JAKARTA, AKURATNEWS.co – Aksi demo di depan Gedung DPR/MPR, Kamis (28/8) yang awalnya digelar ribuan buruh berakhir dengan kericuhan saat mahasiswa dan elemen masyarakat mengambil alih.

Suasana seputaran Senayan yang semula terkendali mendadak memanas, bahkan berdampak pada lumpuhnya layanan KRL Commuter Line lintas Tanah Abang–Palmerah.

Sejak pagi, ribuan buruh yang tergabung dalam serikat pekerja menggeruduk Gedung DPR untuk menyuarakan enam tuntutan utama, mulai dari penghapusan outsourcing, penghentian PHK, hingga desakan pengesahan RUU Perampasan Aset. Aksi yang berlangsung di 38 provinsi ini dipusatkan di Senayan, Jakarta.

Meski diproyeksikan mencapai 20 ribu massa, jumlah buruh yang hadir hanya sekitar 10 ribu orang. Menjelang siang, sebagian besar buruh memilih membubarkan diri dengan tertib.

Namun pada pukul 13.47 WIB, situasi berubah. Ratusan mahasiswa terpantau berjalan kaki dari Palmerah menuju Gedung DPR. Tidak lagi mengusung isu perburuhan, mereka fokus menyoroti fasilitas dan tunjangan mewah anggota DPR.

Sekitar pukul 15.17 WIB, gelombang massa mahasiswa dan elemen masyarakat terus berdatangan. Mereka berupaya menerobos barikade polisi di gerbang DPR. Aparat yang berjaga langsung melepaskan semprotan air untuk mengurai massa, memicu aksi saling serang.

Merespons tindakan aparat, mahasiswa dan massa pendukung membalas dengan lemparan botol, batu, hingga kembang api.

Ketegangan memuncak ketika aparat menurunkan water cannon dari dalam kompleks DPR, memaksa massa mundur hingga menyeberang ke jalan tol di depan gedung parlemen.

Pada pukul 15.35 WIB, barikade tambahan dipasang. Polisi mendorong massa menjauhi gedung DPR, sementara bentrokan bergeser ke kawasan Pejompongan, Slipi, hingga sekitar Stasiun Palmerah.

Hingga pukul 17.00 WIB, kericuhan belum reda. Massa aksi terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil. Sebagian di antaranya mengenakan pakaian bebas, namun ada pula yang masih berseragam sekolah.

Polda Metro Jaya sendiri mengidentifikasi adanya sekelompok orang tak dikenal dan tanpa koordinator lapangan langsung melakukan tindakan anarkis saat berlangsung unjuk rasa ini.

“Hal yang sangat disayangkan tadi, saat saudara-saudara kami, rekan-rekan kami ada yang melakukan penyampaian pendapat di depan Gedung DPR, ini ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, tidak memiliki struktur dan identitas, tidak ada koordinator lapangannya, langsung melakukan tindakan yang menyebabkan terganggunya ketertiban,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam Indradi, Kamis (28/8).

Ade menyebut, tindakan anarkis yang dilakukan mulai dari membakar bendera, merusak pagar, CCTV hingga separator busway, mencorat-coret tembok tol serta memasuki area jalan tol sehingga mengancam keselamatan pengguna jalan.

Menurutnya, kelompok tersebut sama sekali tidak menyampaikan aspirasi apapun, tetapi hanya terus melakukan serangan yang merugikan. Polisi kemudian mengambil langkah persuasif, mulai dari imbauan hingga penertiban. (NVR)

By editor2