JAKARTA, AKURATNEWS.co – China dan Jepang kembali berada dalam pusaran konflik diplomatik setelah komentar spontan Perdana Menteri Sanae Takaichi memicu reaksi keras dari Beijing.

Meskipun Takaichi tidak bermaksud memberi sinyal perubahan kebijakan menuju sikap lebih keras, ucapannya telah membuka perselisihan terbesar kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.

Dua pejabat pemerintah Jepang bahkan menyebutkan bahwa Takaichi akan menghadapi kesulitan besar dalam meredakan konflik yang berpotensi melukai ekonomi Negeri Sakura.

Ketegangan Bermula dari Pernyataan PM Takaichi

Dilansir dari Beritasatu, kisruh ini bermula ketika PM Sanae Takaichi memberikan komentar spontan mengenai kemungkinan respons militer Jepang jika China menyerang Taiwan.

Meski tidak dimaksudkan untuk menunjukkan sikap garis keras, ucapan tersebut langsung menimbulkan kegaduhan diplomatik terbesar antara kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.

Dua pejabat pemerintah yang memahami isu ini mengungkapkan bahwa Takaichi tampaknya akan kesulitan menemukan jalan untuk meredakan konflik yang sudah terlanjur membesar.

Pada sisi lain, jajak pendapat menunjukkan bahwa komentar tersebut tidak menggoyahkan popularitas Takaichi di tingkat domestik.

Kantor PM menegaskan bahwa pernyataan itu tidak mengubah posisi resmi pemerintah dan tetap terbuka untuk dialog dengan China guna menjaga stabilitas hubungan.

Sebagai bentuk ketidaksenangan, China mulai menerapkan langkah-langkah yang bertujuan memberi tekanan ekonomi terhadap Jepang.

Beijing menghentikan impor produk laut Jepang, membatalkan sejumlah pertemuan resmi, serta melakukan boikot perjalanan yang sangat memukul sektor pariwisata Jepang.

Puncaknya, komentar Takaichi terkait Taiwan menjadi duri diplomatik yang tidak bisa ia cabut kembali. Salah satu pejabat Jepang mengakui, “Kami tidak bisa menariknya kembali,” setelah Beijing menuntut permintaan maaf dan pencabutan pernyataan tersebut.

Cina Menutup Pintu Diplomasi, Jepang Kehilangan Arah

Sinyal keretakan hubungan semakin terlihat ketika Beijing menolak kemungkinan pertemuan antara Takaichi dan Perdana Menteri China Li Qiang dalam forum G20.

Pengamat menilai situasi ini mirip dengan krisis 2012, ketika nasionalisasi pulau sengketa oleh Jepang memicu aksi anti-Jepang besar-besaran di China, membuat kedua pemimpin negara tidak bertemu selama lebih dari dua tahun.

Jika krisis kali ini berlanjut dengan pola serupa, potensi kerusakan ekonomi bagi Jepang diprediksi bisa sangat besar. Nomura Research Institute memperkirakan bahwa boikot perjalanan dari China saja dapat menggerus lebih dari US$ 14 miliar per tahun dari perekonomian Jepang.

Risiko Besar bagi Rantai Pasokan dan Industri Strategis

China saat ini memasok sekitar 60% kebutuhan logam tanah jarang yang digunakan dalam berbagai industri Jepang, mulai dari elektronik hingga otomotif.

Penghentian atau pengurangan suplai oleh Beijing dapat menimbulkan kerusakan ekonomi yang jauh lebih luas, terutama jika dikombinasikan dengan boikot terhadap produk Jepang seperti yang terjadi pada 2012. Dampaknya bisa menurunkan penjualan hingga setara 1% PDB Jepang.

Hambatan diplomatik pun semakin terasa setelah dalam pertemuan dengan delegasi Jepang, pejabat senior China Liu Jinsong menyatakan bahwa diskusi berjalan dalam suasana “hikmat” tetapi tetap menunjukkan ketegangan.

Gestur diplomasi yang dingin, termasuk penampilan Liu dengan pakaian bernuansa simbolis dan sikap tubuh yang dianggap kurang menghormati, makin memperlihatkan jurang yang semakin dalam antara kedua pihak.

