JAKARTA, AKURATNEWS.co – Zakat kerap hadir di ruang publik sebagai kewajiban personal, dibayar saat Ramadhan, dilaporkan sebagai angka tahunan, lalu selesai.
Namun, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) coba menggeser cara pandang tersebut. Melalui forum Z-Talk: Zakat Menguatkan Indonesia yang digelar di Jakarta, Senin (2/2), BAZNAS dan insan media duduk satu meja, membongkar dan membicarakan zakat sebagai sistem, bukan hanya sekadar amal.
Forum ini mempertemukan pimpinan BAZNAS dengan pimpinan dan praktisi media massa dalam dialog tatap muka.
Bukan hanya untuk mempererat relasi kelembagaan, tetapi untuk menyamakan pemahaman, zakat memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan pembangunan nasional, terutama ketimpangan dan kemiskinan.
“Zakat harus ditempatkan sebagai arsitektur pembangunan sosial-ekonomi,” ujar pimpinan BAZNAS Bidang Pengumpulan, Dr. H. Rizaludin Kurniawan, M.Si., CFRM.
“Di sinilah peran media menjadi sangat penting, karena literasi publik tidak lahir dari angka semata, tetapi dari narasi yang dipahami,” imbuhnya.
Rizaludin menjelaskan, penguatan penghimpunan zakat saat ini tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan konvensional.
BAZNAS telah memperluas kanal pembayaran dan memperbaiki kualitas layanan sebagai bagian dari strategi menjaga kepercayaan muzaki.
Saat ini, BAZNAS telah bekerja sama dengan lebih dari 120 kanal digital, puluhan lembaga perbankan, serta membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di berbagai komunitas, korporasi, dan institusi pendidikan.
“Komunikasi yang konsisten dan layanan yang baik berdampak langsung pada retensi donatur,” kata Rizaludin lagi.
Dalam dua tahun terakhir, sekitar 60 persen donatur yang sempat berhenti berhasil dijaga untuk kembali berzakat.
Bagi BAZNAS, angka ini bukan sekadar capaian teknis, tetapi cerminan kepercayaan publik yang perlahan tumbuh.
Di sisi penyaluran, Pimpinan BAZNAS Saidah Sakwan, M.A. menegaskan, penghimpunan yang optimal harus dibarengi dengan dampak yang nyata.
Indonesia, menurutnya, masih menghadapi tantangan besar dengan sekitar 25,4 juta penduduk miskin, termasuk kelompok miskin ekstrem.
“Zakat harus mampu mendorong perubahan status sosial-ekonomi, Tujuan akhirnya adalah mustahik yang berdaya dan pada waktunya menjadi muzaki,” ujar Saidah.
Ia menekankan, zakat tidak berhenti pada bantuan konsumtif, tetapi diarahkan pada program-program produktif yang berkelanjutan seperti pendidikan, penguatan ekonomi keluarga, hingga pemberdayaan usaha kecil.
Bagi Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin, zakat memiliki posisi unik dalam sistem ekonomi modern. Ia menyebut zakat sebagai instrumen distribusi kekayaan yang sejak awal dirancang untuk mencegah ketimpangan.
“Zakat tidak menunggu efek tetesan ke bawah. Ia justru mewajibkan aliran kekayaan langsung kepada mereka yang membutuhkan,” kata Amir.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada konsep zakat itu sendiri, melainkan bagaimana zakat dipahami publik. Di sinilah media berperan, bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai penerjemah makna.
“BAZNAS perlu dilihat sebagai institusi pembangunan sosial-ekonomi, bukan sekadar lembaga filantropi,” ujarnya lagi.
Pandangan itu juga diamini Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin. Ia menilai media dan lembaga zakat sama-sama bekerja dengan modal utama: kepercayaan.
“Zakat adalah potensi sosial yang luar biasa. Jika dikelola dan dikomunikasikan dengan baik, ia bisa menjadi pilar ketahanan sosial bangsa,” kata Andi.
Menurutnya, media tidak cukup berhenti pada pemberitaan kegiatan, tetapi perlu ikut membangun kesadaran publik bahwa zakat adalah solusi konkret, bukan wacana normatif.
Dalam forum tersebut, artis yang juga influencer, Fairuz A. Rafiq berbicara dari sudut pandang yang lebih personal.
Baginya, zakat bukan hanya tentang transfer harta, tetapi tentang menjaga martabat manusia.
“Zakat itu bukan sekadar memberi uang atau makanan. Zakat adalah cara kita memastikan tidak ada yang tertinggal terlalu jauh,” ujarnya.
Fairuz menilai literasi zakat harus disampaikan dengan bahasa yang membumi agar masyarakat, terutama generasi muda tidak melihat zakat sebagai beban, melainkan sebagai gerakan bersama.
“Ketika orang sadar bahwa zakat bisa mengubah hidup seseorang, di situ empati dan tanggung jawab sosial bertemu,” katanya.
Bahkan, ia dan sang suami sudah membiasakan anak-anaknya untuk langsung praktek berzakat dan sedekah.
“Saya dan suami biasa memberi anak-anak uang untuk dimasukan langsung ke kotak amal,” beber anak pedangdut legendaris, A Rafiq ini.
Z-Talk akhirnya bukan hanya forum diskusi, tetapi titik temu. BAZNAS dan insan media sepakat memperkuat kolaborasi dalam membangun narasi zakat yang inklusif, berdampak, dan relevan dengan tantangan zaman.
Zakat, dalam forum ini, tidak lagi dibicarakan sebagai ritual tahunan. Ia dibingkai sebagai sistem yang hidup, mengalir dari kesadaran individu, dikelola secara profesional dan dikawal narasi yang jujur di ruang publik. (NVR)
