JAKARTA, AKURATNEWS.co – Menyelesaikan birokrasi yang kaku, berbelit, dan rigid, membutuhkan pola berpikir out of the box.

Hal inilah yang dibeberkan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Abdullah Azwar Anas di buku terbarunya, ‘Anti Mainstream Bureaucracy’ yang coba menawarkan perspektif baru dalam mengatasi tantangan birokrasi di Indonesia.

Dalam Forum Diskusi Kinerja Reformasi Birokrasi Indonesia yang diselenggarakan di Jakarta, Menteri Anas menjelaskan, buku ini lahir dari pengalaman nyata selama menjabat di Kabinet Indonesia Maju. Buku tersebut tidak hanya memaparkan strategi praktis, tetapi juga membahas seni dalam mentransformasikan birokrasi menjadi lebih proaktif dan berdampak langsung kepada masyarakat.

“Buku ini merangkum dari pekerjaan banyak orang, yang kebetulan MenPANRB bagian itu, dan kemudian kami tulis supaya menjadi pelajaran buat kita semua,” ungkap Anas.

Dalam bukunya, Anas menyajikan solusi untuk membongkar cara kerja lama yang dianggap menghambat kinerja birokrat. Fokus utamanya adalah menjadikan masyarakat sebagai konsumen utama yang harus dilayani dengan cara yang lebih cepat, efisien, dan tepat sasaran. Pendekatan anti-mainstream yang dia tawarkan bukan hanya soal “melawan tradisi,” tetapi juga menciptakan budaya baru di dalam birokrasi.

Buku ini juga menegaskan bahwa birokrasi berdampak adalah salah satu agenda utama Kementerian PANRB di bawah kepemimpinan Anas. Dalam menerjemahkan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Anas menetapkan tujuh prioritas utama yang menjadi dasar transformasi birokrasi, di antaranya kompetensi, digitalisasi, kulturasi, dan orkestrasi.

Melalui “kertas kosong” yang diberikan kepada pegawai untuk menuliskan kritik dan harapan, Anas menyusun strategi reformasi yang fokus pada menyelesaikan masalah dengan cepat.

Buku “Anti Mainstream Bureaucracy” juga memperkenalkan 12 jurus anti-mainstream, yang terdiri dari dua bagian besar: STRATEGY dan STYLE. Bagian STRATEGY mencakup 7 jurus aksi yang menitikberatkan pada aspek teknis dan obyektif, sementara STYLE menyoroti aspek kepemimpinan yang lebih personal dan situasional.

Jurus kepemimpinan tersebut termasuk di antaranya Menginspirasi dengan Bukti, Kecepatan dalam Eksekusi, dan Kolaborasi. Menurut Anas, salah satu tantangan terbesar dalam memimpin adalah bagaimana merangkul kementerian lain untuk berkolaborasi tanpa harus selalu meminta penambahan kewenangan.

Dalam buku ini juga diungkap soal bagaimana kantor menjadi rumah kedua Menteri Anas.

“Kalau saya, di awal-awal buku itu saya bercerita bagaimana staf itu atau teman-teman di kantor itu harus menjadikan kantornya menjadi rumah kedua. Kalau kantor itu menjadi rumah kedua, dia nyaman, pasti lebih produktif,” kata Anas.

Menurutnya, hubungan kekerabatan dan komunikasi di kantor merupakan hal yang penting. Hal ini akan membuat produktivitas seseorang meningkat.

“Maka membangun hubungan, kekerabatan, komunikasi di kantor itu jadi penting. Nah yang paling suka saya dari buku ini adalah bagaimana mendorong dampak dari apa yang kita kerjakan,” ujarnya.

Mantan Bupati Banyuwangi ini menuturkan kesibukan birokrasi harus berdampak pada masyarakat dan kinerja pemerintah. Untuk itu, indikator pengukuran terkait dengan reformasi birokrasi yang sudah dipangkas langsung ke dampak.

Ia juga berharap buku yang diterbitkannya juga dapat menjadi inspirasi dan bacaan bagi para pemimpin organisasi. Sebab, dia menggunakan skala prioritas dalam mengerjakan sesuatu.

“Tapi dari buku itu saya memulai bahwa kita jadi apa pun, jadi wartawan, jadi bupati, jadi menteri, jadi apapun harus punya skala prioritas. Karena enggak mungkin semua dikerjakan,” tambah Anas.

Tidak hanya itu, dia juga bercerita di awal masa jabatannya sebagai menteri, dirinya memberi kertas kosong kepada para pegawainya untuk menuliskan harapan mereka.

“Karena kalau tidak nanti kantor menjadi tempat yang tidak nyaman dan tidak produktif. Maka saya di awal-awal, saya itu, saya kasih kertas kosong ke semua staf untuk nulis bebas,” pungkasnya.

Dalam forum tersebut, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memberikan apresiasinya terhadap buku tersebut. Menurut Luhut, buku ini adalah pencapaian yang luar biasa, mencerminkan reformasi yang telah dilakukan Anas dan timnya dalam mempermudah birokrasi, mengurangi korupsi, serta meningkatkan efisiensi di Indonesia. (NVR)

By Editor1