Di Solve for Tomorrow 2026, SMAN 81 Jakarta dan UNIKOM Jadi Kampiunnya

0
IMG-20261102-WA0011

JAKARTA, AKURATNEWS.co – Kalau Anda masih mikir anak SMA cuma bisa ngerjain PR, lo ketinggalan jauh! Samsung baru aja umumkan pemenang Samsung Solve for Tomorrow 2026 pada 29 Oktober 2026 kemarin di Jakarta, dan juaranya bikin kaget.

Dua tim yang jadi juara pertama bener-bener kasih solusi nyata pakai AI buat dua masalah gede Indonesia: polusi udara dan pendidikan inklusif.

Juara 1 Kategori SMA/SMK/MA: Tim BryotechAlpha dari SMAN 81 Jakarta dengan inovasi AeroSpora.
Juara 1 Kategori Perguruan Tinggi: Tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) dengan inovasi NovaSight.

Tahun ini nggak main-main, pendaftar tembus 4.000+ tim dari seluruh Indonesia! Dari situ, 2.600 peserta ikut Design Thinking Workshop, 40 tim masuk semifinal dapet pelatihan AI Amplification, dan cuma 10 tim terbaik per kategori yang maju ke final. Ketat abis!

Anda juga tahu jika polusi Jakarta lagi se-parah apa? Tim BryotechAlpha catat data Oktober 2026: PM2.5 Jakarta tembus 41 µg/m³, padahal batas aman WHO cuma 15 µg/m³! 2,5x lipat, bro!

Dari situ mereka bikin AeroSpora, dinding lumut ukuran 120 x 50 cm yang bisa bersihin udara ruangan 50-80 m² cuma pakai daya 15-25 watt!

Lumut dipakai sebagai filter udara alami. Terus ada sensor IoT yang mantau suhu, kelembaban, dan kadar debu PM2.5 secara real-time. Otaknya pakai TinyML di ESP32-S3 yang bisa prediksi kapan lumut bakal kering, dan otomatis nyalain sistem kabut. Airnya? Pakai air kondensasi AC, jadi super sustainable!

Yang paling keren, datanya bisa lo pantau lewat V.E.R.A (Visual Environment Real-time Analytics) – stasiun pemantau dari tablet bekas yang ada chatbot edukatifnya, AeroSpora AI.

Kalau tim SMA fokus ke lingkungan, tim UNIKOM fokus ke pendidikan inklusif. Tim I-SEUNG riset langsung ke SLB Negeri A Citeureup, Cimahi dan nemu fakta nyesek: siswa tunanetra susah banget pahamin grafik dan diagram matematika, guru juga susah nilai langkah pengerjaan mereka. Padahal ada 4.229 siswa tunanetra di SLB se-Indonesia (data Kemendikdasmen).

Hasil uji coba? Siswa tunanetra bisa jawab benar 4 dari 5 soal dalam 15 menit TANPA didampingi guru! Merinding!

Head of Corporate Marketing Samsung Indonesia, Anggi Paramita menyebut, pihaknya bangga dan terinspirasi melihat generasi muda ubah tantangan jadi solusi inovatif.

” Ini baru langkah awal!,” ujar Anggi.

Senada dengan Anggi, Assoc. Prof. Suparto, Tenaga Ahli Wamen Dikti Saintek mengatakan jika selama ini Indonesia dianggap cuma pemakai teknologi.

“Lewat SFT, anak muda buktiin kita bisa jadi pencipta! Pendidikan tinggi sekarang dinilai dari karya nyata yang dipakai masyarakat, bukan cuma jurnal,” ujar Suparto.

Yuli Haryanto, Direktur SMA Kemendikdasmen menambahkan, keberhasilan pendidikan itu bukan cuma apa yang dipelajari.

“Yapi bagaimana pengetahuan itu dipakai jawab tantangan nyata,” ujar Yuli.

Dari kompetisi, mereka bakal terus dikembangin. Perwakilan tim I-SEUNG, Regia Qolbu bilang kemenangan ini motivasi buat nyempurnain NovaSight. Sementara Azkeanu Rhesa dari BryotechAlpha bilang SFT ngajarin mereka berani mikir lebih jauh soal STEM, AI, dan teamwork.

Tema SFT 2026 sendiri ada tiga yakni Teknologi untuk Keberlanjutan Lingkungan, Teknologi untuk Perubahan Sosial lewat Olahraga, dan Transformasi Pendidikan lewat STEM dan AI.

Dengan semangat “Together for Tomorrow! Enabling People”, Samsung buktiin kalau AI nggak cuma buat bikin konten, tapi bisa jadi alat selamatkan bumi dan bikin pendidikan lebih adil.(NVR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *