Ikan apu-sapau (Dok Freepik

 JAKARTA, AKURATNEWS.co — Baru-baru ini Gubernur Jakarta Pramono Anung memnginstruksikan pembersihan ikan Sapu-sapu di kawasan sungai yang ada di 5 wilayah kota Jakarta.

Tindakan ini diambil karena ikan sapu-sapu dianggap sudah sangat invasif dan mengancam ekosistem perairan lokal di Jakarta. Ikan ini merusak struktur tanah bantaran sungai, memakan telur ikan lokal, serta berkembang biak secara tidak terkendali.

Ikan sapu-sapu hasil tangkapan akan dimatikan dan dikubur secara higienis, atau diolah, untuk memastikan tidak dikonsumsi masyarakat karena berbahaya.

Mengonsumsi ikan sapu-sapu dari sungai Jakarta karena berisiko menyebabkan gangguan kesehatan serius, seperti gangguan saraf hingga potensi kanker, akibat kontaminasi logam berat.

Mengenal Ikan Sapu-sapu

Mungkin kamu pasti pernah melihat ikan pipih berwarna gelap dengan mulut menempel di kaca saat ditaruh di akuarium?,  Itu lah ikan Sapu-sapu.

Di balik perannya sebagai “tukang bersih” akuarium, ikan ini justru jadi masalah besar kalau lepas ke perairan liar, karena dianggap berbahaya bagi ekosistem.

Identitas Ikan Sapu-sapu dan Nama Ilmiah

Umumnya dari genus Hypostomus, Pterygoplichthys, atau Liposarcus. Di Indonesia paling banyak berjenis Pterygoplichthys pardalis dan P. disjunctivus. Nama lain ikan ini Ikan ini adalah bandaraya, pleco, plecostomus, ikan tempel.

Ciri-ciri Fisik

Tubuh dilapisi pelat tulang keras seperti baja, mulut di bawah berbentuk mangkuk penghisap, warna cokelat gelap dengan bintik atau garis. Panjang bisa dewasa bisa mencapai 30–50 cm di alam liar.

Habitat Asli

Habitat ikan Sapu-sapu berasal dari Sungai Amazon, Amerika Selatan. Disebut “Sapu-sapu” karena mulutnya didesain untuk menempel dan mengikis alga di batu, atau kayu  dandi kaca jika ditaruh di akuarium. Oleh sebab itu, penjual ikan hias mempromosikannya sebagai pembersih akuarium alami. Namun saat dewasa ikan sapu-sapu justru lebih suka pelet dan sisa makanan, bukan alga.

Munculnya Masalah

Ikan Sapu-sapu awalnya adalah ikan peliharaan yang ditaruh di akuarrium sebagai pembersih alami. Namun ketika besar masalah mulai muncul, ikan terlalu besar untuk berada di akuarium, oleh sebab itu pemilik akuarium melepas sapu-sapu ke sungai/danau karena ukurannya kebesaran.

Di perairan Jakarta atau Indonesia, ikan ini tidak punya predator alami, sehingga dapaknya menjadi buruk, karena bisa merusak tebing sungai. Sapu-sapu jantan menggali lubang di tebing untuk sarang.

Selain itu ikan ini memiliki sifat yang rakus makan telur & anak ikan nila, mujair, bahkan udang, sehingga merusak ekosistem.

Di Waduk Ciliwung, Citarum, hingga Bengawan Solo, lubang-lubang ini memicu longsor & erosi.

Beberapa kasus nelayan di Waduk Cirata & Jatiluhur mengeluh hasil tangkap turun sejak sapu-sapu mendominasi. Tak hanya itu, ikana Sapu-sapu juga merusak jaring. Pelat tubuhnya yang keras sering merobek jaring nelayan.

Ikan Sapu-sapu juga dikenal sebagai ikan yang tahan banting, sebab mampu bertahan hingga 20 jam di luar air dan hidup di air kotor minim oksigen. Sekali masuk ke sungai, sulit diberantas.

Apakah Bisa Dikonsumsi?

Ikan Sapu bisa dikonsumsi,  tetapi kurang populer. Dagingnya putih, tebal, dan rendah lemak. Di Brasil & Meksiko biasa dikonsumsi. Di Indonesia mulai diolah jadi abon, kerupuk, bakso, dan pakan ternak untuk kurangi populasi.

Meskibegitu, untuk membersihkan sisik keras dan bau lumpur bukanlah perkara mudah.

Status Ikan Sapu-sapu di Indonesia

Kementerian Kelautan dan Perikanan mengkategorikan sapu-sapu sebagai ikan invasif berbahaya, sehingga ilarang dibudidaya & dilepas ke perairan umum sesuai Permen KP No. 19/2021. Namun sayangnya, populasi telanjur menyebar di Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi, jauh sebelum Permen KP terbit./Ib.

By Editor1