JAKARTA, AKURATNEWS.co – Setelah sekian lama sunyi, Teater Wahyu Sihombing di Taman Ismail Marzuki akan kembali bergema.

Bukan oleh sorak sorai atau denting tawa, melainkan oleh gemuruh emosi yang mentah, jujur, dan menggugah. Dari tanggal 7 hingga 11 Mei 2025, New Art Collective (NAC) akan mempersembahkan musikal Next to Normal, sebuah drama musikal rock pemenang Pulitzer yang menyayat, tentang keluarga, luka, dan upaya bertahan.

Ini bukan sekadar comeback. Ini adalah pernyataan. Sebuah babak baru untuk NAC, yang menandai kembalinya mereka ke panggung dengan nada yang lebih dalam dan berani.

“Kami tahu ini adalah cerita yang tepat untuk comeback NAC. Pertunjukan ini berani, sangat manusiawi, dan tidak bisa diabaikan, segala hal yang kami yakini seharusnya ada dalam teater,” ujar ujar Aisya Nabila, pendiri, produser, sekaligus direktur kreatif NAC di Jakarta, Senin (21/4).

Dan memang, Next to Normal bukan musikal biasa. Ia menelusuri kehidupan sebuah keluarga yang bergulat dengan penyakit mental, trauma, dan dinamika yang tak sempurna.

Drama musikal ini coba membawa penonton masuk ke dalam ruang-ruang tergelap dari sebuah rumah yang tampak ‘normal’ di permukaan, namun menyimpan retakan yang tak terlihat.

Proses kreatifnya pun tidak konvensional. Dengan jajaran tim multidisipliner, NAC menjadikan pementasan ini sebagai laboratorium eksplorasi emosional dan psikologis.

Muskaan Vatvani, lulusan film dari Fashion Institute of Technology, menyutradarai dengan pendekatan sinematik yang fokus pada atmosfer batin.

Lalu, Moet Naradate, lulusan desain panggung dari University of the Arts London, membangun dunia fisik pertunjukan dengan ketelitian arsitektural dan simbolisme yang mendalam.

Dan Aisya sendiri, lulusan teater musikal dari NYU, menyulam semua elemen menjadi pengalaman yang terasa hidup, bukan hanya dipentaskan.

“Setiap adegan bukan hanya tentang akting, tapi tentang memahami manusia yang mungkin pernah merasa seperti karakter ini,” kata Muskaan.

Proses latihan juga jauh dari kata rutin. Pemeran diajak menyelami sisi psikologis peran mereka melalui diskusi empatik dan riset mendalam tentang kesehatan mental. Tidak ada ruang untuk penyederhanaan, apalagi romanisasi. Next to Normal adalah panggung bagi kenyataan, bukan fantasi.

Christ Kornell, asisten produser yang telah dua dekade berkecimpung di industri hiburan, menyebut produksi ini sebagai “salah satu yang paling jujur” yang pernah ia terlibat di dalamnya.

“Kami tidak sedang membuat cerita yang indah, kami sedang membagikan kebenaran yang kadang tidak nyaman,” ujarnya.

Namun justru di ketidaknyamanan itulah, Next to Normal bersinar. Ia mengajak penonton untuk duduk, menyimak, dan merasa. Ia tak memberikan jawaban mudah, melainkan membuka ruang untuk bertanya dan berdialog. Tentang sakit yang tak terlihat. Tentang cinta yang tak cukup. Tentang keluarga yang rapuh tapi tetap bertahan.

Dengan musikalitas rock yang menggugah dan visual panggung yang inovatif, NAC menjanjikan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi menyentuh, mengganggu, dan mungkin menyembuhkan.

Dan saat tirai ditutup nanti, bukan hanya tepuk tangan yang terdengar. Tapi mungkin, juga keheningan reflektif.

Karena Next to Normal bukan hanya tentang mereka di atas panggung. Ini tentang kita semua—yang pernah merasa patah, dan tetap memilih untuk berjalan. (NVR)

By editor2