JAKARTA, AKURATNEWS.co — Bab Doa qunut selalu menjadi perbincangan dan kajian setiap generasi umat muslim. Terutama menyangkut bagaimana hukumnya embaca Doa Qunut dalam sholat dan bagaimana bacaanya, serta bagaimana cara bacanya.

Qunut secara bahasa artinya berdiri lama, tunduk, atau doa. Dalam istilah fiqih, qunut adalah doa yang dibaca saat i’tidal atau  berdiri setelah ruku’ pada rakaat terakhir shalat.

Ada 3 jenis qunut yang kita kenal, yaitu Qunut Subuh, dibaca tiap shalat Subuh rakaat kedua. Kemudian Qunut Witir,  dibaca pada shalat Witir, khususnya 15 malam terakhir Ramadan, dan yang terakhir Qunut Nazilah, yang dibaca saat umat Islam tertimpa musibah besar. Doa ini  bisa dilakukan di semua shalat wajib.

Doa Qunut Yang paling sering dibahas dalam setiap kajian di masyarakat adalah Qunut Subuh.

Berikut pemahaman Doa Qunut menurut 4 Imam Madzab.

Menurut madzab Syafi’i

Qunut Subuh  hukumnya sunnah muakkad, kalau lupa disunnahkan sujud sahwi. Ini yang dipegang mayoritas NU di Indonesia.

Menurut Madzab Maliki

Qunut Subuh ukumnya Sunnah, dibaca pelan sebelum ruku’Bukan setelah ruku’ seperti Syafi’i.

Menurut Madzab Hanafi

Tidak ada qunut subuh. Qunut hanya di sholat witir.

Menurut Madzab Hanbali

Tidak disunnahkan, rutin boleh, tetapi untuk qunut nazilah saja.

Jadi perbedaan ini bukan soal sah/tidak shalat, tapi soal keutamaan. Semua sepakat shalatnya tetap sah baik pakai qunut atau tidak.

Dalil Qunut 

Hadis Anas bin Malik, “Rasulullah senantiasa qunut pada shalat Subuh sampai beliau wafat.” HR. Ahmad, dinilai shahih oleh Al-Hakim.

Dalil Tidak Qunut

Hadis Sa’ad bin Thariq, “Ayahku shalat di belakang Nabi, Abu Bakar, Umar. Aku tanya apakah ada qunut Subuh? Beliau jawab: tidak ada, nak. Itu perkara baru.” HR. Tirmidzi, hasan shahih.

Dari kedua Hadist tersebut sebagian ulama men-tahqiq qunut pernah dilakukan Nabi, tapi tidak rutin selamanya. Dari sini lahir perbedaan ijtihad.

Sementara MUI dalam Ijtima Ulama 2006 menyatakan: masalah qunut subuh adalah khilafiyah fiqhiyah. Boleh pakai, boleh tidak. Jangan saling menyalahkan. Jika imam qunut, makmum ikut angkat tangan dan amin.Jika imam tidak qunut, makmum jangan buat qunut sendiri agar jamaah tetap kompak.

Jadi kesimpulannya, Qunut bukan rukun shalat. Jika inggalkan tidak membatalkan sholat, tetapi jika baca mendapatkan  pahala.

Perbedaan dalam madzhab itu hal wajar. Imam Syafi’i memakai Qunut, sementara Imam Hanafi dan Hanbali tidak rutin./Ib. Dirangkum dari berbagai sumber.

By Editor1