JAKARTA, AKURATNEWS.co – Suara itu masih sama, masih terisi nyawa. Meski mikrofon yang digenggam tak lagi berada di atas panggung megah dan sorotan lamou panggung konser, Zul Zivilia tetap menyanyikan lagu-lagunya dengan semangat yang tak padam.

Dalam gelaran Indonesian Prison Products and Arts Festival (IPPA Fest) 2025, Senin (21/4) suara vokalis band Zivilia ini kembali menggema.

Suara itu seperti ia tumpahkan guna meredam rasa kangennya tampil di tengah sebuah konser, sebuah hal yang lama tak ia rasakan lagi.

Kali ini memang bukan untuk ribuan penggemarnya, tapi untuk para penonton ajang pameran hasil karya para warga binaan Lapas, termasuk Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Impas) dan Menteri UMKM yang hadir di acara pembukaan.

Enam tahun sudah Zul mendekam di Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur setelah divonis 18 tahun penjara akibat kasus narkoba yang menjeratnya pada 2019. Tapi, alih-alih terbenam dalam penyesalan, ia memilih jalur berbeda dengan berkarya, berbagi, dan bangkit.

“Saya kangen manggung di depan umum. Biasanya saya hanya menghibur teman-teman di dalam. Hari ini rasanya seperti mimpi bisa tampil lagi,” ucapnya lirih, namun penuh ketulusan usai membawakan lagu terbarunya ‘Jangan Kamu Biar Aku’.

Lagu tersebut bukan sekadar karya biasa. Ia menulisnya dari pengalaman dan perenungan panjang. Bersama penyanyi Gita Youbi, lagu ini menjadi hasil kolaborasi unik antara musisi profesional dan narapidana yang terus diasah lewat program pembinaan seni Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Diproduseri oleh Kartamakala Music, lagu ini mengangkat tema universal tentang beban hidup yang kerap tak ingin dibagi, terutama kepada pasangan.

“Kadang kita nggak sadar, laki-laki itu juga memikul banyak beban. Tapi di rumah, dia harus tetap kuat. Lagu ini tentang itu,” kata Zul sambil tersenyum, sesekali memandangi keluarganya dari kejauhan.

Pertemuan dengan istri dan anak-anaknya di sela acara pun menjadi momen paling menyentuh.

“Bahagia bisa ketemu lagi. Dibawain baju, oleh-oleh. Rasanya… campur aduk. Ini momen yang saya nanti-nantikan terus,” ucapnya.

Ada getar dalam suaranya. Ada luka yang belum sembuh, dan kerinduan yang belum tuntas.

Namun di balik itu semua, Zul tidak tinggal diam. Ia aktif mengajar musik kepada sesama warga binaan, menyebarkan semangat bahwa seni bisa menjadi jalan pemulihan jiwa.

Di balik tembok yang membatasi kebebasan fisik, ia menemukan ruang untuk bertumbuh dan memberi.

“Saya ngajar musik juga di dalam. Di Gunung Sindur saya sudah enam tahun, mungkin sampai bebas di sana. Tapi saya nggak berhenti berkarya,” tuturnya.

Zul Zivilia adalah cermin dari kenyataan bahwa manusia bisa jatuh, tapi juga bisa memilih untuk bangkit. Dari panggung kecil di Lapangan Banteng, suaranya kembali menggema, bukan hanya sebagai musisi, tapi sebagai seseorang yang sedang menebus, bertumbuh, dan perlahan-lahan menyusun kembali hidupnya.

Karena bagi Zul, musik bukan sekadar hiburan, juga penyelamat, jembatan menuju harapan dan panggung adalah rumah yang selalu ia rindukan, seperti bait lagu Aishiteru yang kerap ia nyanyikan:

“Walau raga kita terpisah jauh
namun hati kita selalu dekat
bila kau rindu pejamkan matamu
dan rasakan a a a aku
                              
Kekuatan cinta kita takkan pernah rapuh terhapus ruang dan waktu…”

Semoga Gunung Sindur bisa memberikan pelajaran berarti bagi Zul kelak setelah ia menghirup udara bebas.  (NVR)

By editor2