Film ‘Istimewa’, Bukan Semata Soal Sempurna Tapi Tentang Bertahan dan Memaafkan
JAKARTA, AKURATNEWS.co – Layar lebar Indonesia kedatangan film keluarga yang mainnya di hati.
Film bertajuk ‘Iistimewa“ karya terbaru sutradara Ruben Adrian mengangkat kisah yang dekat dengan keseharian: relasi seorang ayah dengan anak-anak disabilitas yang diasuhnya.
Film ini tidak sekadar mengajak penonton mengikuti alur cerita. Lebih dari itu, ‘Istimewa’ membuka ruang untuk refleksi tentang kasih sayang, keluarga, dan pentingnya saling memaafkan.
Saat press screening film ini di Jakarta, Senin (7/9), Ruben Adrian menyebut ‘Istimewa’ layaknya sebagai sebuah cermin.
“Buat saya, film ini menjadi refleksi, menjadi cermin buat kita hidup. Film yang menjadi cermin ketika kita harus belajar untuk saling mengasihi dan saling memaafkan. Jadi buat saya ini film tentang cinta, tentang cinta seorang ayah dan anak-anaknya dan cinta seorang anak-anak kepada ayahnya. Itu,” ungkap Ruben.
Lewat ‘Istimewa’, Ruben mencoba merangkai dinamika kehangatan keluarga. Dimana penonton akan diajak menyusuri momen-momen kecil yang lahir dari perhatian, pengorbanan, hingga pilihan untuk saling memahami satu sama lain.
Proses syuting :Istimewa’ ternyata tak kalah emosional dari ceritanya. Aktor Ajil Ditto membocorkan, Ruben beberapa kali terbawa suasana hingga menangis di lokasi.
“Ruben beberapa kali menangis saat pengambilan gambar. Momen itu semakin meyakinkan para pemain bahwa emosi dalam film ini benar-benar akan sampai ke penonton,” kata Ajil.
Tangis sang sutradara itu disebut menjadi penanda bahwa film ini digarap dengan sepenuh hati. Kru dan para pemain pun mengaku merasakan getaran emosional yang sama selama produksi berlangsung.
Di tengah maraknya film genre thriller dan horor, ‘Istimewa’ hadir membawa warna berbeda. Mengangkat tema universal tentang orang tua dan anak, film ini menyasar penonton yang rindu cerita hangat dan relatable.
Dengan gaya bertutur yang sederhana, film ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa hal paling sederhana dalam keluarga yakni memaafkan dan mengasihi, justru menjadi yang paling sulit dan paling penting.

Cerita berpusat pada lima anak penyandang disabilitas: Aldo (Aldi), Bimo (Bambang Ceper), Ken (Ren), Nita (Niatus), dan Mul (Mustofa), yang tinggal bersama di Rumah Istimewa, sebuah tempat yang menjadi rumah sekaligus keluarga bagi mereka. Di sana, mereka dirawat oleh Pak Mahendra yang diperankan Mathias Muchus, sosok ayah penuh kasih, dan Mbak Kinan yang dimainkan Yanni Melwani, perempuan setia yang merawat mereka dengan tulus.
Hidup mereka yang sederhana dan penuh kehangatan berubah ketika Pak Mahendra tiba-tiba harus pergi karena suatu urusan penting. Kelima anak ini kemudian memutuskan melakukan perjalanan penuh makna untuk mencari sosok ayah yang menjadi tempat mereka pulang. Dari sinilah film bergerak pelan tapi mengiris: tentang anak-anak yang belajar mandiri, saling menjaga, dan menemukan arti keluarga di luar hubungan darah.
Yang membuat film ini sangat istimewa adalah cara ia tidak hanya bercerita tentang disabilitas, tetapi juga tentang mimpi, keberanian, persahabatan, dan kemampuan anak-anak ini untuk menentukan perjalanan hidupnya sendiri. Mereka bukan objek yang dikasihani, melainkan subjek yang aktif, lucu, cerdas, dan penuh harapan.
Film ini juga mencatat sejarah sebagai film Indonesia pertama yang menampilkan enam anak penyandang disabilitas sebagai pemeran utama, sekaligus melibatkan puluhan anak disabilitas lainnya dalam proses produksinya. (NVR)
