“Tidak ada jaminan kami bisa menghasilkan keuntungan di pasar yang sangat kompetitif seperti China. Kami mungkin hanya akan memperburuk situasi dengan mencoba,” ujar seorang eksekutif Mitsubishi Motors mengungkapkan alasan di balik keputusan ini.
Keputusan ini juga akan menyebabkan Mitsubishi Motors menarik investasinya di GAC Mitsubishi Motors, perusahaan patungan dengan Guangzhou Automobile Group (GAC), produsen mobil besar di China. GAC memiliki 50 persen kepemilikan GAC Mitsubishi Motors, sementara Mitsubishi Motors memiliki 30 persen dan Mitsubishi Corp, induk perusahaan Mitsubishi, memiliki 20 persen kepemilikan.
Penjualan Mitsubishi di China mengalami penurunan drastis pada 2022, hanya mencapai 38.550 unit atau turun 60 persen dari tahun sebelumnya. Meskipun Mitsubishi mencoba mengikuti tren dengan meluncurkan SUV hybrid Outlander, penjualan tetap di bawah proyeksi.
Laporan dari Nikkei Asia juga mengindikasikan bahwa merek otomotif Jepang lainnya mengalami kesulitan serupa di China, dan mereka sedang mempertimbangkan ulang strategi mereka. Persaingan semakin ketat setelah produsen mobil melakukan perang harga dengan memberikan diskon besar-besaran untuk mendorong pembelian mobil baru, meskipun hal ini mengakibatkan margin keuntungan yang lebih kecil.
Data dari MarkLines menunjukkan penjualan mobil penumpang di China pada 2022 mencapai 23,56 juta unit, dengan merek lokal menguasai 50,7 persen pangsa pasar, naik 5,2 persen dari tahun sebelumnya. Sementara produsen Jepang hanya memiliki pangsa pasar sebesar 18,3 persen, mengalami penurunan sebesar 2,8 persen dari tahun sebelumnya.
Produsen Jepang lainnya, seperti Nissan dan Mazda, juga mengungkapkan kegelisahan mereka terkait kondisi pasar yang tidak stabil di China. Nissan bahkan mempertimbangkan opsi termasuk kemitraan mereka di China.
Mazda telah menghentikan operasional pabrik yang bekerjasama dengan FAW Group dan melakukan restrukturisasi jaringan dealer. GAC Toyota, perusahaan patungan dengan Toyota, juga telah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 1.000 karyawan pada bulan Juli untuk mengurangi biaya operasional. Selain itu, Hyundai dari Korea Selatan juga telah memutuskan untuk menjual pabriknya di Chongqing.
Kondisi yang sulit dihadapi oleh merek otomotif Jepang di China menunjukkan betapa kompetitifnya pasar otomotif dalam negeri yang semakin didukung oleh pemerintah dalam menjadikan kendaraan listrik sebagai kekuatan utama dalam industri otomotif. (NVR)
