JAKARTA, AKURATNEWS.co – Lampu gedung PFN Heritage terang benderang saat tiga sineas membedah industri film horor Indonesia.

Dalam rangkaian “Kreatif Merdeka Carnival 2026”, diskusi Festival Film Horor (FFH) edisi ke-8 menggelar diskusi bertajuk ‘Horor Mencari Jalan Pulang: Napak Tilas Identitas Sinema Horor Indonesia’.

Di atas panggung duduk sineas yang juga wartawan senior, Eddie Karsito. Lalu ada produser Wahyu Nugroho dan sutradara, Haris Sinamon.

Dimoderatori Karina Icha, diskusi ini sampai pada pertanyaan, kenapa film horor nasional rasanya kayak di-copy paste, dan kenapa aromanya selalu Jawasentris?

“Kita kurang meneliti. Padahal gudang cerita mistis kita dari Sabang sampai Merauke,” beber Eddie Karsito.

Masalahnya, imbuh Eddie, negeri ini punya penyakit mengekor yang sukses.

“Ada film pocong meledak, besoknya 10 rumah produksi bikin pocong. Ada kuntilanak hits, sebulan kemudian semua bioskop jadi kuburan,” ucapnya.

Ironisnya, saat semua orang teriak film hotor nasional mencari jalan pulang Eddie malah balik nanya:

“Mau pulang ke mana? Kita nggak pernah pergi,” serunya.

Pria yang akrab disapa Edkar ini lalu menyasar ke akar, yakni manajemen.

“Beresin dulu manajemen kelola. Kalau itu beres, baru kita bisa mimpi go internasional,” tegasnya.

Giliran Wahyu Nugroho bicara. Produser ini mengingatkan, horor itu bukan cuma jump scare. Ada 3 unsur yang sering kita lupakan yakni misteri, tradisi, religi.

“Itu kearifan lokal. Kalau digali, film kita nggak akan mirip-mirip lagi,” ujarnya.

Tapi hari ini, kata Wahyu, kita masih hanya jualan kaget.

“Kita cuma menjual ketakutan di bioskop, tapi tidak dibawa pulang ketakutan itu.” Penonton teriak, pulang, lupa. Tidak ada bekas. Tidak ada trauma yang cantik,” ucapnya.

Sedangkan Haris Sinamon menyebut, kita kalah sebelum bertanding karena takut rugi. Padahal kalau mau go internasional, kuncinya satu, nothing to lose. Berkarya seberani mungkin.

“Kita kurang riset. Kurang mendalami psikologi pelaku mistis. Akibatnya hantu kita datar. Nggak punya luka, nggak punya cerita,” kata Haris.

Diskusi 90 menit itu pun sampai pada kesimpulan yang sama: Horor Indonesia tidak akan ke mana-mana. Karena dari awal ia tidak pernah pergi.

“Horor itu sudah ada di rumahnya sendiri. Jadi tak perlu mencari jalan pulang,” tegas Edkar di hadapan peserta diskusi yang mayoritas pelajar ini. (NVR)

By editor2