JAKARTA, AKURATNEWS.co – Nama Houthi belakangan sering disebut-sebut baik oleh media lokal maupun media Internasional, setelah kiprahnya yang mampu meluncurkan rudal yang menjangkau wilayah  Israel. Bahkan namanya mencuat ketika terjadi konflik dengan Arab Saudi beberapa waktu lalu. Pertanyaanya siapakah Houthi ini?.
Houthi adalah  sebuah gerakan kecil lahir dari ketidakpuasan, yang bermula dari wilayah pegunungan utara Yemen,. Tidak ada yang menyangka, kelompok itu kelak mampu mengguncang perdagangan dunia, menembakkan rudal ke Israel, dan membuat Amerika Serikat turun langsung ke medan konflik.
Mereka dikenal sebagai Gerakan Houthi,  atau secara resmi disebut Ansar Allah (Pembela Tuhan). Hari ini, mereka bukan sekadar kelompok pemberontak. Mereka adalah pemain utama dalam Perang Saudara Yaman, dan salah satu kekuatan non-negara paling berpengaruh di Timur Tengah.
Dari Kelompok Agama ke Gerakan Bersenjata
Gerakan ini bermula dari komunitas Zaydi di Yaman utara. Kelompok kecil dalam cabang Islam Syiah yang telah lama merasa tersisih secara politik. Tokoh kunci di balik kebangkitan ini adalah Hussein Badr al-Din al-Houthi.
Ia bukan tentara, ia juga bukan jenderal,  ia adalah politisi dan aktivis agama. Namun dari tangannya, lahir gerakan yang mengubah peta geopolitik Timur Tengah.
Akar konflik sebenarnya sudah lama. Pada tahun 1962, pemerintahan imam Zaydi digulingkan. Sejak saat itu, komunitas Zaydi perlahan kehilangan pengaruh politiknya. Ketegangan meningkat ketika pemerintah Yaman mendekat ke Arab Saudi dan mulai menyebarkan paham Wahhabisme di wilayah Zaydi. Bagi komunitas Zaydi, ini bukan sekadar perbedaan agama. Ini dianggap ancaman terhadap identitas mereka.
Kebangkitan Generasi Baru
Pada 1990-an, setelah penyatuan Yaman, peluang politik muncul. Elit Zaydi membentuk Partai Al-Haq.
Tokoh paling vokal di parlemen saat itu adalah Hussein al-Houthi. Namun setelah keluar dari parlemen pada 1997, ia mengambil langkah berbeda. Ia membentuk jaringan pemuda bernama Believing Youth.
Gerakan ini bukan hanya agama, ia menawarkan pendidikan, bantuan sosial dan  identitas. pada awalnya, pemerintah mendukung. Namun ketika popularitasnya meningkat dan kritik terhadap Presiden Ali Abdullah Saleh semakin keras, pendanaan dihentikan. Konflik pun tak terelakkan.
Saat Senjata Mulai Bicara di Tahun 2004
Ketika pemerintah Yaman mendukung invasi Amerika Serikat ke Irak tahun 2003, gerakan ini semakin marah.
Hussein al-Houthi kemudian mengadopsi slogan terkenal: “Allahu Akbar, mati untuk Amerika, mati untuk Israel…”
Pemerintah merespons dengan operasi militer. Tahun 2004, Hussein al-Houthi tewas dalam pertempuran.
Namun gerakan tidak mati. Kepemimpinan beralih ke saudaranya, Abdul-Malik al-Houthi. Sejak saat itu,
mereka justru makin kuat.
Arab Spring: Kesempatan yang Mengubah Segalanya
Gelombang Arab Spring mengguncang Timur Tengah pada 2011, yang menyebbkan  Presiden Saleh akhirnya mundur, kekuasaan berpindah ke Abd Rabbuh Mansur Hadi. Namun situasi makin kacau, alih-alih damai, konflik justru membesar. Ironisnya, mantan Presiden Saleh malah bersekutu dengan Houthi.
Houthi Menguasai Ibu Kota
Tahun 2014, protes besar terjadi di Sanaa.  Pasukan keamanan menembaki demonstran sehingga ituasi semakin meledak.
Houthi bergerak cepa, pada eptember 2014 mereka menguasai ibu kota.  Januari 2015 — istana presiden jatuh,
Presiden Hadi melarikan diri, dan perang saudara di Yaman resmi dimulai.
Arab Saudi Masuk, Perang Meledak
Maret 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi meluncurkan serangan besar. Tokoh kunci di balik operasi itu adalah Mohammed bin Salman.
Ia memperkirakan perang selesai dalam hitungan bulan, namun perang berubah menjadi konflik panjang yang menghancurkan Yaman.
Iran Masuk, Konflik Menjadi Regional
Seiring waktu, Houthi makin kuat,Mereka mendapat dukungan dari Iran, termasuk pelatihan dan senjata, sehingga serangan mereka semakin canggih. Rudal, drone, menjadi bagian daripersenjataan mereka. Houthi lantas menjelma bukan lagi kelompok lokal, tetapi  berubah menjadi kekuatan regional.
2023: Houthi Mengguncang Dunia
Setelah pecahnya Perang Israel–Hamas, Houthi pun meradang, mereka menembakkan rudal ke Israel.
Mereka menyerang kapal di Laut Merah, sehingga  kapal-kapal global menghindari rute itu. Perdagangan dunia terganggu. Satu kelompok dari pegunungan Yaman kini memengaruhi ekonomi global.
Amerika Serikat Turun Tangan
Tahun 2024, Amerika Serikat dan Inggris meluncurkan serangan udara terhadap Houthi. Namun mereka tidak mundur sedikitpun. Juli 2024  drone Houthi mencapai Tel Aviv setelah terbang 16 jam. Israel membalas dan konflik  semakin meluas.
 2025: Rudal, Bandara, dan Gencatan Senjata
Mei 2025, rudal Houthi menghantam Bandara Ben Gurion, Israel membalas dengan serangan ke Sanaa.
Situasi nyaris meledak. Akhirnya, gencatan senjata tercapai melalui mediasi Oman, meski begitu, konflik belum benar-benar berakhir.
Apakah Ada “Houthi versi Lain”?
Pertanyaan menarik muncul: apakah ada kelompok Kristen yang mirip Houthi?. Jawabannya  ada beberapa yang punya kemiripan, meski tidak identik.
Beberapa contoh:
• Tentara Pembebasan Lebanon Selatan. Kelompok Kristen bersenjata di Lebanon yang pernah melawan kelompok Muslim dan Palestina.
• Phalange Party Militia. Milisi Kristen kuat dalam Perang Saudara Lebanon.
• Lord’s Resistance Army. Kelompok bersenjata di Afrika yang mengklaim berbasis Kristen, dipimpin Joseph Kony.
Perbedaannya adalah,  Houthi punya wilayah nyata, pemerintahan de facto, senjata canggih, dukungan negara lain yaitu  (Iran). Denagn demikian  Houthi jauh lebih berpengaruh dibanding kelompok Kristen bersenjata lainnya.
Dari Pegunungan ke Panggung Dunia
Gerakan Houthi membuktikan satu hal: Kelompok kecil bisa menjadi kekuatan besar, dari komunitas agama minoritas menjadi pasukan militer menjadi pemain geopolitik global dan sampai hari ini, konflik di Yaman belum benar-benar selesai. Karena di Timur Tengah, satu kelompok kecil bisa mengubah arah sejarah dunia./Ib. Dirangkum dari berbagai sumber. Foto: Istimewa.

By Editor1