JAKARTA, AKURATNEWS – Blog khusus The University of Melbourne, ‘Indonesia at Melbourne’ memuat tulisan soal capres Koalisi Perubahan, Anies Baswedan. ‘Indonesia at Melbourne’ sendiri adalah platform analisis, penelitian dan komentar tentang Indonesia kontemporer yang dijalankan Centre for Indonesian Law, Islam and Society (CILIS) di Melbourne Law School.

Dalam sebuah artikelnya bertajuk ‘2024 elections: the third candidate, Anies Baswedan’ yang ditulis Wakil Direktur CILIS dan Editor Eksekutif untuk Australian Journal of Asian Law, Helen Pausacker disebutkan bagaimana di tiga kali pemilu di Indonesia sebelumnya yakni 2009, 2014 dan 2019 dimana hanya ada dua kandidat yang bersaing di puncak jabatan presiden. Namun di Pemilu 2024 mendatang, kemungkinan akan ada tiga nama kandidat.

Di artikel itu disebutkan pula, sebenarnya jajak pendapat menunjukan Anies tidak mungkin maju ke putaran kedua sebagai calon presiden. Tapi, kata Helen, Anies tampaknya bertekad untuk tetap maju dengan dukungan dari koalisi tiga partainya Nasional Demokrat (NasDem), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Demokrat.

Menanggapi hal ini, Kordinator Sahabat Anies Internasional (SAI), Dr. Robi Nurhadi melihat, kebenaran hasil jajak pendapat itu dibatasi waktu. Artinya, hasil kajian ilmiah terhadap fakta sosial seperti pendapat masyarakat, bisa berubah dari waktu ke waktu.

“Jadi, kalau metodologi jajak pendapat tersebut benar sekalipun, tetap saja tidak bisa digunakan untuk memastikan apa yang terjadi pada Februari 2024 nanti. Apalagi kalau ada kesalahan metodologis, maka kemampuan prediktifnya gagal,” ujar Robi di Jakarta, Minggu (13/8).

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Nasional (UNAS) ini menambahkan, Banyak faktor yang bisa mempengaruhi perubahan pilihan politik masyarakat dalam Pilpres 2024 nanti.

“Kalau reputasi politik Prabowo dan Ganjar menurun jelang Pilpres, maka Anies bisa menang satu putaran. Prabowo dan Ganjar merupakan calon presiden dari kelompok penguasa sekarang, Jadi kalau kepuasan masyarakat semakin menurun terhadapnya maka imbasnya bisa ke mereka berdua. Begitu pun sebaliknya terhadap Anies,” papar Robi.

Apalagi, imbuhnya, politik itu cair. Segala perubahan bisa dimungkinkan terjadi. Maka stamina untuk mempertahankan dukungan publik menjadi sangat penting. “Jadi, hasil jajak pendapat yang menunjukan Anies tidak mungkin maju ke putaran kedua adalah kesimpulan yang terlalu dini,” tandasnya. (NVR)

By Editor1