WASHINGTON DC, AKURATNEWS.co – Joe Biden mengumumkan mundur dari persaingan pemilihan Presiden AS dan mendukung Wakil Presiden Kamala Harris menggantikannya sebagai bakal kandidat dari Partai Demokrat. Lalu, apakah Kamala mampu mengalahkan Donald Trump?
Di awal Juli lalu, Kamala Harris tampil di sebuah festival budaya kulit hitam di New Orleans, membagikan kisah tentang perjalanan hidup dan pencapaiannya selama di Gedung Putih. Kegiatan itu merupakan acara yang rutin dihadiri Kamala sepanjang masa jabatannya selama tiga setengah tahun belakangan.
Wakil presiden perempuan berkulit hitam, dan keturunan Asia Selatan pertama di AS ini biasanya diikuti kelompok pers yang jauh lebih kecil jumlahnya dibandingkan Presiden Joe Biden. Namun saat itu jumlahnya meningkat.
Sekelompok anggota Partai Demokrat yang berada ribuan kilometer jauhnya di Washington mulai mempertimbangkan Harris untuk menjadi kandidat utama partai tersebut untuk melawan Donald Trump.
Di atas panggung dan selama perjalanannya pada awal Juli, Harris tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang beredar tentang kelayakan Biden yang kiuni berusia 81 tahun untuk menjabat, serta apakah presiden dari Demokrat itu harus mundur dan menyerahkan tongkat estafet kepadanya.
Namun saat membahas ambisi dan bagaimana caranya menentukan jalan dengan para pendukungnya di New Orleans, Harris mendorong masyarakat untuk tidak mendengarkan para penentang.
“Orang-orang dalam hidup Anda akan memberi tahu Anda, ini bukan waktu Anda. Ini bukan giliran Anda. Tidak ada seorang pun seperti Anda yang pernah melakukannya. Jangan pernah mendengarkan hal itu,” katanya.
Sejak debat CNN pada 27 Juni lalu, Harris telah berulang kali membela Biden. Dia beralasan bahwa rekor Biden sebagai presiden tidak boleh kalah dengan 90 menit di panggung debat.
Biden sendiri sebelumnya telah berkeras bahwa dia akan tetap menjadi calon presiden. Namun ketika seruan semakin keras agar Biden mundur, beberapa tokoh penting Partai Demokrat mulai bersatu mendukung Harris, yang berusia 59 tahun, sebagai kandidat presiden menggantikan Biden.
Pada Minggu (8/7), anggota kongres Adam Schiff dari California mengatakan kepada NBC Meet The Press bahwa Biden harus mampu “menang secara telak atau dia harus menyerahkan kekuasaannya kepada seseorang yang mampu”. Kamala Harris, tambahnya, bisa “menang dengan sangat baik” melawan Trump.
Gagasan tersebut telah menimbulkan keheranan di kalangan anggota Partai Demokrat yang lain, termasuk sekutu Biden. Mereka memandang Harris sebagai wakil presiden yang gagal dalam pencalonan untuk nominasi Partai Demokrat pada 2020, bahkan sebelum pemungutan suara pertama dilakukan. Mereka juga melihat bahwa Harris memiliki tingkat dukungan yang rendah sepanjang masa jabatannya di Gedung Putih.
Meski demikian, anggota parlemen senior Partai Demokrat seperti Schiff dan anggota Kongres Carolina Selatan Jim Clyburn mendukung Harris sebagai penerus Biden. Para pendukungnya merujuk pada beberapa jajak pendapat yang menunjukkan bahwa Harris akan tampil lebih baik daripada presiden dalam pertarungan hipotetis melawan Donald Trump.
Mereka berpendapat bahwa Harris memiliki profil nasional, infrastruktur kampanye, dan daya tarik bagi pemilih muda yang dapat membuat transisi berjalan mulus dalam empat bulan sebelum hari pemilihan.
Naik ke posisi teratas akan menjadi perubahan haluan yang luar biasa bagi seorang perempuan yang belum lama ini dipandang sebagai kelemahan politik oleh tokoh-tokoh senior di Gedung Putih Biden.
Bahkan Biden sendiri dilaporkan menggambarkan Harris sebagai “pekerjaan yang sedang berjalan” selama bulan-bulan pertama mereka menjabat.
Namun Jamal Simmons, ahli strategi Partai Demokrat dan mantan direktur komunikasi Harris, mengatakan bahwa dia telah lama diremehkan.
“Apakah dia mendampingi presiden atau dia yang harus memimpin, dia adalah seseorang yang harus ditanggapi dengan serius oleh Partai Republik dan tim kampanye Trump,” kata Simmons kepada BBC.
Sejak perdebatan dan kritikan tersebut, Harris telah mengubah jadwalnya untuk tetap dekat dengan Presiden Biden. Harris muncul pada pertemuan yang diawasi ketat awal Juli ketika Biden berusaha meyakinkan gubernur-gubernur Partai Demokrat yang berkuasa tentang kelayakannya untuk tetap menjabat.
Dan sehari kemudian, pada 4 Juli yang merupakan Hari Kemerdekaan Amerika, dia meninggalkan tradisi memanggang hotdog, untuk petugas pemadam kebakaran dan agen Dinas Rahasia di rumahnya di Los Angeles, agar berada di sisi Biden pada perayaan di Gedung Putih.
Mantan jaksa penuntut utama ini telah fokus mengkritik Trump di depan umum sejak debat tersebut. Harris menekankan alasan mengapa para pemilih harus percaya bahwa Trump adalah ancaman terhadap demokrasi dan hak-hak perempuan. Pada saat yang sama, dia memberi dukungan teguh untuk Biden. (NVR)
