JAKARTA, AKURATNEWS.co – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) resmi meluncurkan Kick Off Kompetisi Santripreneur 2025, sebuah inisiatif yang mengusung harapan besar: membangun kemandirian ekonomi dari bilik-bilik pesantren.
Tak sekadar seremoni, peluncuran ini menjadi titik awal dari gerakan besar yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan keberanian berwirausaha. Program Santripreneur dirancang mengubah paradigma santri dari pencari ilmu menjadi pelaku usaha yang inovatif, produktif, dan mandiri secara ekonomi.
Ketua BAZNAS, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, membuka acara dengan pidato penuh semangat. Ia menekankan bahwa santri memiliki modal spiritual yang sangat kuat.
“Santri itu kekuatannya ada pada tirakat dan doa. Tapi jangan salah, usahanya juga tidak kalah berani,” ujarnya, Selasa (8/7).
Ia mengajak semua pihak melihat pesantren bukan lagi sekadar tempat belajar agama, melainkan ladang subur kewirausahaan.
Mulai dari ayam potong, sayuran, hingga telur, semua bisa dikelola oleh santri untuk menyokong program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang digalakkan pemerintah.
“Ke depan, kami punya cita-cita membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di setiap desa, yang terkoneksi langsung dengan koperasi desa. Santri bisa menjadi penggerak ekonomi dari akar rumput,” ucap Noor.
Ia juga mencontohkan kisah inspiratif Misthofa, pemenang kedua Santripreneur 2023 yang kini mengekspor aksesori dari pelepah pisang ke Amerika Serikat, Chili, dan Argentina.
“Ini bukti bahwa santri bisa menembus pasar global,” tegasnya.
Sejak diluncurkan pertama kali pada 2022, program Santripreneur telah menjangkau 1.185 santri dari 948 pesantren, tersebar di 176 kabupaten/kota di 26 provinsi. Tahun ini, kompetisi Santripreneur hadir dalam dua tahap dengan enam klaster usaha, yakni:
- Tahap 1: Peternakan, Industri Kreatif (Konten Kreator), dan Travel Haji & Umrah
- Tahap 2: Pertanian, Fashion, dan Barista
Peserta yang mendaftar akan melalui seleksi administrasi untuk menjaring 100 besar, dilanjutkan audisi hingga terseleksi 50 finalis.
Mereka akan menjalani bootcamp pelatihan wirausaha dan berhak menerima Bantuan Modal Usaha Langsung senilai Rp3 juta hingga Rp20 juta, serta pendampingan dari pakar bisnis nasional.
Pimpinan BAZNAS Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, M.A., mengungkapkan, banyak alumni santri peserta program yang kini mulai mendekati batas nishab zakat, tanda pendapatan mereka mulai berkelanjutan.
“Harapan kami, mereka bukan hanya keluar dari status mustahik, tapi naik kelas menjadi muzaki, yang bisa berzakat dan membantu orang lain,” ujarnya.
Hadir pula dalam peluncuran, Hamdan Hamedan, Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan. Ia menyebut program ini sebagai ikhtiar kolektif membentuk wajah baru ekonomi nasional dari pesantren, oleh santri, dan untuk Indonesia.
“Data menunjukkan kita punya 4 juta santri di seluruh Indonesia. Mereka bukan sekadar jumlah, tapi kekuatan sosial dan ekonomi yang luar biasa. Kita harus mengelolanya dengan serius,” katanya.
Hamdan menilai Santripreneur sejalan dengan semangat Astacita Pemerintah Presiden Prabowo, yang menitikberatkan pada pemerataan kesempatan kerja dan pemberdayaan ekonomi rakyat.
BAZNAS tak berjalan sendiri. Dalam acara tersebut hadir pula tokoh-tokoh pendukung gerakan ekonomi pesantren seperti:
- Rinaldi Nur Ibrahim, influencer sekaligus pendiri Mutawwifmu
- Agus Setia Irawan, Ketua Koperasi Pesantren Al-Ittifaq, Bandung
- Ranti Wiliarsih, Peneliti PSP3 IPB University
- Rosyad Al-Ghani, Direktur PT Abdi Karya Nagara
Ke depan, BAZNAS akan menggandeng lebih banyak pihak, termasuk akademisi dan koperasi lokal, untuk membangun rantai pasok produk pesantren agar lebih terintegrasi dalam sistem ekonomi nasional.
Kompetisi Santripreneur bukan sekadar ajang perlombaan. Ia adalah ruang pemberdayaan, tempat di mana para santri didorong untuk bermimpi besar dan mengeksekusinya. Dari barisan pesantren inilah diharapkan lahir para pengusaha tangguh, yang mampu memberi manfaat untuk umat dan bangsa.
“Kita ingin membuktikan bahwa santri bisa menjadi motor penggerak ekonomi. Mereka bukan hanya penerus ulama, tapi juga pelopor usaha yang berkah dan maslahat,” imbuh Noor Achmad.
Dengan semangat spiritual yang menyatu dengan tekad wirausaha, Santripreneur 2025 bukan hanya membangun ekonomi tapi juga membangun peradaban. (NVR)
