SOLO, AKURATNEWS.co – Istri capres nomor urut satu, Anies Baswedan, Fery Farhati dan putri sulungnya Mutiara Annisa Baswedan berkunjung ke kediaman Diva Keroncong Indonesia, Waldjinah di Solo, Jawa Tengah, Senin, (22/1).
Kunjungannya ini merupakan bagian silaturahmi Fery dengan penyanyi yang memulai karirnya sejak umur 10 tahun itu.
Dalam kunjungannya itu, Fery dan Mutiara disambut dengan alunan musik keroncong. Dengan sapaan dan pelukan hangat Waldjinah dan keluarga menyambut kedatangan Fery dan Mutiara.
Fery menyampaikan rasa senang bisa bertemu Waldjinah. Dia mengaku, Waldjinah adalah salah satu penyanyi keroncong yang di idolakan Fery sejak kecil.
Salah satu lagu yang digemari Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) DKI Jakarta periode 2017-2022 itu yakni Walang Kekek yang rilis pada 1969.
“Saya itu sangat suka sekali dengan ibu. Ibu Waldjinah itu cantik sekali kalau pakai kebaya dan sanggul,” kata Fery di hadapan Waldjinah.
Waldjinah hingga saat ini masih melestarikan budaya keroncong dengan memberikan kursus keroncong gratis.
Berdasarkan catatan ISI Solo, terdapat 34 album piringan hitam dan 176 album kaset dengan total sebanyak 1.766 lagu yang diciptakan Waldjinah.
Selain itu, Eyang Waldjinah juga melestarikan kain batik yang dia gunakan saat bernyanyi keroncong. Sekitar 700 kain kuno masih dilestarikan hingga saat ini.
Dalam kesempatan itu, Fery dan Mutiara juga diperlihatkan sejumlah kain warisan Eyang Waldjinah. Salah satunya yaitu kain batik tulis yang dibuat keluarga Waldjinah dengan motif kembang kantil ‘Magnolia’.
Batik dengan kembang kantil ini merupakan motif yang diciptakan oleh R.A. Kartini pada tahun 1879-1904.
“Kain ini usianya sudah ratusan tahun, ini satu-satunya dari karangan dari R.A. Kartini, motif kembang kantil Magnolia. Ini sudah di simpan dan turun temurun,” ucap Waldjinah
Selain kain tersebut, maestro ini juga memiliki koleksi kain batik perpaduan antara budaya luar dan Indonesia.
Kunjungan Fery di kediaman Waldjinah ditutup dengan nyanyi bersama lagu Walang Kekek.
Dalam kesempatan ini, Waldjinah menghadiahkab kain batik Wahyu Tumurun kepada Anies Baswedan. Kain tersebut dititipkan kepada Fery.
Waldjinah mengatakan pemberian kain tersebut sebagai bentuk doa agar Anies Baswedan dianugerahkan sebagai Presiden Republik Indonesia.
“Kain batik Wahyu Tumurun biar turun ke Pak Anies jadi presiden RI, nomor 1,” kata Waldjinah saat melakukan video call dengan Anies Baswedan.
Batik yang berdominan warna coklat itu, dibuat selama tujuh bulan yang dikerjakan oleh pembatik lanjut usia sembari melakukan wirid. Waldjinah juga membubuhkan tanda tangannya di kain batik tersebut.
“Nenek-nenek ini mengerjakan selama tujuh bulan lamanya yang diisi dengan wirid-an dan ini hasilnya,” jelasnya.
Penyanyi yang dijuluki Ratu Keroncong ini menyampaikan pesan apabila Anies menjadi presiden agar terus menjaga dan melestarikan budaya Indonesia.
Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 itu menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Waldjinah. Dia menuturkan akan menggunakan batik tersebut dalam agenda pilpres 2024.
“Matur Suwun, luar biasa penuh makna batik itu. Nanti saya pakai di acara penting apalagi menyangkut pilpres, saya pakai batik Wahyu Tumurun,” ungkap Anies.
Sementara itu, Fery menyampaikan pemerintah juga ikut berperan dalam menjaga budaya di Indonesia.
“Pemerintah juga harus hadir untuk menjaga budaya karena sebagian besar biasanya yang mengelola hanya keluarga saja padahal itu juga kekayaan negara,” tuturnya.
Perlu diketahui, pasangan capres nomor urut 1 Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan budaya di Indonesia.
Adapun visi misinya yakni, dana abadi kebudayaan jumlahnya akan makin besar dan pemanfaatannya makin beragam. Beasiswa khusus untuk seniman dan budayawan diperluas termasuk untuk belajar hingga S2 dan S3 di Luar Negeri, pemerataan pendidikan seni dan budaya serta kesempatan belajar bersama maestro.
Kemudian, pusat-pusat budaya dibangun dan dikembangkan di banyak daerah di Indonesia, baik untuk budaya tradisional maupun kontemporer, dihidupkan dengan kolaborasi bersama komunitas
Selanjutnya, seniman tangguh dan para tokoh budayawan dimuliakan melalui program “Maestro Nasional”. (NVR)
