JAKARTA, AKURATNEWS.co – Diskusi Festival Film Horor edisi ke-6, Rabu (13/5) yang mengangkat tema ‘Horor Komedi, Maunya Uji Nyali Malah Ngakak’ berlangsung cukup seru.
Walau tema ini terlihat ringan, tapi cukup memicu adu argumen tentang estetika, formula pasar, dan posisi genre ini di perfilman Indonesia.
Diskusi yang diawali dengan pemutaran dua film pendek dari komunitas film dan menghadirkan sineas Aris Muda selaku produser, Astrada muda Vindri Moe dan jurnalis film D. Novriansyah dengan Nutty Laraswaty bertindak sebagai moderator ini menyuguhkan percakapan mengalir dari persoalan teknis pembuatan film hingga status horor komedi yang disebut sebagai “anak ambigu” di industri film nasional.
Genre ini kerap laris di bioskop, tapi sering dipandang setengah hati di ruang kritik dan festival. Identitasnya belum sepenuhnya stabil.
Pertanyaan yang terus muncul: apakah horor komedi adalah subgenre horor yang disisipi humor, subgenre komedi yang memakai unsur ketakutan, atau bentuk hybrid yang berdiri sendiri.
Di diskusi ini, Aris Muda menyebut tidak ada rumus baku soal porsi horor dan komedi dalam sebuah film yang kerap disebut film horor komedi. Baginya, film horor komedi lebih mengarah ke strategi pasar alias marketing.
“Horor komedi itu adalah bahasa marketing pembuat film untuk meraup jumlah penonton di dua kategori, horor dan komedi. Dan dari kacamata marketing, kami memang memanfaatkan area penggemar kedua genre itu,” ujar Aris.
Dari sisi keberadaan komedi di film horor, jurnalis film D. Novriansyah menyebut, perpaduan horor dan komedi di Indonesia sudah ada sejak lama.
Ia mencontohkan film-film Suzanna yang selalu menghadirkan komedian Betawi, Bokir dalam berbagai peran kocak, dari dukun, penyanyi dangdut sampai hansip.
Menurut Erie, sapaan akrabnya, kemunculan horor komedi ini bukan tren sesaat. Ini bagian dari respons pasar terhadap dua hal.
Pertama, penonton yang jenuh dengan horor murni yang berat. Dan kedua, industri film yang butuh genre aman secara komersial alias gampang meraih cuan.
“Jadi semacam jalan tengah antara takut dan ketawa. Genre ini sering jadi pintu masuk buat penonton yang biasanya nggak suka horor,” jelasnya.
Ditambahkannya, horor komedi bekerja karena mampu memecah ketegangan. Penonton dapat sensasi takutnya, tapi diberi ruang untuk tertawa agar tidak burnout.
“Dan akhirnya, horor komedi itu bak dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, karena jadi jalan tengah antara selera penonton dan cara industri film meraup cuan,” ucap Erie.
Dalam edisi kali ini, FFH juga menetapkan ‘Para Perasuk’ sebagai film terpilih bulan ini. Proses seleksi berlangsung sebulan dengan menyeleksi empat film horor yang tayang di bioskop yakni ‘Aku Harus Mati, ‘Ghost in The Cell’, ‘Warung Pocong’, ‘Tiba-Tiba Setan’ dan ‘Para Perasuk’.
Ketua Dewan Juri FFH, Ismail menegaskan, penilaian dilakukan berdasarkan kriteria yang bisa dipertanggungjawabkan dan bukan sekadar selera pribadi.
“Kenapa ‘Para Perasuk’ menjadi film terpilih, empat kriteria film horor ada di film ini. Dari empat film yang beredar di bulan April, film ini kental dengan budaya Indonesia,” jelasnya.
Ismail mengakui ‘Ghost in The Cell’ juga kuat karena berkelas internasional dan menyampaikan kritik sosial politik yang sangat Indonesia. Namun menurutnya, rasa ke-Indonesiaannya kurang terasa dibanding ‘Para Perasuk’.
Untuk kategori aktor, Anggun C Sasmi terpilih sebagai pemain wanita terbaik lewat perannya di ‘Para Perasuk’. Dewan juri menilai Anggun berhasil keluar dari citra dirinya sebagai penyanyi.
“Ia mainnya total. Penonton kaget melihat peran Anggun sebagai guru para perasuk. Bukan Anggun yang biduan, tapi pembimbing para perasuk,” ujarnya.
Sedangkan Aming dinobatkan sebagai pemain pria terpilih lewat ‘Ghost in The Cell’. Selama ini Aming identik dengan peran banci, tapi di film ini ia tampil sebagai pelaku kriminal yang gahar dan ditakuti di penjara.
“Mendengar julukan ‘Tokek’ yang disandingkan padanya, penonton langsung merinding. Aktingnya pun ganas,” tambah Ismail.
Lalu, posisi sutradara terpilih jatuh kepada Joko Anwar di film ‘Ghost in The Cell’. Sementara Indra Suryadi dipilih sebagai Director of Photography terbaik atas arahannya di ‘The Bell: Panggilan untuk Mati’.
Ismail berharap, ke depannya FFH bisa menjadi rujukan bagi sineas yang ingin berkarya di jalur film horor.
Festival ini juga ingin mendorong standar kualitas sekaligus merayakan keberagaman pendekatan dalam genre horor Indonesia.
Dengan diskusi yang menyentuh akar persoalan genre dan pengumuman pemenang yang mempertimbangkan konteks budaya, FFH edisi ke-6 juga ingin menegaskan posisinya sebagai ruang dialog sekaligus barometer film horor nasional setiap bulannya. (NVR)
