JAKARTA, AKURATNEWS.co – Dalam rangka peringatan HUT ke-80 Indonesia, Kementerian Budaya (Kembud) menggelar Konser Rakyat Leo Kristi. Konser ini juga digelar sebagai bagian mengenang karya-karya musisi legendaris Leo Kristi.

Menteri Budaya, Fadli Zon menyebut, konser ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk penghormatan atas perjalanan musik yang penuh pesan moral, refleksi sosial dan cinta tanah air.

“Lagu-lagu Leo Kristi bukan hanya musik penghibur, tapi suara rakyat dari desa, dari pinggiran, suara alam, relasi dengan Tuhan, sosial, bahkan romantis. Semua merefleksikan Indonesia,” ujar Fadli Zon di sela konser yang digelar di Sarinah, Jakarta, Sabtu (21/8).

Menurutnya, konser ini juga menjadi momentum untuk menghadirkan kembali semangat patriotisme lewat karya Leo Kristi yang jujur dan apa adanya.

Fadli pun berharap generasi baru dapat terus melanjutkan estafet musik dengan semangat zaman tanpa meninggalkan nilai yang terkandung dalam karya-karya lama.

Fadli juga menyinggung pentingnya literasi musik agar lirik-lirik penuh makna dari Leo Kristi bisa dipahami lebih luas.

Pihaknya bahkan membuka ruang bagi rearansemen dan kolaborasi dengan musisi muda sebagai bagian dari asa agar karya Leo Kristi juga tetap hidup di hati generasi sekarang.

“Kenapa tidak jika dibawakan dengan gaya baru oleh penyanyi muda? Lagu-lagu Leo Kristi sarat kejujuran, rasa optimis, dan cinta tanah air. Itu pesan yang relevan sampai hari ini,” tambahnya.

Konser rakyat ini juga melibatkan sejumlah musisi lintas generasi, termasuk nama-nama yang selama puluhan tahun setia membawakan karya Leo Kristi seperti Ote Abadi.

Untuk diketahui, Leo Kristi adalah musisi balada legendaris Indonesia yang lahir pada 8 Agustus 1949 di Surabaya, Jawa Timur.

Nama aslinya adalah H. Leo Imam Sukarno. Ia dikenal sebagai musisi pengelana yang menikmati karier musiknya di jalanan.

Leo meninggal pada 21 Mei 2017 di Rumah Sakit Immanuel Bandung, Jawa Barat, pada usia 67 tahun.

Ia memulai karier musiknya sebagai penyanyi di restoran dan kafe di Surabaya, seperti “China Oriental” dan “Chez Rose”.

Kemudian g bergabung dengan grup musik Lemon Trees bersama Gombloh dan Franky Sahilatua, sebelum akhirnya memilih bersolo karier.

Musik-musiknya dikenal dengan balada yang sarat dengan lirik patriotisme dan cinta.

Album-Album Leo Kristi antara lain:

– Nyanyian Fajar (1975)
– Nyanyian Malam (1976)
– Nyanyian Tanah Merdeka (1977)
– Nyanyian Cinta (1978)
– Lintasan Hijau Hitam (1984)
– Hitam Putih Orche (2014)

Leo Kristi memiliki penggemar setia yang tergabung dalam komunitas LKers (Komunitas Pecinta Musik Konser Rakyat Leo Kristi).

Hingga kini, musiknya masih dikenang dan dinikmati hingga saat ini, dengan lagu-lagu seperti ‘Lewat Kiaracondong’ yang menjadi salah satu karya terkenalnya. (NVR)

By editor2