JAKARTA, AKURATNEWS.co  – Masyarakat kita masih banyak yang  berpikir bahwa diabetes  hanya menyerang orang dewasa. Padahal, kasus diabetes pada anak baik tipe 1 maupun tipe 2 terus meningkat dari tahun ke tahun.

Menurut Data dari IDF Diabetes Atlas edisi ke-11 (2024) mencatat sebanyak 20,4 juta penduduk Indonesia hidup dengan diabetes, dan jumlah itu diperkirakan akan menembus 28,6 juta jiwa pada tahun 2050, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan penderita diabetes tertinggi kelima di dunia.

Salah satu penyebab utamanya adalah faktor genetik. Sebab, jika orangtua memiliki riwayat diabetes, risiko anak untuk mengalaminya akan meningkat signifikan.

“Kalau salah satu orangtua memiliki diabetes, kemungkinan anak mengalami hal serupa sekitar 3 kali lipat. Kalau dua-duanya ada diabetes, risikonya jadi 6 kali lipat lebih tinggi,”

Demikian kata dr. Dicky L. Tahapary, Sp.PD-KEMD, Ph.D, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes dalam media “Hari Diabetes Sedunia Obesitas Teratasi, Diabetes Terkendali” bersama Novo Nordisk Indonesia di Jakarta, Kamis, 13 November 2025.

Tingginya faktor risiko itu menggambarkan betapa kuatnya peran faktor keturunan dalam memicu diabetes. Namun, seperti yang sering disampaikan dr. Dicky L. Tahapary, genetik bukanlah vonis.

“Faktor genetik memang tidak bisa diubah, tapi gaya hidup sangat menentukan apakah risiko itu akan muncul atau tidak,” jelasnya.

Anak-anak dengan risiko genetik perlu lebih diperhatikan, terutama jika muncul tanda-tanda awal diabetes. Berikut beberapa tanda anak dengan diabetes, terutama tipe 2 yang bisa jadi acuan orangtua dalam penanganan diabetes sejak dini.

1. Sering mengompol

Salah satu gejala yang paling sering terlihat adalah sering buang air kecil atau bahkan kembali ngompol di malam hari atau mengompol, padahal sebelumnya sudah tidak. Hal ini terjadi karena kadar gula darah yang tinggi membuat ginjal berusaha mengeluarkan kelebihan gula melalui urine.

2. Perhatikan kurva pertumbuhan anak

Orangtua perlu memantau pertumbuhan anak dengan cermat. Bila berat badan atau tinggi badan tidak naik sesuai dengan kurva pertumbuhan yang seharusnya, bisa jadi ada masalah metabolik yang perlu diperiksa lebih lanjut.

“Ini yang paling mudah dikenali. Dengan melihat kurva pertumbuhannya, kalau terhitung obesitas, maka risiko diabetesnya juga semakin tinggi karena kita tahu obesitas itu dapat menjadi pintu masuknya banyak penyakit, termasuk diabetes,” tambahnya.

Untuk mengurangi faktor risiko anak terkait diabetes, orangtua perlu mengontrol berat badan anak agar tetap dalam kondisi normal sesuai kurva pertumbuhan.

3. Sering haus

Selain itu, anak biasanya tampak sering haus dan minum dalam jumlah banyak. Meskipun nafsu makannya meningkat, berat badan justru bisa turun tanpa sebab yang jelas. Anak tampak lemas, cepat lelah, dan kurang berenergi. Kondisi ini muncul karena tubuh tidak mampu memanfaatkan gula sebagai sumber tenaga secara optimal.

4. Tengkuk leher yang menghitam

Pada anak laki-laki, khususnya saat memasuki usia remaja, tanda diabetes lain yang kerap muncul adalah kulit yang menghitam di bagian tengkuk atau leher.

Kondisi ini disebut akantosis nigrikans dan sering menjadi tanda adanya resistensi insulin, fase awal sebelum seseorang benar-benar mengalami diabetes tipe 2.

5. Haid tidak teratur

Sementara pada anak remaja perempuan, tanda yang perlu diwaspadai adalah menstruasi yang tidak teratur, yang juga bisa berkaitan dengan resistensi insulin.

Lanjut dr. Dicky, gaya hidup modern menjadi pemicu besar meningkatnya kasus diabetes pada anak.

“Anak-anak sekarang cenderung kurang bergerak, lebih banyak duduk, dan terlalu sering mengonsumsi makanan manis. Kombinasi ini membuat risiko diabetes meningkat, apalagi jika ada faktor genetik,” ujarnya.

Sebagai upaya pencegahan atau meminimalisasi faktor risiko, kuncinya ada pada pengendalian berat badan dan pola hidup aktif. Anak sebaiknya rutin beraktivitas fisik minimal satu jam setiap hari entah itu bermain di luar rumah, bersepeda, atau berolahraga ringan.

Pola makan juga perlu dijaga dengan membatasi makanan tinggi gula dan minuman manis, serta memperbanyak konsumsi buah, sayur, dan makanan tinggi serat.

Satu hal yang tak kalah penting, orangtua yang memiliki riwayat diabetes perlu menjadi contoh. Anak belajar dari kebiasaan di rumah. Jika orangtua menjaga pola makan dan rutin berolahraga, anak akan lebih mudah meniru gaya hidup sehat  tersebut./Ib.

By Editor1