Retorika Diplomatik Mengarah ke Ancaman Terselubung

Situasi semakin memanas ketika salah satu diplomat China mengunggah pernyataan bernada ancaman di media sosial dengan metafora kekerasan yang menyebut kritik terhadap Beijing sebaiknya “memotong leher mereka sendiri”.

Figur publik nasionalis di China bahkan menyebut PM Takaichi sebagai “penyihir jahat,” sementara sebuah kartun yang dibagikan akun resmi militer China menggambarkannya membakar konstitusi pasifis Jepang.

Seorang diplomat senior AS menilai bahwa ketegangan antara China dan Jepang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Menurutnya, satu-satunya harapan muncul ketika hubungan Beijing dan Washington kembali menegang sehingga China terdorong untuk merangkul Jepang.

Dampak Dahsyat Kisruh China-Jepang

Ketegangan politik ini tidak hanya memengaruhi hubungan bilateral, tetapi juga mengantarkan dampak domino pada berbagai sektor ekonomi dan sosial. Berikut lima dampak terbesar yang tengah dirasakan kedua negara.

1. Setengah juta wisatawan China batal ke Jepang

Sektor pariwisata menjadi korban pertama dari memuncaknya sengketa ini. Diperkirakan lebih dari 500.000 penerbangan dari China ke Jepang dibatalkan hanya dalam kurun 15-17 November 2025. Ini merupakan pukulan besar, mengingat wisatawan China dikenal sebagai penyumbang belanja tertinggi di Jepang.

Maskapai-maskapai besar China, termasuk yang dimiliki negara, memberikan pengembalian dana penuh kepada penumpang. Bahkan sejumlah agen perjalanan menghentikan pemrosesan aplikasi visa, mengunci total aliran wisatawan baru ke Jepang.

2. Saham ritel dan pariwisata jeblok di bursa Tokyo

Kejatuhan sektor pariwisata langsung tercermin di pasar modal. Saham perusahaan ritel, maskapai, dan industri perjalanan Jepang mengalami kemerosotan tajam. Investor khawatir boikot oleh wisatawan China akan berdampak besar pada pendapatan perusahaan.

Keidanren, kelompok bisnis terbesar Jepang, memperingatkan pemerintah bahwa stabilitas politik adalah kunci utama keberlangsungan ekonomi. Ketidakpastian yang disebabkan konflik ini membuat pelaku pasar semakin waswas.

3. Retorika “potong leher” memperkeruh situasi

Komentar PM Takaichi dianggap oleh Beijing sebagai provokasi, memicu retorika agresif dari diplomat China yang menyebut kritik terhadap kebijakan Beijing harus “memotong leher mereka”. Meski dihapus, unggahan itu memperlihatkan betapa dalamnya kemarahan China.

Jepang dan China saling memanggil duta besar untuk melayangkan protes, sementara Jepang bahkan mengirim diplomat senior ke Beijing guna mencari jalan meredakan ketegangan.

4. Pertukaran budaya dibekukan, film Jepang ditunda

Boikot juga merambah sektor budaya. Penayangan film Jepang di China ditunda tanpa batas waktu, dan film yang sudah beredar mengalami penurunan pendapatan tajam akibat sentimen publik. Kegiatan pertukaran budaya pun banyak dibatalkan, memperlebar jurang hubungan sosial kedua negara.

5. Risiko jangka panjang terhadap rantai pasokan

Pengamat memperingatkan dampak jangka panjang terhadap hubungan dagang yang sangat penting. Takakage Fujita, tokoh masyarakat sipil Jepang, menyebut tindakan Takaichi sebagai tindakan “sembrono” yang membahayakan hubungan ekonomi vital Jepang-China.

Menurutnya, ekonomi Asia Timur akan tetap berpusat pada China dalam beberapa dekade mendatang, sehingga hubungan ekonomi dengan Beijing seharusnya menjadi prioritas utama Jepang.

Dengan ketegangan yang belum menunjukkan tanda mereda, dunia kini menunggu apakah kedua kekuatan Asia ini mampu menemukan jalan damai atau justru terjerumus dalam konflik yang lebih dalam./Ib.

By Editor1