JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di tengah hiruk-pikuk peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-80, nama Frans dan Alex Mendur kembali bergema.
Bukan sebagai tokoh dalam parade, bukan pula dalam pidato-pidato kenegaraan. Mereka hadir dalam ruang yang lebih sunyi: ruang memori dan keadilan yang belum tuntas. Dua bersaudara yang memotret kelahiran bangsa ini, tetapi hingga kini belum diakui sebagai Pahlawan Nasional.
Tanggal 17 Agustus 1945. Jakarta belum sepenuhnya merdeka. Tentara Jepang masih berkeliaran, larangan peliputan politik masih berlaku, dan kamera bisa dianggap sebagai senjata.
Namun, dua wartawan foto dari Domei Tsushin (kantor berita Jepang di Indonesia) berlari melawan waktu dan risiko. Frans Mendur menyusup ke halaman rumah Laksamana Maeda di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, mengangkat kameranya, dan memotret detik-detik Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sementara Alex Mendur berada beberapa langkah di belakang, turut merekam suasana genting dan haru saat bendera Merah Putih dikibarkan untuk pertama kalinya. Dalam diam dan detik kamera, mereka menyelamatkan sejarah.
Kini, foto-foto karya mereka adalah satu-satunya dokumentasi visual resmi dari peristiwa monumental tersebut. Tanpa mereka,
Indonesia hanya punya cerita, bukan wajah. Dunia hanya bisa membayangkan, bukan menyaksikan. Namun sejarah kadang lupa pada penyelamatnya.
Delapan dekade telah berlalu. Sejumlah pahlawan angkat senjata telah diberi penghargaan tertinggi oleh negara. Tapi Frans dan Alex Mendur, yang menyelamatkan momen paling sakral dalam sejarah republik ini, masih menunggu pengakuan resmi.
“Apalah arti sebuah proklamasi, jika tak bisa diwariskan? Dan apa artinya warisan jika tak ada yang menyelamatkannya?” ujar Dar Edi Yoga, Ketua Umum Forum Pemred Media Siber Indonesia di Jakarta, Minggu (3/8).
Ia menyampaikan bahwa keberanian Frans dan Alex bukan hanya layak dikenang, tetapi juga dihormati. “Foto-foto itu bukan sekadar dokumentasi, mereka adalah simbol perlawanan jurnalis terhadap penjajahan,” tambahnya.
Forum Pemred Media Siber Indonesia pun telah menggagas pembentukan Komite Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional bagi Frans dan Alex Mendur.
Sekjen Forum, Penerus Bonar Karo-Karo, menyebut bahwa inisiatif ini akan melibatkan organisasi pers, sejarawan, akademisi, dan elemen masyarakat sipil.
“Kami tidak akan membiarkan sejarah dicatat tanpa keadilan. Sudah saatnya negara menghargai jasa para jurnalis yang berjuang dengan cara mereka sendiri: lewat lensa, bukan senjata,” tegas Bonar.
Mereka memang tak menenteng senapan. Mereka tak berorasi di podium. Tapi risiko yang mereka hadapi tak kalah besar. Kamera mereka bisa dihancurkan, mereka bisa ditangkap, bahkan dieksekusi. Tapi Frans dan Alex memilih mengambil gambar, menyelundupkan film, dan memastikan sejarah tetap hidup.
Ketika Soekarno selesai membacakan teks proklamasi, Frans membawa gulungan filmnya ke kantor Harian Asia Raya, lalu menyembunyikannya di dalam tanah selama beberapa hari untuk menghindari razia Jepang. Sementara Alex sempat ditahan dan fotonya disita, tak pernah diketahui ke mana hilangnya.
Bagi sejarawan, tindakan mereka bukan sekadar peliputan. Ini adalah aksi keberanian sipil. Ini adalah bentuk perjuangan dalam sunyi.
Kini, di usia ke-80 kemerdekaan Indonesia, bangsa ini dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah kita akan terus membiarkan pejuang-pejuang visual itu hanya dikenang dalam buku sejarah, tanpa gelar yang setimpal?
Setiap Agustus, foto-foto karya Frans Mendur menghiasi ruang kelas, museum, dan televisi. Tapi nama di balik karya itu tetap berada di pinggir panggung sejarah. Sementara itu, anak-anak muda Indonesia, para pewaris kemerdekaan, terus bertanya: siapa pemotret kemerdekaan itu? Jawabannya belum hadir dalam bentuk penghargaan negara.
Frans dan Alex Mendur telah tiada. Tapi karya mereka hidup. Bahkan lebih hidup daripada banyak narasi sejarah yang kini mulai dilupakan. Mereka adalah penjaga ingatan bangsa.
Dan jika bangsa ini tak mampu menegakkan keadilan atas ingatan itu, maka kita harus bertanya kembali pada diri kita: seberapa sungguh-sungguh kita merdeka?
Sudah waktunya Frans dan Alex Mendur berdiri sejajar dengan para pahlawan lainnya. Sebab tanpa mereka, Indonesia tak punya wajah pada hari kelahirannya.
Untuk diketahui, Komite Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Frans dan Alex Mendur dijadwalkan mulai bekerja tahun ini, dan diharapkan pengajuan resmi bisa dilakukan jelang peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2025. (NVR)
