JAKARTA, AKURATNEWS.co- Di tengah persiapan penyusunan kabinet oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto, muncul harapan agar pimpinan PT PLN (Persero) yang berada di bawah naungan Kementerian BUMN nantinya diambil dari kalangan internal.

Banyak pihak menilai, posisi Direktur Utama PLN idealnya diisi individu yang berintegritas tinggi, beretika, dan memiliki pemahaman mendalam tentang sistem kelistrikan nasional.

Koordinator Nasional Relawan Listrik Untuk Negeri (Re-LUN), Teuku Yudhistira melihat, sudah saatnya PLN dipimpin sosok yang meniti karir dari dalam perusahaan. Ia menekankan pentingnya pengalaman panjang dalam memahami manajemen dan sistem kelistrikan PLN agar perusahaan dapat dikelola dengan baik.

“PLN ini memiliki peran strategis, sehingga harus dipimpin oleh orang yang mengerti urat nadi manajemen dan kelistrikan,” kata Yudhistira di Jakarta, baru-baru ini.

Yudhistira juga menyoroti pola penunjukan Dirut PLN yang selama ini sering diisi orang luar. Menurutnya, sudah waktunya untuk mempercayakan posisi tersebut kepada kalangan internal yang telah memahami PLN dari bawah hingga ke puncak.

“Saya yakin, banyak sosok di PLN yang punya kapasitas dan leadership untuk memimpin. Mereka sudah lama berkarir di sana dan memahami apa yang diperlukan untuk memajukan perusahaan,” ujarnya.

Penunjukan Dirut PLN, yang merupakan hak prerogatif Menteri BUMN, diharapkan tidak hanya menjadi keputusan politis. Menurut Yudhistira, masukan dari berbagai pihak yang memahami kebutuhan industri kelistrikan sebaiknya dipertimbangkan.

“Harusnya yang dikedepankan adalah prestasi institusi, bukan sosok individu,” tegasnya, merujuk pada tren penghargaan yang cenderung menonjolkan personal, bukan pencapaian keseluruhan perusahaan.

Ketua Umum Forum Masyarakat Pemantau Negara (Formapera) ini juga menambahkan, Dirut PLN yang baru harus memiliki sifat humanis dan beretika baik. Pemimpin yang beretika, kata Yudhistira, mampu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan tidak didominasi oleh rasa takut.

“Pimpinan seharusnya tidak menunjukkan arogansi atau bersikap kasar kepada bawahannya,” lanjutnya.

Ia juga mengingatkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh menggunakan posisinya untuk keuntungan pribadi atau kelompok kecil tertentu. Menurutnya, karir setiap pegawai harus didasarkan pada kinerja, bukan pada kedekatan personal.

“Jangan sampai pejabat yang berprestasi diabaikan hanya karena tidak masuk dalam circle tertentu,” tambah Yudhistira.

Harapan ini muncul menjelang pelantikan pasangan Prabowo-Gibran pada 20 Oktober mendatang, yang diperkirakan akan langsung diikuti oleh pengumuman susunan kabinet, termasuk Menteri BUMN. Yudhistira berharap pandangan dan masukan ini bisa menjadi pertimbangan bagi pemerintah baru.

“PLN bukan hanya bicara tentang perusahaan, tapi juga menyangkut kebutuhan primer masyarakat. Karena itu, dibutuhkan sosok yang benar-benar memahami perusahaan dan perangkatnya,” tutup Yudhistira. (NVR)

By Editor1