JAKARTA, AKURATNEWS.co – Jelang waktu berbuka puasa, halaman Balai Budaya Condet, Jakarta Timur, mulai dipenuhi ratusan anak yatim yang duduk berbaris rapi menatap panggung dengan mata berbinar.

Di tempat inilah, Dewan Adat BAMUS Betawi kembali merawat tradisi yang telah berjalan lebih dari satu dekade yakni ‘Ramadhan Penuh Cinta ke-15’.

Ya.. pada Rabu (18/3), 500 anak yatim piatu menerima santunan dalam sebuah acara yang bukan sekadar seremonial. Tapi juga sebuah pertemuan antara kepedulian sosial, kekuatan doa, dan kegelisahan akan masa depan budaya Betawi.

Di tengah suasana hangat itu, Ketua Umum Dewan Adat BAMUS Betawi, Muhammad Rifqi atau yang akrab disapa Ekki Pitung, tampak menyapa satu per satu tamu yang hadir, mulai dari ulama, tokoh masyarakat, hingga para penggiat seni budaya Betawi.

Baginya, kegiatan ini bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi bagian dari perjalanan panjang menjaga identitas.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya kita pernah santuni sampai 1.000 anak yatim, tahun ini 500. Tapi esensinya sama dan ini hasil kerja bersama, dari pengurus, tokoh, sampai dukungan pemerintah dan para dermawan,” ujar Ekki di sela acara.

Ia bercerita, anak-anak yatim yang hadir berasal dari berbagai wilayah, terutama Jakarta Timur. Namun jaringan bantuan juga menjangkau Jakarta Pusat dan Jakarta Barat, menunjukkan kuatnya jejaring sosial masyarakat Betawi.

Bantuan yang diberikan pun beragam, mulai dari paket sembako hingga santunan lainnya. Sebagian berasal dari lembaga seperti BAZNAS, sebagian lagi dari para donatur yang memilih tidak disebutkan namanya.

“Banyak yang ingin beramal tanpa disebut. Kita hormati itu. Yang penting, semua kebutuhan anak-anak ini bisa terpenuhi,” katanya.

Selain santunan dan suasana kebersamaan, ada pesan yang lebih dalam yang ingin disampaikan.

Ramadhan, bagi Dewan Adat BAMUS Betawi, bukan hanya momentum berbagi, tetapi juga waktu untuk merenung dan berdoa bagi bangsa.

Ekki menyinggung kondisi global yang penuh ketidakpastian, serta pentingnya menjaga persatuan nasional. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh situasi yang dapat memecah belah.

“Kita ingin hadir sebagai bagian dari bangsa ini, mendoakan Indonesia. Apalagi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, kita berharap semua ikhtiar yang dilakukan bisa membawa kebaikan dan menjaga stabilitas negara,” ujarnya.

Menurutnya, doa anak-anak yatim memiliki kekuatan tersendiri. Dari merekalah, harapan itu dititipkan, agar Indonesia tetap aman, damai, dan mampu menghadapi tantangan global ke depan.

Namun pembicaraan tentang bangsa tak berhenti di situ. Ekki juga menyinggung satu hal yang menjadi kegelisahan banyak masyarakat Betawi, masa depan budaya mereka di tengah derasnya arus globalisasi.

Jakarta, kata dia, kini tengah bergerak menjadi kota global. Perubahan itu membawa peluang, tetapi juga ancaman bagi eksistensi budaya lokal.

“Kalau kita lihat negara lain, banyak kota global yang akhirnya kehilangan masyarakat aslinya. Kita tidak ingin itu terjadi di Jakarta. Betawi harus tetap ada, tetap hidup,” tegasnya.

Ia mengingatkan, Betawi bukan sekadar identitas kultural, melainkan telah diakui secara hukum sebagai masyarakat asli Jakarta. Berbagai regulasi daerah, termasuk perda dan pergub, telah menegaskan pentingnya pelestarian budaya Betawi.

Bahkan dalam regulasi terbaru terkait kota Jakarta, posisi Betawi sebagai masyarakat inti disebut secara eksplisit.

Namun, menurut Ekki, pengakuan itu harus diikuti dengan langkah konkret.

“Kami berharap ada perhatian lebih dari pemerintah pusat. Seperti daerah lain yang punya kekhususan seperti Aceh, Yogyakarta, Papua. Betawi juga perlu diperkuat secara kebijakan agar budaya ini tidak hilang,” ujarnya.

Di tengah perbincangan serius itu, suasana acara tetap hangat. Tawa anak-anak, sapaan antar tokoh, hingga nuansa seni Betawi yang terasa kental menjadi pengikat kebersamaan.

Dari Balai Budaya Condet sore itu, “Ramadhan Penuh Cinta” bukan hanya tentang santunan atau buka puasa bersama. Ia adalah cermin dari sebuah komunitas yang berusaha tetap peduli, tetap berdoa, dan tetap menjaga jati diri di tengah perubahan zaman.

Dan ketika malam perlahan turun, satu pesan terasa jelas: di tengah dunia yang terus bergerak cepat, masih ada mereka yang memilih untuk berhenti sejenak buat berbagi, mendoakan dan menjaga warisan yang tak ternilai. (NVR)

By editor2