JAKARTA, AKURATNEWS.co – Setelah puluhan tahun diduga sebagai jenis diabetes yang berkaitan dengan malnutrisi, diabetes tipe 5 akhirnya secara resmi diakui International Diabetes Federation (IDF) atau Federasi Diabetes Internasional.

Tim dari Christian Medical College (CMC) Vellore bersama Albert Einstein College of Medicine, New York melakukan penelitian selama 8 tahun. Mereka berhasil membuktikan bahwa diabetes tipe 5 memang berbeda dari tipe 1 maupun tipe 2.

“Ini bentuk diabetes yang unik, dan kita harus mengenalinya agar bisa mengobati dengan tepat,” jelas Dr. Nihal Thomas, profesor endokrinologi dari CMC Vellore, dikutip dari laman Times of India.

Diabetes tipe 5 diperkirakan dialami oleh sekitar 25 juta orang di dunia. Namun jumlah ini bisa jauh lebih besar. Populasi yang rentan terhadap kondisi ini banyak ditemukan di kawasan miskin seperti Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Sub-Sahara, wilayah yang juga sering kali minim akses terhadap layanan kesehatan dan diagnosis yang akurat.

“Banyak kasus yang salah, dikira tipe 1 atau tipe 2, karena tidak ada alat diagnosis yang tepat di lapangan,” ujar Dr. Thomas.

Untuk memastikan diagnosis tipe 5, dibutuhkan tes khusus seperti USG pankreas, tes c-peptida (untuk melihat kemampuan tubuh memproduksi insulin), serta pemeriksaan antibodi GAD guna menyingkirkan kemungkinan diabetes tipe 1. Sayangnya, pemeriksaan ini belum umum tersedia di banyak fasilitas kesehatan dasar.

Berbeda dengan tipe 2 yang ditandai resistensi insulin, pada diabetes tipe 5 tubuh justru tidak memproduksi cukup insulin, mirip tipe 1, tapi tanpa komplikasi seperti ketoasidosis. Yang mengejutkan, sekitar 50% pasien diabetes tipe 5 ternyata bisa ditangani hanya dengan obat dan tidak memerlukan suntikan insulin. Namun belum ada panduan baku.

“Sebagian pasien tetap butuh insulin, mungkin ini subtipe dari tipe 5. Ini pertanyaan yang harus dijawab lewat riset,” jelas Dr. Thomas.

Karena diabetes tipe 5 berkaitan erat dengan malnutrisi, pendekatan pengobatannya berbeda. Penderita sering kali berasal dari keluarga miskin dengan pola makan rendah kalori dan protein sejak kecil. Penelitian menunjukkan peningkatan asupan kalori dan protein bisa membantu, meski pasien tetap berada dalam kategori berat badan rendah.

Selain itu, olahraga resistensi juga direkomendasikan, meskipun banyak pasien sudah terbiasa melakukan pekerjaan fisik harian.

“Kita butuh studi klinis lapangan yang lebih banyak untuk tahu pola makan dan aktivitas fisik seperti apa yang paling efektif,” kata Dr. Thomas.

Selain minim riset, ada pula faktor sosial-politik yang ikut mempengaruhi pengakuan diabetes tipe 5.

“Tak semua negara ingin mengakui bahwa malnutrisi masih menjadi masalah nasional,” ujar Dr. Thomas.

Sebutan ‘malnutrition-related diabetes’ sendiri dianggap kurang menarik dan bisa menimbulkan stigma.

“Maka dari itu, pemberian nama baru, yakni Diabetes Tipe 5 diharapkan bisa mendorong minat riset dan perhatian kebijakan. Dukungan pun datang dari komunitas medis internasional, termasuk dari Presiden International Diabetes Federation,” Dr. Peter Schwarz.

Meski belum resmi kembali masuk ke klasifikasi WHO, diabetes tipe 5 kini telah diakui secara global dan tercantum dalam International Classification of Diseases (ICD). Pengakuan ini membuka jalan untuk riset lebih lanjut, serta kebijakan kesehatan yang lebih inklusif untuk kelompok masyarakat termiskin.

“Ini baru permulaan. Dengan pengakuan ini, kita punya peluang untuk mengubah nasib jutaan orang yang selama ini tak terlihat.” kata Dr. Thomas./Agn.

By Editor1