JAKARTA, AKURATNEWS.co – Tidak ada orasi. Tidak ada massa. Yang ada cuma lampu, layar lebar, dan 10 film pendek yang mencoba berteriak lebih keras dari poster demo.
Ajang MADFest Merah Putih 2026 dengan tema ‘Kamera Pengganti Megaphone, Layar Pengganti Jalanan, Visual Pengganti Slogan’ Malam Penganugerahan Aspirasi Festival Film Pendek Karya Pekerja 2026′ rampung digelar pada Selasa (18/8) di Sinema Hall, Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan.
Event ini bukan festival film biasa. Ini panggung baru buat aspirasi. Hal inilah yang ditegaskan Ketua Penyelenggara Sonny Pudjisasono. Ia menyebut, MADFest sengaja tidak dibuat dua jam seremonial saja.
“Kita tidak ingin dua jam saja. Dari jam 7 sampai jam 9 malam itu sudah termasuk ceremony dan pemberian penghargaan terhadap aspirasi,” ujarnya di sela diskusi bersama media, Jumat (21/8).
Formatnya memang beda. 10 karya terbaik dirangkai dulu. Semua sineas dipanggil ke panggung. Baru kemudian diumumkan lima pemenang.
“Tujuannya biar semua dapat panggung yang setara. Bukan cuma pemenang yang disorot,” kata Sonny.
Ia mengakui masih banyak kekurangan. Untuk itu, usai penganugerahan langsung digelar diskusi terbuka bareng kurator Ensandi Joko Santoso, Ketua Bidang Acara Arry Wadhy Sandjaya, Toto Sugriwo, Ratu Erina dan awak media.
Dalam diskusi, Sonny kembali menegaskan inti MADFest tahun ini satu, menawarkan cara baru menyampaikan keresahan.
“Intinya demo yang selama ini di jalanan sambil teriak dan ganggu orang, kita ganti. Kamera pengganti megaphone. Layar pengganti jalanan. Visual pengganti slogan,” tegas Sonny.
Lewat film pendek, aspirasi jadi terdokumentasi. Bisa diunggah. Bisa ditonton kapan saja. Tanpa bentrok, tanpa turun ke jalan, tapi pesannya nyampe.
Sasarannya memang kelompok yang biasa demo. Tapi pintunya dibuka lebar. SMK, kampus, komunitas, umum boleh ikutan..
Walau begitu, tetap ada aturannya. Film harus punya sisi sinematografi, bermakna, bertanggung jawab, dan menarik. Dan idi tahun depan akan diadakan workshop film pendek yang bisa diikuti oleh semua elemen masyarakat.
“Agar publik tahu bagaimana menuangkan elemen kunci menjadi film pendek yang bisa menyampaikan misi aspirasi itu,” katanya.
Ketua Kurator, Ensandi Joko Santoso juga mengumumkan kabar baik. Dari 63 peserta, 10 film terpilih akan dikirim ke festival film pendek di Eropa. Salah satunya ke Sheffield, Inggris.
“Penyesuaiannya tergantung tema dan ketentuan tiap festival. Karena beda festival, beda spesifikasinya,” jelas Ensandi.
Untuk 2027, MADFest akan tancap gas. Dari lima kategori tahun ini, akan diperluas jadi 21 kategori. Plus ada workshop teknis buat peserta biar kualitasnya naik.
Pamungkas, Sonny menutup dengan pesan:
“Kalau dilakukan individu pun bisa. Tidak harus kumpulin massa sebanyak di jalanan dengan SDM luar biasa. Cukup lewat konten digital, aspirasinya jalan.”
Salah satu film yang memenangkan penghargaan berjudul ‘Antrian Nomor Kematian’ karya Ayyub Basya. Film ini masuk lima karya aspiratif kategori Kesehatan.
Isinya nusuk, kerumitan birokrasi pasien BPJS yang harus antre dari subuh, tapi ujungnya zonk. Tidak ada teriakan. Cuma visual antrean panjang yang lebih nyaring dari slogan. (NVR)
