JAKARTA, AKURATNEWS.co – Pihak intelijen Amerika Serikat menilai waktu yang dibutuhkan Iran untuk mengembangkan senjata nuklir tidak mengalami perubahan signifikan sejak musim panas lalu, meski konflik militer dengan Israel dan AS terus berlangsung.

Laporan intelijen menyebut serangan AS dan Israel yang dimulai 28 Februari difokuskan pada target militer konvensional, meski Israel juga menghantam sejumlah fasilitas nuklir penting di Iran.

Sebelumnya, badan intelijen AS memperkirakan Iran dapat memproduksi bahan bakar tingkat senjata dan merakit bom dalam waktu tiga hingga enam bulan.

Namun setelah serangan militer pada Juni yang menyasar Natanz, Fordow, dan Isfahan, estimasi itu direvisi menjadi sekitar sembilan bulan hingga satu tahun.

Meski demikian, sebagian besar stok uranium yang diperkaya tinggi (HEU) Iran diperkirakan masih belum sepenuhnya terverifikasi oleh pengawas nuklir PBB.

Sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen disebut berpotensi cukup untuk membuat hingga 10 bom nuklir jika diperkaya lebih lanjut.

“Meskipun Operasi Midnight Hammer menghancurkan fasilitas nuklir Iran, Operasi Epic Fury membangun kesuksesan ini dengan menghancurkan basis industri pertahanan Iran yang pernah mereka manfaatkan sebagai perisai pelindung dalam upaya mereka untuk mendapatkan senjata nuklir,” kata Juru Bicara Gedung Putih Olivia Wales, dilansir dari IDN Finacials.

“Presiden Trump sudah lama menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir dan dia tidak menggertak.”

Di sisi lain, International Atomic Energy Agency menyatakan tidak dapat memverifikasi lokasi sebagian stok uranium Iran sejak inspeksi dihentikan, meski memperkirakan cadangan tersebut cukup untuk membuat beberapa senjata nuklir.

Pemerintah AS menegaskan penghentian program nuklir Iran tetap menjadi tujuan utama konflik.

Wakil Presiden JD Vance sebelumnya menyatakan, “Iran tidak boleh dibiarkan memperoleh senjata nuklir. Itulah tujuan operasi ini.”

Opsi Serangan Darat

Namun sejumlah analis menilai minimnya perubahan estimasi disebabkan belum adanya serangan yang secara langsung menargetkan material nuklir utama Iran yang diduga tersimpan di fasilitas bawah tanah yang sulit dijangkau.

“Iran masih memiliki semua material nuklirnya, sejauh yang kita ketahui,” kata Eric Brewer dari Nuclear Threat Initiative.

Mantan analis senior intelijen Amerika Serikat, yang memimpin penilaian terhadap program nuklir Iran tersebut, mengatakan bahwa tidak mengejutkan jika estimasi tersebut tidak berubah. Hal ini karena serangan terbaru AS tidak memprioritaskan target yang berkaitan langsung dengan program nuklir.

“Iran masih memiliki seluruh material nuklirnya, sejauh yang kita ketahui,” ujar Brewer, yang kini menjabat sebagai wakil presiden program studi material nuklir di Nuclear Threat Initiative.

“Material tersebut kemungkinan berada di fasilitas bawah tanah yang terkubur sangat dalam, di mana amunisi AS tidak mampu menembusnya.”

Dalam beberapa pekan terakhir, pejabat AS mempertimbangkan operasi berisiko tinggi yang dapat secara signifikan menghambat upaya nuklir Iran.

Opsi tersebut mencakup serangan darat untuk merebut uranium yang diperkaya tinggi (HEU) yang diyakini disimpan di kompleks terowongan di fasilitas Isfahan Nuclear Technology Center.

Iran berulang kali membantah bahwa mereka berupaya mengembangkan senjata nuklir. Badan intelijen AS dan International Atomic Energy Agency (IAEA) menyatakan bahwa Teheran telah menghentikan program pengembangan hulu ledak pada 2003. Namun, sejumlah pakar dan Israel menilai Iran secara diam-diam masih mempertahankan bagian penting dari program tersebut.

Para ahli menyebutkan bahwa menilai secara akurat kapasitas nuklir Iran merupakan hal yang sangat sulit, bahkan bagi badan intelijen terbaik di dunia.

Sejumlah lembaga intelijen AS telah secara independen mengkaji program nuklir Iran. Meskipun terdapat konsensus luas mengenai kemampuan Iran untuk membangun senjata nuklir, tetap ada perbedaan penilaian dalam beberapa kasus.

Ada kemungkinan bahwa ambisi nuklir Iran sebenarnya telah mengalami kemunduran lebih besar daripada yang tercermin dalam estimasi intelijen saat ini.

Beberapa pejabat, termasuk Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, berpendapat bahwa serangan AS terhadap sistem pertahanan udara Iran telah mengurangi ancaman nuklir dengan melemahkan kemampuan Iran melindungi fasilitas nuklirnya, jika suatu saat memutuskan mempercepat proses pembuatan senjata.

Selain itu, terdapat pula dampak dari operasi Israel yang menargetkan ilmuwan nuklir utama Iran.

David Albright, mantan Inspektur Nuklir PBB yang kini memimpin Institute for Science and International Security, mengatakan bahwa pembunuhan tersebut menambah ketidakpastian signifikan terhadap kemampuan Teheran dalam membangun bom yang berfungsi sesuai rencana.

“Saya rasa semua orang sepakat bahwa pengetahuan tidak bisa dibom, tetapi keahlian praktis tentu bisa dihancurkan,” ujarnya./Ib.

By Editor1