JAKARTA, AKURATNEWS.co – Jika Anda berasumsi film horor cuma soal setan dan jumpscare, bersiap menyimak ‘Aku Harus Mati’ yang mengklaim bakal siap ngebanting ekspektasi itu.

Film produksi Rollink Action ini diklaim datang dengan paket lengkap: seram, relate, dan agak ‘nyindir keras’ gaya hidup generasi sekarang.

Disutradarai Hestu Saputra dan diproduseri Irsan Yapto serta Nadya Yapto, film yang dijadwalkan tayang mulai 2 April 2026 di seluruh bioskop Indonesia ini mencoba menyuguhkan horor dengan misi bukan cuma nakutin, tapi juga nampar.

Buat Irsan Yapto, horor disebutnya adalah ‘kendaraan’ paling efektif untuk menyampaikan pesan ke publik luas.

“Kita punya background marketing, jadi mikir bagimana pesan ini bisa tersebar masif. Horor itu market-nya besar, jadi impact-nya juga lebih luas,” kata Irsan di sela presscreening ‘ Aku Harus Mati’ di Jakarta, Kamis (26/3).

Sedangkan Hestu Saputra blak-blakan menyebut soal keresahan yang jadi fondasi film ini.

“Fenomena pinjol, flexing, itu sekarang kayak udah jadi hal biasa. Padahal itu teror nyata. Film ini jadi cara kita buat bilang: ini nggak normal,” tegasnya.

Naskah karya Aroe Ama ini sendiri mengikuti perjalanan Mala (Hana Saraswati), cewek muda yang hidupnya kelihatan glamor, tapi sebenarnya lagi ‘tenggelam’.

Demi terlihat keren dan diakui, ia terjebak dalam utang pinjol dan paylater. Tapi makin lama, hidupnya makin gelap, tak cuma secara finansial, tapi juga secara spiritual.

Saat pulang ke panti asuhan dan bertemu Tiwi (Amara Sophie), Nugra (Prasetya Agni), dan Ki Jago (Bambang Paningron), Mala berharap bisa memulai ulang. Dan plot twist-nya? Justru di situlah semuanya makin kacau.

Dari ‘mata batin kebuka’ sampai rahasia keluarga tentang perjanjian iblis, film ini pelan-pelan mendorong penonton ke titik jika tak semua harga bisa dibayar dengan uang.

Hana Saraswati selaku salah satu aktris pendukung film ini merasa cerita film ini terlalu dekat sama realita.

“Sekarang tuh kita kayak sering ‘jual ketenangan’ demi validasi. Padahal belum tentu itu kita butuhin. Pinjol gampang banget diakses, tapi dampaknya bisa panjang,” ujarnya.

Ia juga memberi pesan yang cukup menusuk.

“Kalau ambil jalan pintas, suatu saat pasti ada yang nagih. Dan kita nggak pernah tahu bentuknya apa,” ucapnya.

Sedangkan pemeran lainnya, Amara Sophie juga punya cerita horor sendiri selama syuting.

“Pernah ngerasa kayak ada yang ngikutin. Bahkan di penginapan ada kejadian aneh, kayak pintu diketok tengah malam. Itu real, bukan gimmick,” ceritanya.

Film ini juga menyenggol isu pesugihan lewat sudut pandang pakar spiritual, Ria Puspita. Menurutnya, praktik ini tak pernah hilang, dan hanya berubah bentuk.

“Sekarang orang lebih ‘halus’. Tapi konsepnya sama: pengen cepat kaya tanpa proses. Dan tetap ada harga yang harus dibayar,” jelasnya.

Ia bahkan menyebut, dalam banyak kasus, ‘harga’ itu bukan sekadar materi tapi bisa nyawa.

Film ini pun terasa relevan karena mengangkat isu yang jelas ada di sekitar kita seperti flexing dan fomo, pinjol dan validasi digital serta pesugihan modern.

Secara visual, ‘Aku Harus Mati’ mencoba bermain di tone gelap dan realistis, bukan yang terlalu ‘fantasy’, tapi lebih ke horor yang terasa dekat.

Beberapa highlight soal visualisasi film ini adalah lightingnya yang redup dan kontras tajam. Lalu shot sempit dan framing tertekan yang coba menggambarkan hidup yang ‘kejebak’.

Kemudian adegan buka mata batin menjadi salah satu scene impactful secara visual dan emosional.

‘Aku Harus Mati’ pun akhirnya bertutur tentang cermin gelap kehidupan modern. Tentang ambisi, tentang tekanan sosial, tentang keputusan kecil yang bisa berujung besar.

Dan satu pertanyaan yang bakal kebawa pulang dari bioskop. Apakah Anda sedang mengejar sukses, atau lagi pelan-pelan kehilangan diri sendiri? (NVR)

By editor2