JAKARTA, AKURATNEWS.co – Jika biasanya sebuah film dokumenter dibuat monoton dan kurang menarik untuk ditonton lantaran alur ceritanya yang kaku, hal ini sepertinya tak berlaku bagi film dokumenter yang diproduksi Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Pemerintahan Desa (Pemdes) dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Empat film dokumenter yang dikemas dalam film dokumenter drama (dokudrama) dengan tema besar menggali potensi desa. Masing-masing dua film berjudul ‘Jawara Desa’ dan ‘Desa Para Pemimpi(n)’. Dimana seluruh latar tempat dari pengambilan gambar untuk film-film itu diambil dari desa yang penuh potensi dari berbagai daerah.
Salah satu desa di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat tepatnya di Desa Mandalagiri, Kecamatan Leuwisari. Desa Mandalagiri menjadi salah satu latar tempat di film berjudul “Jawara Desa”, bersama dengan satu desa lainnya yang berada di Maluku Utara. Satu desa lain itu adalah Desa Akebay, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.
Adapun untuk film dengan judul ‘Desa Para Pemimpi(n)’ juga berlatar tempat di dua desa. Pertama, di Tanah Tinggi, Sumatera Barat. Kedua diambil dari Desa Tanjung Setia, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.
Sutradara kondang, Hanung Bramantyo pun digandeng untuk membuat film ini. Ia menyebut dirinya memang tak asing dengan upaya pengembangan potensi desa.
“Jika ingat Desa Gampong di Yogyakarta. Itu contoh bagaimana saya konsern dengan pengembangan potensi desa,” ujar Hanung.
Ia mengaku hal tersulit dalam membuat film dokudrama ini adalah mempertahankan fakta akurat. Pemilihan tokoh dan tempat dalam film ini juga harus melalui riset mendalam.
“Keempat tokoh film ini bisa menjadi representasi dari narasi yang kami gaungkan yaitu membangun Indonesia dari Desa,” sebut Hanung.
Direktur Lembaga Kemasyarakatan dan Adat Desa, Ditjen Bina Pemerintahan Desa, TB Chaerul Dwi Sapta menjelaskan, produksi film ini adalah hasil kerjasama Kemendagri dengan Bank Dunia dengan sebuah Program Penguatan Pemerintahan dan Pembangunan Desa (P3PD).
Sesuai dengan tujuannya untuk mengangkat potensi desa, Chaerul menuturkan bahwa dua film ini akan berbicara mengenai kepemimpinan, kewirausahaan, dan potensi desa untuk kemajuan perekonomian.
“Film ini mengangkat tentang leadership, entrepreneurship, potensi desa untuk menjaga urbanisasi dan penguatan perekonomian,” kata TB Chaerul.
Terlebih, film ini juga merupakan representasi dari pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian yang selalu menyebarkan pesan agar urbanisasi ini dapat dicegah dengan baik. Sehingga perputaran ekonomi juga dapat merata, baik di kota maupun di desa.
“Pak Menteri (Tito Karnavian) sering menggaungkan urbanisasi. Jangan sampai desa yang orang-orang produktifnya pindah ke kota, terjadi urbanisasi. Makanya, desa harus maju. Tinggalnya di desa, rezekinya kota,” imbuhnya.
Ditambahkannya, untuk lebih memberikan dampak yang lebih besar tentang potensi desa, tak hanya film dokudrama saja, ada juga 100 konten berbentuk video yang dibuat pihaknya.
Sedangkan untuk jadwal pemutaran dua film tersebut rencananya akan dilakukan dalam dua hari yang berbeda. Pertama, akan diputar pada Sabtu, 2 Desember 2023 dan yang kedua akan diputar dua hari setelahnya, yakni Senin, 4 Desember 2023 di Djakarta Theatre. (NVR)
