JAKARTA, AKURATNEWS.co — Perang Iran Vs As-Israel tak hanya memunculkan kekuatan rudal diantara ketiganya, tetapi  juga memunculkan pembicaraan yang kuat di masyarakat tentang  aliran Syiah-Sunni.

Seperti kita ketahui, jika bicara iran yang terpikir oleh masyarakat umumnya langsung berkaitan dengan Syiah, karena Syiah  dianut sebagian besar rakyat Iran.

Untuk memperluas wawasan dan cara berfikir kita, ada baiknya kita mengenal lebih dekat tentang apa itu Syiah?.

Syiah sering disebut seolah satu aliran tunggal, padahal di dalamnya ada beberapa cabang dengan perbedaan teologi, fikih, dan pandangan politik yang cukup jauh.

Dalam Syiah ada tiga aliran utama yang eksis hingga hari ini, yaitu.  Zaidiyah, Ismailiyah, dan Itsna ‘Asyariyah atau Syiah Dua Belas Imam.

Perbedaan paling mendasar di antara mereka terletak pada jumlah imam yang diakui dan konsep kepemimpinan pasca Nabi Muhammad SAW.

Dari ketiganya, ulama Sunni umumnya menilai Syiah Zaidiyah paling dekat dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dari sisi akidah dan fikih.

  1. Syiah Zaidiyah

Dinamakan dari Imam Zaid bin Ali bin Husain, cicit Nabi. Pusatnya di Yaman dan dianut mayoritas suku Houthi. Ciri utama adalah Imamah. Mengakui Ali, Hasan, Husain sebagai imam, lalu Imam Zaid. Setelah itu, imam tidak harus ma’shum atau ditunjuk langsung Allah. Siapa pun dari keturunan Hasan/Husain yang alim, adil, dan berani angkat senjata melawan kezaliman boleh jadi imam.

Dalam Zaidiyah, tidak ada konsep imam ghaib. Jadi secara Fikih Paling mirip Sunni, terutama mazhab Hanafi.

Zaidiyah menolak nikah mut’ah, menolak taqiyyah sebagai prinsip permanen, dan tidak mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman. Mereka tetap menghormati sahabat, hanya menilai Ali lebih utama.

Secara teologi, Zahidiyah menolak konsep bada’ dan raj’ah yang ada di Syiah Itsna Asyariyah. Dalam sifat Tuhan, Zaidiyah dekat dengan Mu’tazilah.

Mengenai Rukun, Zahidiyah sama dengan Sunni, 5 rukun Islam dan 6 rukun iman. Tidak ada rukun “wilayah/imamah”. Oleh sebb itu, titik temu ini banyak ulama menyebut Zaidiyah sebagai “jembatan” Sunni-Syiah.

Dialog ulama Sunni-Syiah di Yaman umumnya melibatkan tokoh Zaidiyah.

2. Syiah Ismailiyah

Dalam Syiah Ismailiyah dikenal dengan “Tujuh Imam” dan Batiniah. Namanya diambil dari Ismail bin Ja’far as-Shadiq. Berkembang jadi beberapa sub-sekte: Musta’li, Nizari/Aga Khan, dan yang paling dikenal adalah Dawoodi Bohra di India.

Ciri utama dari Ismailiyah adalah Imamah berhenti di 7 imam, dari Ali sampai Ismail bin Ja’far. Imam dianggap ma’shum dan punya otoritas batin. Imam Nizari masih hidup, saat ini dipimpin Aga Khan IV.

Doktrin Ismailiyah sangat kuat nuansa filsafat dan takwil batiniah. Ada konsep zahir dan batin dalam Al-Qur’an. Soal Fikih, Ismailiyah  Punya sistem fikih sendiri. Kalender hijriah Ismailiyah berbasis hisab, shalat 3 waktu, puasa kadang beda penetapan.

Dengan demikian, jarak antara Ismailiyah dengan Sunni cukup jauh, karena konsep imam yang hidup, takwil batin, dan ritual khusus.

3. Syiah Itsna ‘Asyariyah

Dalam Syiah Itsna ‘Asyariyah ada dua belas Imam. Aliran Syiah ini menjadi aliran yang  terbesar di dunia, dan menjadi  mazhab resmi Iran, Irak, Azerbaijan, Bahrain, dan Lebanon Selatan.

Dinamakan Syiah Itsna ‘Asyariyah dari keyakinan pada 12 imam, mulai Ali bin Abi Thalib hingga Muhammad al-Mahdi yang diyakini ghaib dan akan kembali akhir zaman.

Ciri utamanya adalah Imamah jadi rukun iman.  Syiah Itsna Asyariyah punya 5 rukun iman, yaitu; Tauhid, Kenabian, Imamah, Keadilan Allah, Hari Akhir.

