Nugra sukses membawakan transformasi Jay dari pria pendiam dan sederhana, menjadi sosok yang terbutakan obsesi, hingga akhirnya hancur diliputi rasa bersalah.
Ekspresi wajahnya cukup mampu menyampaikan gejolak batin tanpa banyak kata.
Begitu pula Givina Lukita, yang cukup sukses memerankan dua sisi Wulan dari sosok lembut dan tulus, lalu berubah menjadi dingin, kosong, dan mengerikan saat dirasuki kekuatan gaib.
Namun, beberapa baris dialog terasa terlalu kaku dan sarat pesan moral, sehingga terdengar tidak wajar dalam percakapan sehari-hari.
Pada beberapa adegan kesurupan, penampilan masih terlalu mengandalkan ekspresi wajah saja, sehingga kurang memiliki variasi bahasa tubuh yang lebih mendayu atau menegangkan.
Secara keseluruhan ‘Pemikat Jiwa’ adalah karya horor lokal yang berhasil menghadirkan cerita dengan kearifan budaya sekaligus mengkritik sifat manusia yang sering ingin memiliki segalanya dengan cara instan.
Meski penjelasan dunia mistis menggantung alias tak tuntas, film ini tetap bisa ditonton terutama bagi penonton yang lebih menyukai horor yang mengajak berpikir akan satu pertanyaan: Jika bisa memikat hati seseorang dengan cara mudah, apakah kita benar-benar mendapatkan cinta, atau hanya menjerumuskan diri ke dalam jebakan? (NVR)
