SURABAYA, AKURATNEWS.co – Di sebuah ruangan di Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Kamis (11/12), perbincangan tentang masa depan ekonomi Indonesia mengemuka.

Bukan sekadar soal angka pertumbuhan, melainkan tentang arah, nilai, dan identitas. Di forum itulah Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkenalkan sebuah model ekonomi yang disebut sebagai jalan khas Indonesia: Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur.

Gagasan tersebut disampaikan dalam Seminar dan Kongres V Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI), yang mengusung tema Menciptakan Pertumbuhan Ekonomi Baru. Forum ini dirancang untuk melahirkan pokok-pokok pikiran strategis sebagai rekomendasi kebijakan pemerintah, terutama dalam membuka bidang-bidang pembangunan ekonomi baru yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Di hadapan para guru besar dari berbagai perguruan tinggi, Rika Fatimah PL, S.T., M.Sc., Ph.D., dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM sekaligus Founder dan Konseptor G2R Tetrapreneur, memaparkan gagasan bertajuk Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur: Inovasi Ikonik Pergerakan Ekonomi Futuristik Asli Indonesia.

Rika membuka paparannya dengan sebuah refleksi kritis. Indonesia, menurutnya, memiliki modal besar berupa kekayaan alam, sumber daya manusia, dan budaya yang luar biasa.

Namun potensi itu belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan inovasi yang mampu menembus pasar global.

“Indonesia masih berada di urutan kelima indeks terendah yang menunjukkan lemahnya ekosistem inovasi,” ujar Rika.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi penghambat utama lahirnya merek global asli Indonesia.

“Ketika kita berbicara tentang penumbuhan ekonomi baru, maka ekosistem merupakan substansi dasar dan utama yang harus disediakan,” tegasnya.

Dari titik itulah, G2R Tetrapreneur ditawarkan bukan sekadar sebagai konsep kewirausahaan, melainkan sebagai sebuah ekosistem ekonomi berbasis nilai Pancasila yang dirancang untuk menjawab tantangan global tanpa kehilangan jati diri bangsa.

Dalam pandangan Rika, ekonomi Indonesia seharusnya kembali “dimaklumi dan dimuliakan” melalui Ekonomi Pancasila. Prinsip gotong royong tidak hanya menjadi jargon, tetapi diterjemahkan secara konkret dalam praktik bisnis dan kewirausahaan.

“Ekonomi yang berketuhanan berarti agama tidak berhenti sebagai ritual ibadah, tetapi hadir nyata dalam pengambilan keputusan bisnis,” kata Rika.

Sementara ekonomi berkemanusiaan, lanjutnya, menempatkan manusia sebagai subjek utama, bersatu, bermusyawarah, dan bergerak menuju keadilan sosial.

Nilai-nilai itulah yang menjadi ruh dari Standar Nasional Indonesia (SNI) G2R Tetrapreneur, sebuah gagasan standardisasi wirausaha asli Indonesia yang digagas agar gotong royong menjadi fondasi proses bisnis, bukan sekadar slogan pemasaran.

Salah satu aspek kunci dari G2R Tetrapreneur adalah upaya standarisasi. Menurut Rika, konsistensi dan visi jangka panjang model ini perlu dijaga melalui pengelolaan terpusat dan sistem standar yang jelas.

“Esensi SNI G2R Tetrapreneur adalah memberikan jaminan bahwa proses bisnis dilakukan secara bergotong royong,” ujarnya.

Artinya, kualitas tidak hanya diukur dari produk akhir, tetapi juga dari karakter pelaku usaha dan kelembagaan yang dibangun.

Ia membandingkan konsep tersebut dengan standardisasi yang diterapkan oleh International Organization for Standardization (ISO).

Seperti halnya ISO, SNI G2R Tetrapreneur diharapkan mampu mendorong pelaku usaha Indonesia memproduksi barang dan jasa berkelas global, tanpa tercerabut dari nilai-nilai lokal.

Bahkan, ke depan Rika berharap struktur SNI G2R Tetrapreneur dapat berkembang menjadi salah satu seri ISO dunia.

Dengan demikian, praktik Ekonomi Pancasila bukan hanya relevan secara nasional, tetapi juga menjadi rujukan global.

SNI G2R Tetrapreneur dirancang sebagai bagian dari upaya optimalisasi standar khusus bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Intinya, G2R Tetrapreneur diposisikan sebagai standar nasional wirausaha asli Indonesia sekaligus single entity iconic global.

Ke depan, SNI G2RT akan terdiri dari beberapa seri. Setiap seri akan mengatur pedoman pelaksanaan pada masing-masing unsur “Tetra”, yang menjadi kerangka dasar model G2R Tetrapreneur.

Di tengah forum para guru besar, gagasan ini menegaskan satu pesan penting: pertumbuhan ekonomi baru tidak hanya soal kecepatan dan skala, tetapi juga tentang nilai dan arah.

Melalui G2R Tetrapreneur, UGM menawarkan sebuah jalan ekonomi yang berangkat dari akar budaya Indonesia, namun menatap panggung global dengan percaya diri. (NVR)

By editor2