JAKARTA, AKURATNEWS.co – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berhasil bukukan laba Rp330 trilun. Hal itu disampaikan oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria.
Dony mengklaim angka tersebut lebih besar dibandingkan laba Temasek Holdings, perusahaan investasi milik pemerintah Singapura.
Dony yang juga Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) mengatakan Danantara Indonesia menargetkan laba hingga Rp360 triliun pada tahun ini. Ia kemudian membandingkan target tersebut dengan kinerja Temasek.
Menurut Dony, berdasarkan laporan keuangan perusahaan investasi asal Singapura tersebut, Temasek mencatat laba bersih sekitar S$12 miliar atau setara Rp136 triliun.
“Jadi kalau secara size daripada net income tentu kita sudah lebih besar daripada Temasek, tahun ini kami harapkan Rp360 triliun, hampir 2 kali lipat daripada Temasek, dari Rp136 triliun ke Rp360 triliun,” Dony dikutip dari IDN Financial Rabu, (26/8).

Dony mengatakan capaian tersebut perlu disampaikan kepada masyarakat untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan membangun dan mengembangkan perusahaan-perusahaan yang andal ke depan.
“Saya rasa tidak banyak orang yang tahu bahwa net income kami, laba perusahaan kami di Danantara lebih besar daripada Temasek. Ini mungkin tidak banyak orang yang tahu,” kata Dony.
[[ Net income atau laba bersih adalah laba yang diperoleh perusahaan setelah dikurangi seluruh biaya, beban, bunga, pajak, dan pengeluaran lainnya. ]]
Hingga saat ini, laporan keuangan konsolidasi Danantara Indonesia belum dipublikasikan secara resmi kepada publik.
Laporan tersebut masih dalam proses konsolidasi dan audit menyeluruh atas berbagai entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah ekosistem Danantara.
Berapa Angka Temasek?
Namun, angka yang disampaikan Dony berbeda dengan laporan keuangan resmi Temasek Holdings.
Berdasarkan Group Income Statements Tamasek untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Maret 2026, group net profit Temasek tercatat sebesar S$32,4 miliar, naik dari S$23,5 miliar pada tahun sebelumnya.
Dengan asumsi kurs Rp13.940 per dolar Singapura, angka tersebut setara sekitar Rp451,66 triliun.
Dengan demikian, angka group net profit Temasek yang tercantum dalam laporan resminya bukan S$12 miliar seperti yang disebutkan Dony.
Temasek juga mencatat profit for the year sebesar S$37,3 miliar pada tahun buku 2026, meningkat dari S$28,8 miliar pada tahun sebelumnya.
Setelah dikurangi bagian laba yang diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali (non-controlling interests) sebesar S$4,9 miliar, Temasek mencatat group net profit sebesar S$32,4 miliar.
Dari sisi pendapatan, Temasek membukukan revenue sebesar S$174,5 miliar, naik dari S$169,4 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara itu, gross profit tercatat sebesar S$44,3 miliar, meningkat dari S$42,8 miliar.
Temasek juga mencatat other income, net sebesar S$32,2 miliar, naik dari S$20,6 miliar pada tahun sebelumnya.
Adapun profit before income tax mencapai S$42,2 miliar, meningkat dari S$32,3 miliar pada tahun sebelumnya.
Setelah memperhitungkan pajak sebesar S$4,9 miliar dan kepentingan nonpengendali, group net profit Temasek mencapai S$32,4 miliar pada tahun buku yang berakhir 31 Maret 2026, dibandingkan S$23,5 miliar pada tahun sebelumnya.
Temasek menggunakan tahun buku yang berakhir pada 31 Maret, sehingga periode laporan keuangan 2026 tersebut berbeda dengan tahun kalender Januari-Desember.
Laporan tersebut dipublikasikan secara resmi oleh Temasek sebagai bagian dari laporan keuangan grup untuk tahun yang berakhir 31 Maret 2026./Teg. Foto: Istimewa.
