JAKARTA, AKURATNEWS.co – Amerika Serikatselalu menunjukkan kekuatannya untuk mengintervensi negara-negara yang tidak sefaham atau tak sejalan dengan keinginannya.
Tercatat sederet negara pernah menjadi korban dari intervensi yang dilakukan oleh negara Paman Sam dengan berbagai alasan yang dibuatnya.
Berikut adalah daftar intervensi politik dan militer Amerika Serikat (AS) di berbagai negara. Intervensi ini mencakup upaya penggulingan kekuasaan (kudeta), invasi militer langsung, hingga operasi rahasia intelijen (CIA).
Era Perang Dingin (1947–1991)
Fokus utama pada periode ini adalah membendung pengaruh komunisme (containment policy).
* Iran (1953) – Operasi Ajax: CIA membantu menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh yang terpilih secara demokratis setelah ia menasionalisasi industri minyak. AS kemudian memperkuat kekuasaan otoriter Shah Pahlavi.
* Guatemala (1954) – Operasi PBSUCCESS: Penggulingan Presiden Jacobo Árbenz karena kebijakan reformasi tanahnya dianggap mengancam kepentingan perusahaan AS, United Fruit Company.
* Kuba (1961) – Invasi Teluk Babi: Upaya gagal oleh paramiliter yang dilatih CIA untuk menggulingkan pemerintahan Fidel Castro.
* Vietnam (1955–1975): Intervensi militer besar-besaran untuk mendukung Vietnam Selatan melawan Vietnam Utara yang komunis. Ini menjadi salah satu perang terlama dan paling kontroversial bagi AS.
* Indonesia (1958): Dukungan rahasia AS (melalui CIA) kepada pemberontakan PRRI/Permesta untuk melemahkan pemerintahan Soekarno yang dianggap terlalu dekat dengan blok timur.
* Chile (1973): Keterlibatan dalam kudeta militer yang menggulingkan Presiden sosialis Salvador Allende dan menaikkan diktator Jenderal Augusto Pinochet.
* Grenada (1983) – Operasi Urgent Fury: Invasi militer langsung untuk menggulingkan pemerintahan revolusioner yang dianggap bersekutu dengan Kuba dan Uni Soviet.
* Panama (1989) – Operasi Just Cause: Invasi untuk menangkap pemimpin Panama, Manuel Noriega, atas tuduhan perdagangan narkoba setelah sebelumnya ia merupakan aset CIA.
Era Pasca-Perang Dingin & War on Terror (1991–Sekarang)
Fokus beralih ke isu keamanan global, “demokrasi”, dan terorisme.
9. Irak (1991 & 2003):
* 1991 (Perang Teluk): Mengusir pasukan Irak dari Kuwait.
* 2003 (Invasi Irak): Menggulingkan Saddam Hussein dengan tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal (yang kemudian terbukti tidak ada).
10. Afghanistan (2001–2021): Invasi menyusul serangan 9/11 untuk menumbangkan Taliban dan memburu Al-Qaeda. Menjadi perang terlama dalam sejarah AS sebelum akhirnya mundur pada 2021.
11. Libya (2011): Intervensi militer bersama NATO melalui zona larangan terbang dan serangan udara yang berujung pada jatuhnya Muammar Khadafi.
12. Suriah (2014–Sekarang): Intervensi militer melalui serangan udara dan dukungan kepada kelompok pemberontak tertentu dalam upaya melawan ISIS dan menekan pemerintahan Bashar al-Assad.
13. Yaman (2015–Sekarang): Dukungan logistik dan intelijen kepada koalisi pimpinan Arab Saudi dalam perang saudara melawan kelompok Houthi.
Intervensi Politik Terbaru
* Venezuela (2019–2020): Dukungan politik terbuka dan sanksi ekonomi berat dalam upaya mengakui Juan Guaidó sebagai presiden dan mencoba menggulingkan Nicolas Maduro.
Penyerangan terhadap Venezuela dan Iran pada Januari dan Februari 2026.
Pola Intervensi:
Secara historis, terdapat sekitar 400 intervensi militer yang dilakukan AS sejak tahun 1776, dengan lonjakan signifikan terjadi setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991.
Motifnya beragam, mulai dari pengamanan sumber daya alam (seperti minyak), kepentingan geopolitik, hingga narasi “penyebaran demokrasi”./Ib. Foto: Istimewa.
