JAKARTA, AKURATNEWS.co – Memperingati Hari Pendidikan Nasional, P&G Health Indonesia meluncurkan kolaborasi strategis dengan dua kampus farmasi ternama, Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya dan Universitas Padjadjaran (Unpad) melalui Program Studi Profesi Apoteker.
Langkah ini untuk memberdayakan calon apoteker, alumni, dan tenaga kesehatan lewat pembelajaran yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan lapangan.
Kolaborasi jangka panjang ini dirancang memperkuat peran apoteker sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan. Mahasiswa dan alumni muda dibekali pemahaman mendalam tentang penyakit yang umum ditemui, seperti anemia, rhinitis akut, dan neuropati perifer.
Program juga menekankan pentingnya penggunaan obat yang tepat dan bertanggung jawab demi meningkatkan kualitas hidup pasien.
“Di P&G Health, kami percaya apoteker punya peran penting memastikan pasien dapat pengetahuan pengobatan yang tepat sekaligus edukasi yang dibutuhkan. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menjembatani pembelajaran akademik dengan praktik nyata dan membagikan inovasi solusi kesehatan P&G Health Indonesia sehingga mahasiswa lebih siap hadapi kebutuhan pasien sehari-hari,” ujar Caroline Herlina, Brand Director Health Care P&G Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.
Caroline menegaskan kolaborasi fokus pada tiga pilar utama: edukasi, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Dimulai dari tingkat Program Studi Profesi Apoteker untuk memastikan selaras dengan kebutuhan akademik sekaligus relevan dengan praktik di lapangan,” katanya.
Bersama Unika Atma Jaya, P&G Health menghadirkan pembelajaran komprehensif lewat modul _e-learning_, video edukasi, serta materi terstruktur dalam bentuk e-book dan buku cetak.
Program e-learning ini menargetkan lebih dari 500 peserta hingga Juni 2026. Partisipan tidak hanya mahasiswa, tetapi juga alumni yang sudah menjalani profesi apoteker.
“Kolaborasi ini menghadirkan pendekatan yang lebih aplikatif. Lewat berbagai format seperti e-learning, video edukasi, serta modul terstruktur, mahasiswa dapat memahami bagaimana ilmu yang dipelajari diterapkan langsung dalam situasi nyata bersama pasien,” ujar Dr. dr. Felicia Kurniawan, http://M.Kes, Dekan Fakultas Kesehatan dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya.
Universitas Padjadjaran turut menjadi mitra dalam peningkatan kualitas pendidikan farmasi. Kolaborasi diawali dengan program e-learning yang fokus pada penguatan kompetensi Patient Counseling & Rational Use of Oxymetazoline, khususnya penanganan rhinitis akut.
Program ini dirancang menjangkau seluruh mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker Unpad dan jadi langkah awal pengembangan kolaborasi lebih luas di bidang edukasi, riset, serta pengabdian masyarakat.
“Kami melihat kolaborasi ini sebagai langkah awal penting dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa, khususnya aspek konseling pasien dan penggunaan obat yang rasional. Ke depan, kami harap kerja sama ini berkembang ke inisiatif lebih luas, termasuk riset dan edukasi masyarakat,” ujar Prof. apt. Auliya A. Suwantika, MBA., PhD, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.
Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), apt. Noffrendi Roestam, http://S.Si menyambut baik kolaborasi ini sebagai langkah positif memperkuat peran apoteker.
“Seiring berkembangnya kebutuhan layanan kesehatan, apoteker tidak lagi hanya berperan sebagai penyedia obat, tetapi juga mitra kesehatan yang aktif memberi edukasi serta memastikan penggunaan obat yang tepat. Penguatan kompetensi lewat pembelajaran aplikatif menjadi semakin penting,” ujarnya.
Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M. Biomed., Ph.D., turut mengapresiasi sinergi lintas sektor ini.
“Untuk memperkuat ekosistem kesehatan berbasis riset, kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, dan akademisi merupakan kuncian utama. Setiap inovasi kesehatan dan inisiatif edukasi perlu punya dasar ilmiah yang kuat, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta tetap mengedepankan aspek keamanan, mutu, manfaat, dan kepatuhan terhadap regulasi,” tegasnya.
Dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, program ini diharapkan berdampak lebih luas dari sekadar pembelajaran akademik. Inisiatif ini mendorong perubahan perspektif terhadap peran apoteker, tidak hanya sebagai penyedia obat, tetapi mitra kesehatan aktif yang membantu pasien mengambil keputusan tepat.
P&G Health sendiri terus berkomitmen memperluas jangkauan program lewat pengembangan modul pembelajaran lanjutan, kolaborasi riset, serta inisiatif edukasi masyarakat.
“Lewat sinergi industri dan dunia pendidikan, kami berharap dapat terus berkontribusi mendukung generasi apoteker yang lebih siap, adaptif, dan mampu memberi dampak nyata dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat,” tutup Caroline. (NVR)