Konsep imamah yaitu umat harus dipimpin imam yang ditunjuk Allah, jadi ini pembeda paling menonjol dengan Sunni.

Imam ma’shum 12 imam diyakini terjaga dari dosa dan punya ilmu laduni. Kedudukannya hampir seperti nabi, tapi bukan nabi. selain itu juga Wilayah,  Wajib mencintai dan mengikuti ahlul bait secara mutlak. Ini masuk sebagai rukun Islam versi Syiah menggantikan syahadat.

Taqiyyah, yaitu menyembunyikan keyakinan saat bahaya dibolehkan dan jadi ajaran imam.

Fikih: Punya kitab hadis sendiri seperti al-Kafi, membolehkan nikah mut’ah, azan ditambah “asyhadu anna Aliyyan waliyullah”, shalat dijamak tanpa uzur, sujud di atas turbah Karbala.

Ritual: Asyura 10 Muharram jadi hari paling sakral untuk mengenang Husain di Karbala, dengan majelis duka hingga memukul dada.

Jika dilihat dari ketia aliran ini, maka Syiah Zahidiyah oleh banyak kalangan dianggap paling dekat dengan Sunni yang dianut sebagian besar umat Islam di Indonesia.

Konsep imam Zahidiyah  tidak sakral, tidak ma’shum, tidak ghaib, tidak jadi rukun iman, tidak mencela Abu Bakar, Umar, Utsman.

Dalam hal fikih Zahidiyah Menolak mut’ah, mirip madzab Hanafi, shalat 5 waktu terpisah.Rukun Islam/Iman: Sama dengan Sunni, tidak menambah “wilayah”.

Sebaliknya, Itsna Asyariyah dan Ismailiyah punya jarak lebih jauh karena imamah jadi akidah, imam ma’shum, taqiyyah, dan perbedaan fikih yang signifikan.

Jika kita cermati, Syiah Zahidiyah menjadi yang paling dekat dengan Sunni. Meski Zaidiyah paling dekat, tetap ada perbedaan dengan Sunni, terutama soal syarat imam harus dari keturunan Hasan/Husain.

Merujuk sebuah kajian Ustad Mujiman ketika ditanya jemaah soal perbedaan Syiah dan Sunni dan Syiah itu Islam apa bukan?, maka Ustad Mujiman menjawab.

“Kalau Sunni adalah yang mengikuti sunnah Rasulullah SAW, kalau Syiah itu Syiatu Ali, yaitu pendukung Sayidina Ali., kata Mujiman.

Ustad Mujiman juga menerangkan tentang perbedaan Sunni dengan Syiah, beliau menybut perbedaan utamanya terletak pada penempatan shabat Ali dibanding dengan shabat lainnya.

“Dalam pandangan Syiah, yang paling utama adalah sahabat Ali, Sementara dalam Sunni yang pertama adalah sahabat Umar, kemudian Abubakar, kemudian sahabat Usman dan sahabat Ali,” lanjut Mujiman.

Lalu menyangkut pertanyaan jemaah soal Syiah itu Islam atau bukan?, Ustad mujiman menjawab bahwa ini harus dirinci.

“Kalau maksudnya Rofidoh, maka Rofidoh ini bukan Islam. Tetapi kalau Syiah itu masih umum. Kalau Syiah Rofidoh, itu salah satu keyakinannya adalah menganggap yang menjadi Khalifah itu sahabat Ali, sementara yang lain tidak berhak, dan dianggap merebut haknya sahabat Ali, selain itu juga menganggap Sayidah Aisyah yang merupakan istri Nabi SAW itu masuk neraka. Oleh sebab itu Syiah Rofidoh itu bukan Islam dan sudah dinyatakan oleh ulama madzab” jelas Mujiman.

Meski begitu, Ustad Mujiman juga menjelaskan bahwa Syiah itu bermacam-macam. Dalam Syiah Zaidi menurut Mujiman fikihnya masih sama dengan kita (Sunni), hanya saja dalam meletakkan sahabat yang pertama masih menempatkan sahabat Ali, tetapi masih mengakui sahabat yang tiga lainnya, yang berbeda hanya letak urutannya. Jadi kalau ditanya Syiah Islam apa bukan?, maka ditanya balik,  kalau Syiah yang mana yang dimaksud?, Jika yang dimaksud Syiah Rofidoh maka pandangan ulama Madzab sudah jelas maka Syiah Rofidoh  itu keluar dari Islam.  Tapi kalau Syiah yang lain  memerlukan rincian, Wawlaahu a’klam Bish-shawab,” tutup Mujiman. /Ib. Dirangkum dari berbagai sumber. Foto: Istimewa.

By Editor1