MEDAN, AKURATNEWS.co – Di akhir November 2025, hujan tak lagi sekadar deras. Ia berubah menjadi gulungan air yang membawa lumpur, batu, kayu, dan kecemasan.

Mulai dari Aceh, Sumatera Utara hingga Sumatera Barat, pulau Sumatera seperti memasuki bulan paling gelap ketika ribuan warga harus mengungsi, puluhan meninggal, ratusan hilang, dan sejumlah wilayah berubah total: terputus, terisolasi, dan nyaris tak bisa dihubungi.

Di banyak tempat, dering telepon yang tak pernah tersambung menjadi penanda betapa rapuhnya kehidupan di hadapan bencana hidrometeorologi.

Di Kabupaten Pidie, suara air yang merangsek masuk rumah seperti amukan tak berhenti. Di Aceh Timur, sirene darurat terdengar sepanjang malam, sementara di Aceh Besar lumpur menutup badan jalan hingga membuat desa-desa terputus.

Hampir seluruh kabupaten/kota di Aceh kini berada dalam status darurat bencana selama 14 hari, mulai 28 November hingga 11 Desember.

Angkanya mengejutkan dimana 119.998 jiwa terdampak, 20.759 mengungsi, 30 meninggal dunia dan 16 orang masih hilang.

Dari Pidie hingga Aceh Selatan, total 16 kabupaten/kota diterjang banjir, longsor, atau keduanya. Banyak warga bercerita bagaimana air naik hanya dalam 15–20 menit, tak memberi waktu lebih dari sekadar menyelamatkan pakaian di badan.

Seorang relawan BPBA menggambarkan Aceh sebagai “peta penuh titik merah”, tempat seluruh regu penyelamat bergerak tanpa jeda.

Di Kota Solok, Sumatera Barat, hujan tak berhenti mengguyur sejak akhir pekan. Air mulai masuk permukiman di Kelurahan Koto Panjang dan Nan Balimo, kemudian merambat ke Kecamatan Lubuk Sikarah, menenggelamkan jalan dan hunian. Pemkab Solok menetapkan darurat bencana 14 hari. 3.362 warga kini berhadapan dengan lumpur dan genangan yang tak kunjung surut.

Di beberapa titik, warga terlihat menunggu bantuan di lantai dua rumah tetangga karena rumah mereka sudah tak bisa dihuni.

Di Deliserdang, Sumut, sejumlah desa seperti Tanjung Morawa, Deli Tua, Sunggal, hingga Hamparan Perak berubah menjadi wilayah-wilayah kecil yang dikepung air.

Hujan tak berhenti sejak 27 November dan membuat 30 desa di 8 kecamatan terendam, 70 ribu lebih warga terdampak, satu orang meninggal, jembatan gantung rusak dan putus total

Bagi warga Sunggal dan Percut Sei Tuan, pengalaman banjir kali ini jauh lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya: air naik cepat, arus lebih kuat, dan aliran listrik padam di banyak dusun.

Di Malalak Timur, Kabupaten Agam, suara seperti “deru truk besar” menjadi tanda bencana datang. Dalam hitungan detik, banjir bandang menyapu rumah, ladang, dan akses jalan.

Basarnas menemukan 10 warga meninggal, sementara 135 kepala keluarga mengungsi ke lokasi aman.
Lima warga lain masih hilang, dan proses pencarian terhenti berulang kali akibat hujan yang kembali turun.

Sejak 24 November, Tapanuli Utara seperti tak diberi kesempatan bernapas. Dalam tiga hari, 54 kejadian bencana tercatat:

  • 40 longsor
  • 12 banjir
  • 2 pohon tumbang

Hingga 27 November, angka korban:

  • 9 meninggal dunia
  • 31 masih hilang
  • 134 warga mengungsi

Material longsor menutup hampir seluruh akses jalan desa. Seorang warga Hutagalung menggambarkan situasi ini sebagai “seolah semua bukit bergerak dalam satu malam”.

Jika ada kabupaten yang paling merasakan isolasi total, itu adalah Tapanuli Tengah.

Bupati Masinton Pasaribu menggambarkan kondisi dengan satu kalimat yang menyesakkan.

“Tapanuli Tengah terisolir dari jalan darat, listrik, dan internet,” ujar Masinton.

Akses dari Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Beberapa jembatan roboh.
Sinyal telepon hilang total.
Mobilisasi logistik hanya memungkinkan melalui:

  • Bandara Pinangsori, atau
  • Pelabuhan Sibolga

Di beberapa desa, warga menyalakan api sepanjang malam untuk memberi tanda bagi tim pencari.

Selama 18–26 November, banjir melanda 9 kabupaten/kota di Aceh dan memaksa sejumlah daerah menetapkan status darurat hidrometeorologi.

Sementara di Sumatera Utara, bencana melanda 12 kabupaten/kota, dari Mandailing Natal hingga Gunungsitoli.

Di Sumatera Barat, jalan nasional Padang–Pasaman Barat terputus akibat genangan air setinggi 30–70 cm, membuat perjalanan antardaerah lumpuh seketika.

Hujan tak hanya menutup jalan dan merusak rumah tapi juga menghapus sementara hubungan antarwilayah.

Di tengah genangan yang luas dan longsor yang masih rawan, regu SAR, BPBD, aparat setempat, hingga relawan terus bergerak, bergantian dengan hujan yang belum sepenuhnya reda.

Akhir November 2025 menjadi pengingat keras: bencana hidrometeorologi bukan lagi kejadian musiman, tetapi kenyataan yang harus dihadapi dengan kesiapan baru.

Dan bagi ribuan warga yang rumahnya hilang atau terpisah dari keluarga, mereka kini hanya menunggu satu hal:
cuaca yang bersahabat, agar pencarian bisa dilanjutkan dan hidup perlahan kembali pulih. (NVR)

By editor2