JAKARTA, AKURATNEWS.co – Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan karya yang mengangkat kekuatan hubungan keluarga melalui film drama bertajuk ‘Dua Nafas’.
Film hasil kolaborasi sineas Indonesia dan Korea Selatan ini membawa kisah sederhana tentang kasih sayang, pengorbanan, serta penyesalan yang sering hadir dalam hubungan antara orang tua dan anak.
Mengusung tema keluarga sebagai pusat cerita, :Dua Nafas’ mencoba menghadirkan drama emosional yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Film ini tidak hanya menawarkan kisah mengharukan, tetapi juga menjadi jembatan budaya antara dua negara yang selama ini memiliki hubungan erat melalui industri kreatif dan budaya populer.
Kolaborasi Indonesia-Korea dalam film ini menjadi salah satu upaya memperluas warna perfilman nasional dengan menggabungkan pendekatan sinema Korea yang dikenal kuat dalam membangun emosi karakter dengan kekayaan cerita lokal Indonesia.
Film ini disutradarai Kwon Dae-Hyung, dengan jajaran kreator Indonesia yang terlibat dalam proses produksi, termasuk Hasto Broto sebagai penulis skenario, Asep sebagai Director of Photography (DOP), serta sejumlah kru kreatif lainnya.
‘Dua Nafas’ mengisahkan perjalanan hidup Anto, seorang anak yang harus menjalani perubahan besar ketika ia tinggal bersama neneknya, Mariyam, di sebuah desa.
Bagi Anto yang sebelumnya terbiasa dengan kehidupan perkotaan, kehidupan sederhana di desa menjadi tantangan tersendiri. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan yang jauh dari fasilitas modern dan menjalani hari-hari bersama sang nenek dalam rumah kecil yang penuh kesunyian.
Awalnya, Anto merasa asing dan sulit menerima keadaan tersebut. Namun perlahan, hubungan antara Anto dan Mariyam mulai tumbuh. Sang nenek memberikan perhatian, kasih sayang, dan pengorbanan yang membuat Anto menemukan makna keluarga yang sebenarnya.
Waktu kemudian berlalu. Enam belas tahun setelah masa kecilnya, Anto tumbuh menjadi seorang dokter muda yang sukses. Dengan rasa bangga, ia kembali ke desa membawa pencapaian terbesar dalam hidupnya sebagai hadiah untuk Mariyam.
Namun kepulangannya justru menjadi momen yang penuh kehilangan. Anto mendapati Mariyam telah meninggal dunia sebelum ia sempat menyampaikan rasa terima kasih dan membalas seluruh pengorbanan nenek yang telah membesarkannya.
Konflik emosional inilah yang menjadi inti kekuatan cerita ‘Dua Nafas’, tentang cinta yang sering baru disadari ketika kesempatan untuk mengungkapkannya telah hilang.
Dari sisi sinematografi, ‘Dua Nafas’ memiliki potensi kuat melalui pendekatan visual yang mengutamakan kedekatan emosional karakter.
Pendekatan human interest menempatkan ekspresi dan pengalaman tokoh sebagai pusat utama gambar.
Alih-alih mengandalkan visual spektakuler, film ini lebih menonjolkan detail kecil seperti tatapan, gestur tangan, suasana rumah, hingga ruang-ruang sederhana yang memperkuat hubungan antara Anto dan Mariyam.
Penggambaran desa menjadi elemen penting dalam membangun atmosfer cerita. Lingkungan yang sederhana tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi juga menjadi simbol perjalanan batin Anto. Desa menjadi ruang tempat ia belajar tentang kesabaran, kasih sayang, dan arti keluarga.
Sementara itu, permainan cahaya alami dapat memberikan nuansa hangat pada adegan-adegan keluarga. Rumah kecil Mariyam misalnya, dapat menjadi ruang sinematik yang menggambarkan kesederhanaan sekaligus kehangatan hubungan mereka.
Salah satu daya tarik utama ‘Dua Nafas’ adalah tema yang mudah diterima lintas budaya. Hubungan antara nenek dan cucu menjadi cerita universal yang dapat dirasakan penonton Indonesia maupun Korea Selatan.
Film ini tidak hanya berbicara mengenai kehilangan, tetapi juga mengajak penonton mempertanyakan kembali hubungan mereka dengan keluarga.
Pesan yang dibawa cukup kuat: terkadang seseorang terlalu sibuk mengejar keberhasilan hingga lupa menghargai orang-orang yang selalu mendukungnya sejak awal.
Melalui karakter Anto, film ini menggambarkan realitas banyak orang yang baru memahami besarnya sebuah pengorbanan setelah waktu tidak lagi bisa dikembalikan.
Kehadiran ‘Dua Nafas’ menjadi bukti bahwa kolaborasi perfilman Indonesia dan Korea Selatan tidak harus selalu membawa cerita besar atau tema global. Kisah sederhana tentang keluarga justru dapat menjadi medium yang kuat untuk mempertemukan dua budaya.
Dengan pendekatan drama keluarga, film ini berpotensi menarik penonton yang menyukai cerita emosional seperti film-film Korea yang mengedepankan kedalaman karakter, sekaligus tetap mempertahankan identitas lokal Indonesia melalui latar dan nilai sosial yang diangkat.
‘Dua Nafas’ bukan hanya sebuah film tentang kehilangan, tetapi juga pengingat bahwa kasih sayang keluarga sering kali menjadi sesuatu yang paling berharga dalam hidup. (NVR)
