RIO DE JANEIRO, AKURATNEWS.co – Wakil Indonesia di forum Women 20 (W20) yang digelar di Rio de Janeiro, Brazil. Farahdibha Tenrilemba menyoroti peran krusial perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dimana perempuan menjadi tulang punggung sektor pertanian dan ekonomi perawatan.
Dalam forum W20, Farahdibha menyampaikan pengalaman Indonesia dalam menggerakkan perempuan sebagai penggerak utama di sektor pertanian, yang berperan vital dalam menjaga ketahanan pangan.
“Di Indonesia, keberhasilan program pengentasan kemiskinan tidak terlepas dari kontribusi besar perempuan di sektor pertanian dan ekonomi perawatan. Mereka memainkan peran sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga serta memastikan ketersediaan pangan yang berkelanjutan,” ujar Farahdibha.
Ia menekankan, perempuan sering kali tidak hanya terlibat dalam produksi pangan, tetapi juga bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya alam dan pengasuhan keluarga, menjadikan mereka aktor kunci dalam memastikan keberlanjutan ekonomi perawatan. Dalam konteks ini, perempuan memiliki posisi strategis dalam mendukung ekonomi nasional, terutama di wilayah pedesaan.
Lebih jauh, wanita yang juga Sekretaris Jenderal Wanita Tani Indonesia (HKTI) , menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, dalam memperkuat peran perempuan.
“Koordinasi yang baik dalam pengumpulan data dan kebijakan yang berbasis pada fakta sangat diperlukan untuk menciptakan program pemberdayaan perempuan yang lebih efektif dan inklusif. Hal ini juga akan memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan global yang semakin kompleks,” tambahnya.
Dalam forum W20, Farahdibha mengajak negara-negara peserta untuk berbagi pengalaman dan solusi dalam memberdayakan perempuan di sektor-sektor krusial, termasuk pertanian dan perawatan. Ia berharap, melalui forum ini, lahir rekomendasi kebijakan yang lebih inklusif dan progresif, yang dapat diadopsi oleh pemerintah untuk mendukung perempuan sebagai pilar ekonomi yang tangguh.
Sesi diskusi pada W20 Summit 2024 di Brazil, yang dihadiri delegasi dari berbagai negara, juga fokus pada bagaimana ekonomi perawatan dan ketahanan pangan dapat menjadi solusi dalam menghadapi ketidaksetaraan ekonomi global.
Farahdibha menyampaikan bahwa di banyak negara berkembang, perempuan sering kali berada di garis depan dalam hal perawatan dan pengelolaan pangan, meskipun kontribusi mereka kerap kurang diakui secara formal.
“Perempuan di pedesaan Indonesia, misalnya, tidak hanya menjadi petani, tetapi juga penjaga keberlanjutan pangan di tengah komunitas mereka. Mereka merawat keluarga, mengelola hasil pertanian, dan sekaligus menjaga ekosistem lokal. Ini adalah peran yang sangat penting dan perlu didukung dengan kebijakan yang tepat,” jelas Farahdibha.
W20 Summit 2024 diharapkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang memperkuat peran perempuan di sektor ekonomi perawatan dan ketahanan pangan, yang pada akhirnya bisa menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi kemiskinan dan memastikan ketahanan pangan yang berkelanjutan di tingkat global.
Farahdibha juga menekankan bahwa sinergi antara berbagai pihak, baik dari dalam negeri maupun internasional, sangat diperlukan untuk mengoptimalkan potensi besar perempuan dalam bidang ini.
Dengan peran perempuan yang semakin diakui dalam pengembangan ekonomi dan kesejahteraan sosial, harapan besar tertumpu pada hasil-hasil diskusi di W20 untuk memperkuat kebijakan yang berfokus pada pemberdayaan perempuan di seluruh dunia. (NVR)
