JAKARTA, AKURATNEWS.co – Indonesia resmi kehadiran K-Culture Youth Global Frontier: Webtoon Road in Indonesia yang menjadi panggung barunya industri komik Indonesia
Yang datang bukan cuma buat workshop. Yang terjadi di sini adalah “perjodohan”: kreator Indonesia ketemu langsung dengan orang-orang dari industri webtoon Korea Selatan. Tujuannya satu, bikin cerita lokal Indonesia bisa naik ke layar HP pembaca di seluruh dunia.
Lee Buyong, Presiden Direktur SMB HUB Prospera membuka acara dengan fakta simpel.
“Kami baru merayakan ulang tahun pertama SMB. Dulu kita membaca komik dalam bentuk buku, sekarang semuanya beralih ke ponsel. Ini menunjukkan bahwa masa depan industri webtoon sangat menjanjikan,” kata Lee, Kamis (16/7).
Dan dia nggak salah. Orang Indonesia rata-rata empat jam lebih di HP. Daripada baca buku cetak, mereka scroll. Nah, di situlah webtoon masuk.
Tapi Lee bilang SMB nggak mau cuma jadi platform. Mereka juga menjalankan program sosial: bantu anak yatim dan kembangkan industri stevia.
“Selain mengembangkan industri kreatif, kami juga punya komitmen keberlanjutan,” ujarnya.
Park Gun Yong, Direktur SMB Holdings, menyatakan pesan yang lebih tajam.
“Kekuatan sebuah negara saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh teknologi atau manufaktur, tetapi juga oleh kualitas konten yang dihasilkannya. K-Content telah dicintai masyarakat dunia. Namun membuat karya yang bagus saja tidak cukup. Konten harus terhubung dengan industri lain agar mampu menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.
Menurut Park, fondasi penting webtoon bukan cuma gambar bagus. Tapi juga sistem pembayaran digital yang nyambungin kreator, platform, sampai pembaca di negara lain. Makanya SMB sekarang lagi bangun platform pembayaran digital internasional.
“Kami berharap langkah kecil hari ini menjadi batu loncatan baru bagi Indonesia dan Korea untuk membangun ekosistem industri kreatif digital bersama,” katanya.
Park Se Hyun, Ketua Asosiasi Kritikus dan Webtoon Korea bercerita jika delapan hari sebelum acara, tim kreator Korea diajak tur lapangan. Dari desa, museum, sampai masjid. Tujuannya? Agar mereka mengerti tentang Indonesia.
“Drama Korea memang sudah sangat populer di Indonesia, tetapi webtoon masih memiliki ruang yang besar untuk berkembang. Pameran karya hasil kolaborasi kreator Korea dan Indonesia ini menjadi awal lahirnya webtoon Indonesia yang mampu bersaing secara global,” kata Park.
Dan dia punya alasannya. Indonesia memiliki keragaman yang luar biasa. Cerita-cerita lokalnya dapat menjadi kekuatan untuk menghasilkan karya yang menyentuh pembaca dunia.
Data pun mendukung itu. Saat ini ada 700 kreator Korea di bawah asosiasinya, dan dari berbagai negara. Indonesia dilirik karena punya cerita rakyat, legenda, etnis, yang belum banyak dijamah.
Bahkan Lee Chul Ho, editor E-Jong News, mengaku kepo sama genre horor Indonesia.
“Saya penasaran mengapa masyarakat Indonesia sangat menyukai horor. Setelah mengenal lebih dekat budaya dan keberagaman Indonesia, saya memahami bahwa banyak cerita rakyat dan legenda yang dapat dikembangkan menjadi karya webtoon yang menarik,” bebernya.
Investasinya juga nggak main-main. Park bilang, untuk mengembangkan satu judul webtoon bisa sampai 500 juta won atau sekitar Rp5,9 miliar. Jadi mencari ide cerita itu tahap paling mahal dan paling penting.
Tessa Yadawaputri, CEO Kisai menambahkan, yang paling berharga dari program ini adalah kesempatan belajar langsung dari standar industri dunia.
“Korea telah menjadi standar industri webtoon dunia. Kami berharap kerja sama ini terus berkembang sehingga lahir generasi kreator Indonesia berikutnya,” ujarnya.
Park Se Hyun pun setuju akan hal itu.
“Kekuatan utama webtoon bukan hanya terletak pada ilustrasi yang menarik, melainkan pada cerita yang mampu membuat pembaca merasa dekat dengan karakter dan budaya yang diangkat,” ucapnya.
Logikanya memang masuk. Pas pandemi Covid-19, webtoon meledak karena orang butuh hiburan di HP. Gambar boleh bagus, tapi kalau ceritanya nggak nusuk, orang langsung next episode.
Webtoon Road ini juga bukan cuma pameran, ini blueprint. SMB Holdings mau bangun ekosistem lengkap: dari pelatihan kreator, produksi karya kolaborasi, sampai platform digital plus sistem pembayaran global.
Artinya, cerita kuntilanak dari Jawa Barat, legenda Danau Toba, atau kisah anak kos di Jakarta, bisa punya format yang sama dengan True Beauty atau Sweet Home. Tinggal dibungkus dengan pacing khas webtoon Korea: scroll vertikal, cliffhanger tiap episode, warna yang nampol.
“Dengan sinergi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk melahirkan webtoon yang mampu bersaing di pasar dunia sekaligus memperkuat posisi industri kreatif nasional di era ekonomi digital,” tutup pihak SMB.
Singkatnya, Korea kasih sistem dan standar. Indonesia kasih cerita dan budaya. Tinggal tunggu, judul webtoon Indonesia apa yang bakal jadi trending global berikutnya. (NVR)
