JAKARTA, AKURATNEWS.co – Jelang Ramadhan 1447 Hijriah/2026, gudang-gudang logistik mulai bergerak.

Tumpukan karung beras premium disusun rapi, diberi label, lalu bersiap dikirim ke berbagai penjuru negeri.

Tahun ini, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menyiapkan 625 ton beras zakat fitrah untuk didistribusikan ke 36 provinsi di Indonesia dan menjangkau kota besar hingga pelosok desa.

Peluncuran Program Zakat Fitrah 2026 digelar di Jakarta, Jumat (27/2/). Direktur Layanan, Promosi, dan Data Optimasi BAZNAS sekaligus Ketua Panitia Ramadan 2026, H. Rulli Kurniawan, memastikan seluruh tahapan teknis telah rampung.

“Proses pengepakan sudah selesai. Sekarang kami siap memulai pendistribusian,” ujar Rulli.

Namun, cerita zakat fitrah kali ini bukan hanya soal distribusi beras dalam jumlah besar. Ada rantai ekonomi yang ikut bergerak.

Rulli menjelaskan, beras yang akan dibagikan kepada mustahik tidak dibeli dari pasar umum. Seluruhnya berasal dari petani mustahik binaan program Lumbung Pangan BAZNAS. Artinya, para petani dari kelompok prasejahtera terlebih dahulu menjual hasil panennya kepada BAZNAS.

Dari transaksi itu, pendapatan petani meningkat. Lalu beras tersebut kembali disalurkan kepada mustahik lain yang membutuhkan. Sebuah siklus ekonomi yang berputar di kalangan masyarakat kecil.

“Terjadi perputaran ekonomi. Ini yang menjadi keunggulan zakat fitrah melalui BAZNAS ada aspek pemberdayaan dan multiplier effect,” kata Rulli.

Model ini, lanjutnya, tidak hanya menghadirkan kebahagiaan bagi penerima zakat fitrah menjelang Idul Fitri, tetapi juga memperkuat ekonomi desa sejak proses hulu.

Terpisah, Ketua BAZNAS, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA menyebut, penyaluran zakat fitrah tahun ini ditargetkan menjangkau sekitar 300 ribu mustahik. Distribusi akan dilakukan melalui jaringan BAZNAS yang telah hadir di 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Wilayah distribusi mencakup Jakarta, Sumatra, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga berbagai daerah terpencil lainnya. Dengan jaringan nasional tersebut, BAZNAS memastikan penyaluran dilakukan secara merata dan terukur.

“Zakat yang disalurkan melalui BAZNAS kami pastikan diteruskan kepada delapan asnaf yang berhak menerimanya,” tegas Noor.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat fitrah melalui BAZNAS agar dampaknya lebih luas, tidak hanya konsumtif tetapi juga produktif.

Sementara itu, Kepala Divisi Penyaluran UPZ dan CSR BAZNAS, dr. Ajat Sudarjat, mengungkapkan pembelian beras dari petani mustahik mampu meningkatkan pendapatan mereka hingga sekitar 60 persen.

Angka ini menunjukkan bahwa zakat fitrah tidak hanya berhenti pada seremoni ibadah tahunan, melainkan menjadi instrumen penguatan ekonomi desa. Dari sawah petani binaan, beras dipanen, dibeli, lalu disalurkan kembali ke masyarakat yang membutuhkan.

“Zakat fitrah bukan hanya membantu penerima, tetapi juga memberdayakan petani dan menggerakkan ekonomi desa. Ini yang paling penting, zakat fitrah bisa menguatkan Indonesia, terutama di pedesaan,” ujar Ajat.

Distribusi 625 ton beras tersebut dijadwalkan mulai pekan depan dan akan bergerak serentak ke berbagai kabupaten/kota.

Di balik angka ratusan ton itu, tersimpan satu pesan sederhana, zakat fitrah bukan hanya tentang menunaikan kewajiban, tetapi juga tentang memastikan keberkahan Ramadhan terasa hingga ke akar rumput dari petani, untuk umat, kembali menguatkan desa. (NVR)

By editor2