JAKARTA, AKURATNEWS.co – Sosok pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Lafran Pane coba kembali ditampilkan secara visual. Dan bertepatan dengan Milad ke-77 HMI, film biopik berjudul ‘Lafran’ ini ditayangkan secara khusus sebagai kado spesial.
Sebenarnya, produksi film ini sudah dilakukan sejak empat tahun lalu. Tahun 2024 pun dianggap momen tepat untuk merilis film ini. Dimana di tengah tahun politik, kisah perjuangan Lafran diharapkan dapat membangkitkan semangat persatuan dan kebangsaan.
Latar belakang adik kandung dua sastrawan besar negeri ini, Sanusi dan Amrijn Pane ini mendirikan HMI sebagai aktualisasi dari pandangannya tentang Islam dan Indonesia bisa menjadi sebuah teladan bagi generasi saat ini.
Dengan mendirikan HMI, Lafran melihat Islam mendapat peran yang lebih tinggi di antara mahasiswa, dimana Islam bukanlah sekumpulan kaum yang mempertahankan tradisi dan pengetahuan tradisional. Selain itu, dengan adanya HMI, ide persatuan umat Islam mengikis fanatisme kelompok yang semakin meningkat.
Sosok Lafran Pane sendiri diperankan aktor Dimas Anggara. Bagi Dimas, peran ini dipandang sangat menantang dan menjadi pengalaman baru baginya. Dan akan sangat menyesal jika ia menolak tawaran bermain di film ini.
Untuk pendalaman karakter, Dimas pun melakukan riset melalui buku, keluarga Lafran maupun diskusi dengan sejumlah tokoh. Ia juga bolak-balik ziarah ke makam Lafran Pane di Yogyakarta.
“Saat syuting, kebetulan penginapan saya hanya delapan menit jalan ke makam beliau. Saya ziarah tiap pagi dan malam,” beber Dimas di penayangan khusus ‘Lafran’ di Jakarta, Senin (5/2).
Sebelum membintangi film ini, Dimas pun perlu terlebih dulu menaikkan berat badanya sekitar 15 kilogram. Hal ini tentu tidak lepas dari tuntutan mendekati gambaran fisik karakter Lafran Pane.
Film ini menceritakan Lafran sejak kecil yang ditinggal dua perempuan tercintanya. Ibunya meninggal saat ia berusia dua tahun. Berikutnya, neneknya. Kehilangan dua ‘ibu’ bagi Lafran seperti kehilangan kemudi. Ayahnya, Sutan Pangurabaan, tokoh pergerakan di Sumatera Utara terlalu sering berpergian hingga Lafran harus tinggal bersama kakaknya.
Pada usia muda itulah, Lafran jadi pemberontak terhadap kondisi ketidakadian yang menuntut ia harus pindah ke berbagai sekolah. Lafran bahkan sempat jadi petinju jalanan. Dua kakaknya-lah, Sanusi dan Armijn Pane yang mendorong Lafran agar energi pemberontakkannya dimanfaatkan dalam bentuk karya.
Perjalanan Lafran dari Tapanuli Selatan (Sipirok) ke Jakarta hingga Yogyakarta mewarnai perubahan cara pandangnya dalam berjuang. Idealismenya menguat, prinsip hidup semakin tak tergoyahan, Lafran menyimpan visi besar dalam memperjuangkan keindonesiaan.
Saat pendudukan Jepang, Lafran sempat ditahan karena membela para peternak sapi. Dia dibebaskan, setelah ayahnya menebus dengan menyerahkan perusahan bus milik keluarga, Sibual-buali kepada tentara Jepang. Sejak itu, Lafran begitu antusias terlibat dalam berbagai arus gerakan kemerdekaan termasuk para pemuda yang mendorong Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Semasa kuliah di Yogyakarta, Lafran gundah oleh keberadaan kaum muslim terpelajar yang terlalu larut dalam pemikiran sekular. Mereka sering melupakan ibadah utama. Maka, muncullah gagasan mendirikan Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), yang berjuang dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan.
Awalnya tidak ada yang mudah, dalam arus politik aliran yang sangat kencang saat itu, keberadaan HMI justru ditentang oleh organisasi massa Islam yang sudah ada. Resistensi juga dilakukan gerakan kelompok sosialis. Dari semua pertentangan dan gesekan yang dihadapi, Lafran berketepatan hati menegakkan HMI hingga berkembang sampai saat ini dan menciptakan banyak kadernya yang berkiprah di tanah air ini.
Sebelum dirilis secara nasional pada Mei 2024, film ini akan roadshow di 30 kota di Indonesia guna memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan kisah inspiratif Lafran Pane. (NVR)
