JAKARTA, AKURATNEWS.co – Kesehatan prostat masih menjadi isu krusial yang kerap diabaikan banyak pria.
Meski data menunjukkan bahwa lebih dari 40 persen pria usia 50 tahun ke atas berisiko mengalami gangguan prostat, termasuk Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak. Bahkan, hingga 80 persen pria usia 70–80 tahun mengalami BPH.
Dalam upaya meningkatkan kesadaran, Primaya Hospital PGI Cikini memperkenalkan terapi inovatif Rezum Water Vapor Therapy melalui media talkshow bertajuk “Puluhan Kisah, Satu Solusi: Hidup Dimulai Kembali dengan Rezum” di Jakarta, Kamis (31/7).
BPH sendiri merupakan kondisi non-kanker yang menyebabkan pembesaran kelenjar prostat, yang berdampak pada saluran kemih.
Gejalanya meliputi sering buang air kecil, terutama di malam hari, serta aliran urin yang lemah. Meski tidak mematikan, BPH sangat mengganggu kualitas hidup dan bila dibiarkan bisa memicu komplikasi serius seperti infeksi saluran kemih, batu kandung kemih, hingga kerusakan ginjal.
Dokter Spesialis Urologi Primaya Hospital PGI Cikini, dr. Egi Manuputty, Sp.U menjelaskan, Rezum Water Vapor Therapy merupakan teknologi terbaru yang menangani BPH dengan menyuntikkan uap air steril ke jaringan prostat yang membesar.
Uap ini bekerja menghancurkan sel-sel berlebih di prostat secara presisi tanpa pembedahan terbuka.
“Keunggulan Rezum adalah durasi tindakan yang singkat, aman, dan risiko komplikasi seperti inkontinensia urin atau disfungsi seksual jauh lebih rendah dibanding operasi konvensional, seperti TURP (Transurethral Resection of the Prostate). Pemulihannya juga cepat; pasien bisa kembali ke aktivitas normal dalam waktu singkat,” terang dr. Egi.
Primaya PGI Cikini menjadi salah satu rumah sakit pionir di Indonesia yang menyediakan layanan Rezum, bahkan tercatat sebagai penyedia dengan jumlah dokter operator Rezum tersertifikasi resmi terbanyak di Tanah Air.
Aktor Marcelino Lefrandt yang turut hadir dalam acara ini menyampaikan pengalamannya dan mengajak para pria untuk lebih terbuka memeriksakan kondisi kesehatan prostat sejak dini.
“Usia saya sudah 51 tahun, dan saya sadar pentingnya skrining kesehatan secara berkala. Banyak pria masih takut atau malu memeriksakan diri, padahal hasil pemeriksaan itu ibarat rapor, kalau hasilnya baik, itu berkah. Kalau ada masalah, kita bisa segera ambil tindakan,” ujar Marcelino.
Ia juga menyinggung soal tekanan sosial terhadap pria yang dianggap harus selalu kuat dan sehat, sehingga kerap menunda pemeriksaan.
Padahal, menurutnya, berani melakukan skrining justru adalah langkah preventif yang bijak dan bertanggung jawab, terutama bagi pria yang memiliki tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga.
Direktur Primaya Hospital PGI Cikini, dr. Monica Desylia Sutjiadi, MARS, menekankan bahwa layanan Rezum adalah bagian dari komitmen rumah sakit dalam memberikan solusi kesehatan yang menyeluruh dan nyaman bagi pasien.
“Teknologi Rezum adalah simbol dari pendekatan modern yang kami tawarkan. Kami ingin menjadikan Primaya PGI Cikini sebagai rumah sakit rujukan urologi dengan layanan minim invasif, namun tetap mengedepankan empati dan kualitas hidup pasien,” ujarnya.
Dengan penyediaan fasilitas modern dan tenaga ahli tersertifikasi, Primaya Hospital berharap kehadiran Rezum dapat menjadi solusi nyata dalam menjawab kebutuhan pria Indonesia yang kerap menunda pengobatan karena ketakutan terhadap prosedur konvensional. (NVR)
