JAKARTA, AKURATNEWS.co – Hari ini, Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 dengan penuh khidmat dan semarak di Istana Negara, Jakarta.

Presiden Prabowo Subianto bertindak sebagai inspektur upacara perayaan HUT yang dihadiri jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju, tokoh nasional, serta tamu undangan dari berbagai kalangan.

Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang mewakili 38 provinsi tampil dalam momen sakral pengibaran Sang Saka Merah Putih. Suasana khidmat menyelimuti halaman Istana Negara ketika bendera Merah Putih perlahan naik ke langit Jakarta.

Kemeriahan juga ditambah atraksi spektakuler dari TNI-Polri, mulai dari parade pasukan, helikopter, hingga delapan jet tempur F-16 yang menggetarkan langit ibukota dengan aksi flypass tepat di atas Istana Kepresidenan.

Ribuan masyarakat yang hadir di sekitar kawasan Monas dan Istana turut bersorak gembira menyaksikan momen tersebut.

Lalu muncul pertanyaan, kenapa lokasi perayaan masih di Jakarta dan bukan di Ibukota Negara (IKN) yang baru?

Berbeda dari tahun lalu, dimana perayaan HUT RI  digelar di IKN, perayaan HUT ke-80 ini kembali dipusatkan di Jakarta. Keputusan tersebut sontak memunculkan tanda tanya besar mengenai nasib megaproyek IKN yang diwariskan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dalam pidato kenegaraan sekaligus penyampaian RAPBN 2026 pada Jumat (15/8), Presiden Prabowo hanya menyinggung soal IKN sekali dan sama sekali tidak merinci kelanjutan pembangunan, anggaran, maupun target penyelesaian proyek. Padahal, pada masa pemerintahan sebelumnya, perayaan HUT RI di Nusantara digadang-gadang sebagai simbol komitmen pemerintah terhadap pemindahan ibukota.

Fakta bahwa upacara dipindahkan lagi ke Jakarta tentu mengundang tafsir politik. Investor bisa saja melihat ini sebagai sinyal melemahnya prioritas pembangunan IKN.

Dalam pidatonya, Prabowo banyak menekankan isu ketahanan pangan, penguatan pertahanan, dan pembangunan desa. Namun, minimnya pembahasan tentang IKN dan strategi ekonomi jangka panjang membuat sebagian pengamat menilai arah pembangunan nasional masih menyisakan tanda tanya.

Meski demikian, Presiden Prabowo tetap mengajak rakyat Indonesia untuk menjaga persatuan di usia 80 tahun kemerdekaan.

“Kita sudah melewati delapan dekade kemerdekaan dengan berbagai cobaan. Kini saatnya kita melangkah bersama menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Sementara itu, perayaan HUT RI ke 80 di IKN digelar dengan upacara bendera yang melibatkan 38 orang purna Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibra) asal Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Mereka kembali dipercaya mengibarkan Merah Putih di jantung ibukota baru.

“Pengibar bendera pada upacara HUT ke-80 Kemerdekaan RI dari 38 anggota Paskibraka tahun lalu asal Kabupaten Penajam Paser Utara,” kata Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono.

Upacara berlangsung khidmat dengan iringan paduan suara masyarakat sekitar dan orkestra yang dipimpin musisi kondang Addie MS. Sekitar 3.000 undangan hadir, dan acara juga terbuka bagi publik. Pengamanan dilakukan oleh 45 personel internal Otorita IKN serta 80 personel gabungan Satgas, Polsek, dan Koramil.

Deputi Bidang Pengendalian Pembangunan Otorita IKN sekaligus Ketua Panitia HUT ke-80 RI di IKN, Thomas Umbu menyatakan perayaan tahun ini juga menjadi momentum sejarah.

“Pelibatan pemuda lokal, partisipasi masyarakat, hingga aksi penanaman pohon dan renungan suci jelang upacara adalah simbol gotong royong dan kebersamaan di IKN,” katanya.

Walau tak dipusatkan di IKN, pemerintah menekankan bahwa pembangunan IKN tetap berlanjut, meski untuk sementara perayaan dipusatkan kembali di Jakarta. Namun, keputusan ini tetap menjadi catatan tersendiri bagi para pengamat, terutama terkait konsistensi komitmen dan kepercayaan investor.

Dengan segala kemeriahan dan catatan tersebut, perayaan HUT ke-80 RI bukan hanya momentum refleksi perjuangan bangsa, tetapi juga titik evaluasi arah pembangunan di bawah kepemimpinan baru. (NVR)

By editor2