HUT ke-39, Lamahu Bidik Masa Depan Hingga Ekonomi Kerakyatan Gorontalo
JAKARTA, AKURATNEWS.co – Sebagai organisasi paguyuban masyarakat Gorontalo di rantau yang telah eksis 39 tahun, Lamahu punya agenda yang terus digenjot.
Ketua Umum Lamahu, Fadel Muhammad saat peringatan ulang tahun ke-39 Lamahu di Jakarta, Minggu (4/10) menegaskan, ada tiga agenda utama yang harus menjadi perhatian keluarga besar masyarakat Gorontalo di luar Provinsi Gorontalo.
Ketiga agenda tersebut yakni memperkuat ukhuwah masyarakat Gorontalo di perantauan, mempersiapkan masa depan generasi Gorontalo melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta terus menumbuhkembangkan budaya Gorontalo.
Menurutnya, peringatan organisasi tidak boleh berhenti sebagai seremoni, tetapi harus menjadi momentum memperkuat persaudaraan sekaligus melahirkan program nyata bagi masyarakat Gorontalo.
“Masyarakat Gorontalo yang tersebar di berbagai daerah perlu terus menjaga hubungan silaturahmi dan rasa persaudaraan. Ikatan tersebut penting agar masyarakat Gorontalo di perantauan tetap memiliki kepedulian terhadap daerah asal,” ujar Fadel.
Agenda kedua yang ditekankan Fadel adalah memikirkan apa yang dapat diberikan kepada generasi masa depan masyarakat Gorontalo.
Salah satu bentuk kontribusi yang dinilai paling penting adalah pendidikan melalui program beasiswa bagi anak-anak asal Gorontalo yang tengah menempuh pendidikan di luar provinsi Gorontalo.
Fadel mengatakan, anak-anak Gorontalo yang memiliki potensi perlu mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan di sekolah maupun perguruan tinggi berkualitas, termasuk di luar daerah dan luar negeri.
“Untuk membantu sumber daya manusia yang ada, terutama rekan mereka yang sekolah SMP yang bagus di Jawa, SMA yang bagus, atau tempat yang lain yang lebih bagus buat mereka, termasuk ke luar negeri” kata Fadel.
Ia menilai, pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Generasi muda yang memperoleh pendidikan berkualitas diharapkan kelak dapat menjadi kader yang meneruskan pembangunan Gorontalo.

Dalam momentum HUT ke-39 Lamahu, Fadel tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga menyatakan komitmen awal untuk membentuk dana beasiswa bersama lewat donasi Rp100 juta sebagai dana awal.
“Saya pribadi akan memulai. Saya bersedia memberikan pertama kali seratus juta rupiah. Ini merupakan dana awal,” tegas Fadel.
Dana tersebut selanjutnya diharapkan berkembang melalui gotong royong keluarga besar Lamahu dan masyarakat Gorontalo.
Fadel menegaskan, kontribusi tidak harus dalam jumlah besar. Masyarakat dapat memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuan masing-masing yang pengelolaan dananya dilakukan secara profesional dan transparan.
“Nanti ada yang Rp5 juta, Rp2 juta, Rp3 juta sesuai kemampuan mereka. Kita kumpulkan,” ujarnya.
Program beasiswa sebenarnya bukan gagasan baru bagi Lamahu. Organisasi tersebut telah memberikan bantuan pendidikan kepada sejumlah generasi muda Gorontalo dari berbagai jenjang mulai tingkat SD, SMP sampai universitas.
Sedangkan agenda ketiga yang menjadi perhatian Lamahu adalah kebudayaan.
Menurut Fadel, pembangunan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan ekonomi dan pendidikan. Identitas budaya juga harus dijaga agar tidak tergerus, terutama ketika masyarakat Gorontalo hidup dan berkembang di luar daerah.
Karena itu, Lamahu diharapkan menjadi wadah untuk menjaga hubungan antar masyarakat sekaligus memperkenalkan dan meneruskan budaya Gorontalo kepada generasi muda.
Selain agenda di atas, Lamahu juga mendorong penguatan ekonomi kerakyatan di Gorontalo. Salah satu komoditas yang dinilai memiliki prospek adalah jagung.
Menurut Fadel, masa panen yang relatif cepat dan pasar yang tersedia membuat jagung berpotensi terus dikembangkan.
“Jagung sudah tumbuh dan berkembang karena hanya tiga bulan sudah panen dan bagus pemasaran juga,” katanya.
Ia menyebut di Gorontalo telah terdapat sejumlah pabrik pengumpul dan pengering jagung yang mendukung rantai ekonomi komoditas tersebut.
Namun, masyarakat juga perlu didorong melakukan diversifikasi usaha, antara lain melalui pengembangan rumput laut dan peternakan ayam.
Menurut Fadel, peternakan ayam memiliki prospek karena kebutuhan telur dan daging ayam sangat besar. Usaha tersebut pun dapat dikembangkan dalam skala kecil berbasis kelompok masyarakat.
“Jangan dibuat terlalu besar sehingga kelompok-kelompok masyarakat bisa melaksanakan. Sepuluh orang, 20 orang bisa memelihara 100, 200 ekor ayam,” ujarnya.
Model tersebut diharapkan dapat membuka lapangan usaha sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Sementara untuk lebih memperkenalkan kuliner asal Gorontalo di perantauan, Lamahu tengah menyiapkan program promosi kuliner khas Gorontalo di wilayah Jabodetabek lewat ruang atau space di wilayah Jakarta Selatan dan Bekasi untuk menggelar kegiatan kuliner Gorontalo secara rutin.
“Paling tidak sebulan sekali kita akan buatkan event untuk kuliner Gorontalo,” ujar tokoh masyarakat Gorontalo di Jakarta, Agus A Mile
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan makanan khas Gorontalo kepada masyarakat luas, tetapi juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM asal Gorontalo memperluas pasar.
“Kami lagi diskusikan dengan Walikota Jakarta Selatan dan Wakil Walikota Bekasi soal space khusus kuliner asal Gorontalo,” imbuh Agus yang juga Direktur RBM Logistic ini. (NVR)
