JAKARTA, AKURATNEWS.co – Koalisi Indonesia Maju (KIM) akhirnya menyepakati nama Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres yang akan mendampingi Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto bertarung di Pilpres 2024 mendatang.

Namun, pemilihan Gibran sebagai cawapres ini belakangan menimbulkan kontroversi. Selain karena putra dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), langkah Gibran maju sebagai cawapres juga buah dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengizinkan seseorang yang pernah menjadi kepala daerah meskipun belum berumur 40 tahun, bisa maju sebagai capres ataupun cawapres. Padahal, dalam konstitusi, batasan minimal capres dan cawapres adalah 40 tahun.

Hal lain yang menimbulkan kontroversi adalah, Ketua MK, Anwar Usman merupakan paman dari Gibran atau adik ipar Presiden Jokowi.

Direktur Eksekutif Indopol Survey Ratno Sulistiyanto menuturkan, penunjukan Gibran sebagai cawapres yang diusung KIM bisa mengubah konstelasi politik. Sebab, Gibran dan Jokowi merupakan kader PDI Perjuangan yang sebelumnya telah menetapkan Ganjar Pranowo sebagai capres bergandengan dengan Mahfud Md.

Menurut Ratno, pemilih Jokowi pada Pilpres 2019 lalu yang sebelumnya berpotensi memilih Ganjar Pranowo, kini kemungkinan besar akan bergeser mendukung pasangan Prabowo-Gibran sehingga akan menggerus pemilih Ganjar-Mahfud MD.

Pada poros lainnya, pemilih Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 lalu yang tidak puas dengan kinerja atau kepemimpinan Jokowi berpotensi besar bermigrasi memilih pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN).

”Kalau cerdas mengelola konstelasi politik ini, pasangan AMIN akan mendapatkan insentif elektoral dari majunya Gibran sebagai pasangan Prabowo,” beber Ratno, Senin (23/10).

Tidak hanya itu, sekitar 30 persen pemilih swing voter yang sebelumnya berpotensi memilih Prabowo, juga bisa diambil pasangan AMIN. Begitu pula, ada 40 persen swing voter Ganjar Pranowo yang juga bisa diambil AMIN.

”Delapan persen calon pemilih yang belum menentukan pilihan atau undecided voter juga bisa diambil AMIN kalau pandai mengolah peluang ini,” katanya.

Di sisi lain, peneliti yang juga alumni Universitas Brawijaya Malang ini mengatakan bahwa pemilih AMIN tergolong sangat loyal. Dari hasil survei yang dilakukan, 63 persen calon pemilih AMIN sudah tidak akan berubah.

”Tingkat partisipasi pemilih AMIN ini lebih tinggi daripada calon pemilih pasangan capres dan cawapres lainnya,” pungkasnya. (NVR)

By Editor1