JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di era 70-an banyak sekali band-band dari berbagai jenis aliran (genre) yang muncul meramaikan jagad musik Indonesia. Diantaranya ada God Bless, Koes Plus, The Mercys, Favourites, D’lloyd dan lain-lain.
Salah satu band yang lahir di tahun 70an yang ingin kita ulas adalah The Crabs. Mengapa The Crabs?, karena ada sosok personil unik yang ada dalam band tersebut, yang jarang diketahui. Terutama anak-anak era sekarang.
Band The Crabs lahir pada era tahun 70an, yang menjadi menarik untuk diulas karena salah satu personilnya adalah anak presiden Soeharto bernama Bambang Trihatmojo.
Tak banyak yang tahu ternyata Bambang Trihatmodjo yang kita kenal sebagai pebisnis ternyata adalah seorang musisi atau anak band. Bambang adalah pemimpin (leader) sekaligus dbassist dari grup The Crabs.
Saat masa awal kemunculannya, band The Crabs pernah dimuat di sebuah majalah musik yang kondang kalaitu yaitu Aktuil. Dalam tulisannya Aktuil nomor 77, 6 Juli 1971, memberi kritikan dan menganggap band ini masih malu-malu kala naik panggung.
Seorang anggotanya disebut kerap main di sisi panggung yang pencahayaannya redup. Jika biasanya anak band suka beraksi untuk memikat penonton, dia tentu saja tidak mendapat perhatian dari para penonton yang apatis.
Selain malu-malu, mereka kurang berani menaikkan volume amplifier sehingga musiknya hambar. Gitar pengiring tidak terdengar, gitar melodi kurang mencolok, suara organnya entah ke mana, juga suara bass dan drumnya hanya sayup-sayup.
Hal tersebut masih bisa dimaklumi, sebab The Crabs masih kurang pengalaman, dan menyebut masih ada waktu, setidaknya satu setengah tahun, untuk lebih matang dalam bermusik.
Meski begitu,The Crabs tetap menyimpan potensi untuk menjadi salah satu band bergenre sweet sound di skena Jakarta.
Penampilan personel The Crabs dianggap cukup manis untuk ukuran anak band pada awal 1970-an. Di masa itu, anak band kebanyakan tampil gondrong. Oleh sebab itu si penulis menyarankan agar para personel The Crabs memanjangkan rambutnya untuk beradaptasi dengan tren.

Aktuil tak hanya menyoroti Bambang, tapi juga pemain lain. Kemampuan Tommy sebagai gitaris merangkap vokalis dianggap cukup mumpuni. Hanya saja, dia perlu lebih berani melantangkan suaranya. Aling alias Mohamad Tachril Sapiie si penggebuk drum tampak masih dalam tahap mengembangkan permainannya. Mereka semua sebaya dengan Bambang yang kelahiran Solo, 23 Juli 1953.
Aktuil mencatat The Crabs bermarkas di Jalan Cendana 15 Jakarta—tidak jauh dari kediaman keluarga daripada Soeharto. Para penggemar The Crabs bisa mengirimkan surat untuk pujaannya ke alamat itu.
Aktuil dengan agak kocak berpesan, “Untuk surat cinta lebih baik berhati-hati karena salah-salah bisa terbaca oleh Pak Harto.”
Bila kita tengok ke belakang, Bambang Trihatmoo bukan satu-satunya anak presiden yang nge-band. Sebelumnya ada juga nama Guntur Sukarnoputra anak dari Presiden Soekarno yang juga seorang musisi.
Guntur muda aktif di band Aneka Nada. Tapi, beda dari Guntur yang memang serius bermusik, ketertarikan Bambang pada musik terhenti setelah dirinya sekolah ke luar negeri.
Bambang lalu terjun ke dunia usaha setelah menyelesaikan pendidikannya. Meski ditinggal Bambang sebagai pencabik bass, The Crabs jalan terus. Mereka bahkan berhasil masuk dapur rekaman.
The Crabs sempat merilis dua album dibawah naungan label musik kondang pada masa itu yaitu Republic Manufacturing Company (Remaco) pimpinan Eugene Timoty.
Formasinya lengkap The Crabs kala itu terdiri dari Ade Anwar di posisi vokal dan drumer, Frieke Supit sebagai pembetot bass, Tommy memegang keyboards, dan Dady Amiarsa sebagai gitaris. Di sampul depan album mereka tertulis, “The Crabs asuhan Bambang Tri S.”
Album perdana The Crabs dirilis pada 1973. Album debut itu diisi 10 lagu dengan nuansa yang hangat, ceria, dan manis. Tema cinta memang amat dominan dalam album ini. Lagu Duri Dan Cinta ciptaan Dady Amiarsa bisa dibilang lagu andalan The Crabs yang masih diingat orang hingga kini. Aura romantis muncul pula di lagu Kata Cinta.
Lain itu, ada pula lagu-lagu yang cocok didendangkan saat nongkrong seperti Semua Gembira, Gadis Ayu, dan Gadis Berita. Di nomor Jalan Hidupku yang bernuansa sedih, The Crabs seakan mengajak pendengarnya sedikit berefleksi.
Selain lagu-lagu tersebut, mereka juga menyuguhkan lagu bernada patriotik di nomor Hey Hey Hayo Hayo atau pujian untuk tanah air di lagu Tampak Siring.
Tak hanya membawakan lagu ciptaan sendiri, The Crabs juga mengaransemen ulang lagu Sebelum Kau Pergi dan Sepanjang Jalan Kenangan ciptaan Is Haryanto. Dua lagu itu sebelumnya populer kala dinyanyikan oleh Tetty Kadi.
Aelang dua tahun kemudian, The Crabs merilis album kedua pada 1975, dengan mengulang resep lagu yang sama. Nomor-nomor baru yang mereka sajikan di antaranya Hilang Permataku,Cinta Remaja,Selamat,Oh Mengapa,Kenangan Abadi,Bali,LagukuLagumu,dan Jangan Datang Lagi.
Lagu andalan The Crabs di album kedua ini adalah Hilang Permataku. Lagu ini cukup populer di radio-radio pada pertengahan 1970-an.
Reffrain lagu ini ditulis dengan sederhana sehingga mudah membangkitkan kesan nostagia bagi mereka yang mengalami masa muda di era 1970-an.
Meski diproduksi dan rilis pada era 1970-an, musik The Crabs terdengar seperti musik era 1960-an. Tidak seperti namanya yang terdengar sangar, The Crabs memilih fokus di jalur sweet sound.
Padahal, pada pertengahan 1970-an, insan musik Indonesia sedang getol menggubahmusik yang berkesan progresif. Namun, The Crabs memilih jalannya sendiri.
Meski sudah merilis dua album, namun The Crabs tidak bertahan lama di industri musik Tanah Air. Bambang bersama Aling sibuk membangun Bimantara, yang dikemudian hari Bambang dikenal sebagai salah satu pengusaha terkaya dan terkenal.
Aling sebagai mitra Bambang juga ikut menjadi kaya raya. Sementara itu, Ade Anwar kemudian main gendang dan bernyanyi untuk orkes Pancaran Sinar Petromaks. Belakangan dia juga jadi politisi di Partai Nasional Demokrat (Nasdem)./Ib. Dirangkum dari berbagai sumber. Diantaranya TirtoID. Foto: Istimewa.
